Pasien Alzheimer Disebut Alami Perbaikan Gejala usai Konsumsi Jamur Ajaib
ยทwaktu baca 3 menit

Seorang pasien dengan alzheimer stadium lanjut dilaporkan mengalami perbaikan beberapa gejala setelah mengonsumsi dosis cukup tinggi jamur psilocybin atau yang sering dijuluki magic mushrooms.
Sebelum terlalu jauh menarik kesimpulan, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini hanya berasal dari satu laporan kasus (case report) dan sama sekali belum cukup untuk menyatakan psilocybin dapat menjadi terapi bagi penyakit seperti Alzheimer. Kendati begitu, hasil yang muncul dinilai cukup menarik untuk membuka peluang penelitian lanjutan di masa depan.
Studi yang terbit di jurnal Frontiers in Neuroscience itu membahas kasus seorang perempuan keturunan Jepang-Amerika berusia 80-an tahun yang telah didiagnosis mengidap penyakit Alzheimer selama 10 tahun.
Kondisi pasien telah memasuki tahap lanjut dalam lima tahun terakhir. Menurut peneliti, pasien hanya mampu berbicara dengan kata-kata yang sangat singkat dan mengalami keterbatasan gerak yang cukup berat.
Kondisi awal yang tercatat mencakup inkontinensia urine kronis alias kesulitan menahan buang air kecil, gangguan fungsi eksekutif otak, kesulitan menelan, kesulitan berjalan, luapan emosi yang sangat datar, serta penurunan keterampilan berkomunikasi.
Laporan tersebut tidak dijelaskan secara rinci siapa yang memberikan jamur psilocybin kepada pasien. Peneliti hanya menyebut prosedur dilakukan dalam praktik klinis privat dan tidak melanggar hukum setempat.
Dalam uji coba pertama, pasien diketahui menerima 5 gram jamur jenis enigma, varietas yang dikenal memiliki potensi psilocybin cukup tinggi. Pada fase awal, mengalami keringat berlebih, diduga mengalami peningkatan suhu tubuh, dan memasuki kondisi mirip tidur dalam waktu cukup lama. Efek seperti ini umum ditemukan pada konsumsi dosis tinggi yang di kalangan pengguna psikedelik kerap disebut sebagai heroic dose.
Namun, yang menarik justru terjadi setelah efek akut tersebut mereda. Selama sekitar satu bulan setelah pemberian dosis pertama, tim melaporkan adanya perbaikan yang cukup signifikan pada beberapa gejala pasien.
Pasien mengalami peningkatan kemampuan menahan buang air kecil, mobilitas yang lebih baik, respons emosional yang lebih aktif, serta munculnya kembali komunikasi spontan. Melihat perkembangan tersebut, pasien kemudian menerima dosis kedua dengan dosis lebih rendah, yakni 3 gram.
Pada sesi kedua ini, peneliti mencatat perubahan yang cukup drastis. Pasien menunjukkan kemampuan verbal yang lebih ekspresif, ekspresi wajah meningkat, spontan melontarkan humor, munculnya gambaran memori autobiografis bernuansa emosional, hingga peningkatan keterampilan berjalan.
Meski ada perbaikan gejala, peneliti menekankan bahwa temuan ini belum cukup untuk menyimpulkan banyak hal tentang kemanjuran jamur ajaib. Selama ini, sejumlah penelitian memang mulai mengeksplorasi penggunaan psilocybin pada pasien demensia, tetapi sebagian besar fokusnya adalah mengatasi kecemasan dan depresi yang sering menyertai penyakit tersebut.
Secara biologis, metabolit aktif psilocybin yang disebut psilocin bekerja melalui modulasi reseptor serotonin 5-HT2A. Mekanisme ini diduga dapat meningkatkan plastisitas saraf, mengurangi peradangan, dan memperbaiki beberapa fungsi kognitif seperti kreativitas, fleksibilitas berpikir, hingga kemampuan mengenali ekspresi emosi.
Beberapa studi sebelumnya juga menunjukkan potensi psilocybin dalam membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi pada pasien Alzheimer. Namun untuk penelitian ini, hubungan sebab-akibat belum bisa dipastikan. Tim peneliti menegaskan bahwa hasil ini tidak boleh diartikan sebagai reversal penyakit Alzheimer.
Sebaliknya, temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa pada kondisi neurodegeneratif stadium lanjut, sebagian kapasitas fungsi otak sebenarnya masih tersisa dan mungkin dapat diakses sementara melalui kondisi neuromodulasi tertentu.
Menurut peneliti, kapasitas fungsional yang tersisa pada Alzheimer stadium lanjut mungkin masih ada dan dapat muncul kembali secara sementara setelah jaringan otak dimodulasi oleh psilocybin. Karena itu, mereka menilai dibutuhkan penelitian yang lebih sistematis dan berskala besar sebelum menarik kesimpulan bahwa jamur ajaib dapat dimanfaatkan untuk mengobati Alzheimer.
