Konten dari Pengguna

Pupuk Berteknologi Nano: Solusi Peningkatan Hasil Produksi Pangan Indonesia

Habib Hasan Amimy

Habib Hasan Amimy

Mahasiswa Pascasarjana Bioteknologi Universitas Andalas

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Habib Hasan Amimy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pemberian pupuk. Foto: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemberian pupuk. Foto: Pixabay.com

Indonesia merupakan negara agraris yang mana sebagian besar penduduk berprofesi dan menggantungkan hidupnya dari hasil sawah dan ladang sebagai petani.

Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia masih melakukan impor bahan pangan dalam jumlah yang cukup banyak. Tahun 2018 Indonesia berada pada posisi kedua dunia sebagai importir beras. Tidak hanya itu, pada tahun 2020 sebanyak 86% kebutuhan kedelai dalam negeri berasal dari hasil impor. Cukup ironis, bukan? Mengingat tahu dan tempe menjadi salah satu makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat menengah kebawah. Jika hal ini masih dibiarkan, Indonesia pada tahun-tahun berikutnya dapat terjatuh dalam krisis pangan. Hal ini juga diperparah dengan kondisi pandemi dan pemanasan global yang secara tidak langsung memengaruhi produksi tanaman pangan. Pemerintah diharapkan dapat mencari solusi jitu mengenai masalah ini.

Pemerintah memiliki beberapa rencana untuk menanggulangi hal tersebut. Memadukan potensi lahan dengan teknologi merupakan salah satu solusi dari pemerintah dengan harapan dapat meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan petani. Metode yang akan dilakukan seperti, mengubah sistem subsidi pupuk, penggunaan pupuk organik, dan pembangunan Food Estate. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada bulan September 2020 lalu memiliki metode lain dalam mencegah terjadinya krisis ini. Strategi Bappenas berupa, meningkatkan penambahan nutrisi dan meningkatkan ketersediaan bahan pangan. Kedua cara tersebut didukung oleh peningkatan sumber daya manusia untuk meningkatkan produktifitas pertanian dan kemudahan akses pasar, serta peningkatan sumber daya alam pada sektor pertanian.

Kedua instansi tersebut memiliki cara penanggulangan yang relatif sama. Metode yang dapat kita garis bawahi yaitu pemanfaatan teknologi untuk peningkatan produksi dan penambahan nutrisi pangan. Salah satu metode yang dapat dimanfaatkan yaitu nanoteknologi. Jenis teknologi yang dapat digunakan yaitu pengubahan suatu bahan menjadi nanopartikel. Nanopartikel merupakan suatu partikel atau bahan yang memiliki ukurun antara 1-100 nanometer (nm). Metode ini sangat mungkin untuk dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk organik maupun pupuk anorganik.

Pemilihan pupuk menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, yaitu jumlah nutrisi yang diterima oleh tanaman. Tanaman hanya mampu menyerap 30-35% nitrogen, 18-20% fosfat, dan 35-40% kalium. Data ini menunjukkan lebih dari setengah makronutrien yang terdapat di dalam pupuk tidak dapat diserap oleh tanaman. Pupuk yang beredar saat ini, baik itu pupuk organik maupun anoganik tidak mampu untuk diserap secara maksimal oleh tanaman. Penyerapan ini menjadi tidak optimal karena adanya penguapan, perubahan komposisi senyawa, dan ukuran partikel pada pupuk, sehingga menyulitkan akar tanaman untuk melakukan penyerapan. Hal ini membuat konsumsi pupuk menjadi tidak efisien, telalu banyak pupuk yang terbuang sehingga dapat berpengaruh pada menurunnya hasil produksi tanaman pertanian. Oleh karena itu diperlukan pembuatan pupuk berteknologi nano untuk memaksimalkan penyerapan makronutrien.

Pembuatan pupuk berteknologi nano dapat dilakukan dengan menggunakan metode fisik maupun kimia. Metode fisik yang digunakan dapat dilakukan dengan menghasilkan pupuk kompos sampai berukuran nano (nano powder). Metode kimia juga dapat dilakukan dengan menggunakan proses ekstaksi makronutien dari bahan organik, kemudian diubah menjadi ukuran nano. Masing-masing makronutrien yang diperoleh dapat ditakar dan diformulasikan sesuai dengan kebutuhan tiap tanaman, metode tersebut membuka peluang untuk menciptakan pupuk spesifik untuk tiap tanaman. Selain kedua metode tersebut, hingga saat ini penelitian terkait pupuk berteknologi nano masih terus dikembangkan. Tujuan yang ingin dicapai yaitu peningkatan efektivitas dan efisiensi penggunaan pupuk sampai ke titik paling maksimal. Pupuk berteknologi nano yang telah ada saat ini dapat meningkatkan efisiensi pemupukan hingga 70%. Hasil ini dapat membuktikan bahwa pemanfaatan teknologi nano berdampak positif, sehingga mampu untuk menekan biaya produksi serta dapat meningkatkan hasil panen yang diperoleh dengan cukup signifikan.

Metode pembuatan pupuk berteknologi nano ini dapat diinisiasi oleh pemerintah. Proses pembuatannya dapat dilakukan dalam skala industri, sehingga dapat diproduksi secara massal dan dapat menggantikan pupuk subsidi yang beredar selama ini. Pupuk ini juga diharapkan dapat menjadi komoditas ekspor yang cukup menjanjikan. Hal paling utama, teknologi tersebut dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produksi pangan, sehingga Indonesia dapat terhindar dari bencana krisis pangan yang akan datang.