FBD 66 Hadirkan SPEKTRA: Bermain, Belajar, dan Bertumbuh di SDN 4 Babadan

Mahasiswa S-1 Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari HABIBA RAMADANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan di tingkat sekolah dasar bukan hanya tentang membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, ini adalah masa krusial untuk membangun karakter, menguatkan identitas, dan menumbuhkan keterampilan berbahasa sebagai fondasi utama kehidupan sosial dan intelektual siswa/i. Dari kesadaran inilah, program kerja SPEKTRA (Sekolah, Peran, Karakter, dan Bahasa) lahir sebagai wujud nyata kegiatan Kuliah Kerja Nyata yang ingin memberikan kontribusi lebih dari sekadar mengulang pola lama. SPEKTRA hadir membawa warna baru dalam dunia pendidikan dengan pendekatan yang menyenangkan, kolaboratif, dan berorientasi pada nilai.
Program kerja ini dirancang sejalan dengan tema besar FBD KOMPAK 2025, yakni Kolaborasi Mahasiswa untuk Kontribusi Berdampak (KOMPAK). Secara khusus, SPEKTRA berakar kuat pada sub-tema kedua: Literasi dan Edukasi Sosial. Melalui rangkaian kegiatan yang menyentuh aspek bahasa, pembentukan peran, nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah dasar, kegiatan relaksasi dan mindfulness, serta edukasi anti bullying, SPEKTRA tidak hanya menjadi program kerja tetapi juga ruang belajar bersama bagi siswa dan mahasiswa yang secara aktif terlibat.

Kegiatan dalam program kerja SPEKTRA dirancang dengan pendekatan yang inovatif dan penuh keceriaan. Salah satu metode unggulan yang digunakan adalah metode post to post, di mana setiap siswa/i mobilisasi dari satu post ke post lainnya untuk mengikuti rangkaian materi edukatif yang beragam di setiap post-nya. Setiap post tidak hanya memperluas wawasan anak, tetapi juga memperkuat karakter, empati, serta keterampilan sosial yang mereka miliki.
Di post pertama, siswa/i dikenalkan pada materi "Stop Bullying" yang bertujuan untuk memberikan pemahaman dari definisi bullying dengan bahasa yang mudah dipahami dan menyertakan contoh perilaku yang termasuk dalam bullying serta mengajak untuk belajar bagaimana menjadi teman yang baik, menghargai perbedaan, dan tidak menyakiti perasaan atau tubuh teman. Di post kedua, siswa/i diajak untuk menyelami dunia “Relaksasi dan Mindfulness” melalui latihan pernapasan dan membuat kertas lipat yang berbentuk kodok untuk melatih mindfulness.
Memasuki post ketiga, kegiatan berfokus pada “Nilai-nilai Karakter” seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat. Siswa/i tidak hanya diajak memahami konsep karakter, tetapi juga berlatih menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari. Kegiatan seperti permainan kelompok dan diskusi sederhana menjadi metode utama yang digunakan dalam menyampaikan materi. Lalu di post keempat, mereka diajak berimajinasi dalam sesi "Mengenal Profesi" dengan mencoba mengenal profesi dan peran di sekitar agar siswa/i bisa dapat lebih menghargai dan memahami pentingnya kontribusi setiap profesi yang ada di masyarakat.
Terakhir, di post kelima, siswa/i menikmati sesi “Edukasi Bahasa Inggris” yang dikemas secara menyenangkan melalui lagu, booklet, dan berbagai game interaktif. Mereka diajak berani mencoba, berlatih pelafalan, serta mengenal kosa kata sederhana dalam suasana yang cair dan penuh tawa.
Program kerja ini menjadi istimewa karena seluruh materi disampaikan melalui permainan edukatif dan aktivitas kelompok yang membuat proses belajar terasa seperti bermain. Keceriaan dan antusiasme siswa/i terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Bahkan menurut Bapak Bambang Sudibyo, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SDN 4 Babadan, SPEKTRA membawa nuansa baru yang sangat disukai siswa/i. “Siswa-siswi terlihat sangat senang. Mereka belajar dengan cara yang tidak membosankan, bahkan meminta agar kegiatan ini bisa dilakukan terus-menerus,” ujarnya.
Dengan menambahkan aspek literasi dan ekspresi kreatif sebagai bagian dari SPEKTRA, program kerja ini tidak hanya mengajarkan siswa/i kemampuan dasar bahasa, tetapi juga melatih untuk berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Para mahasiswa tidak hanya berkontribusi sebagai penanggung jawab post dan penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan kolaboratif dalam membangun ruang belajar yang inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan ini berhasil membuka ruang dialog yang membangun antara siswa/i dan mahasiswa, sekaligus memperluas pengaruh program kerja sebagai model pendidikan berbasis komunitas yang mampu menciptakan kontribusi nyata dalam dunia pendidikan dasar.
