Konten dari Pengguna

Mengapa Masyarakat Media Sosial Memanfaatkan Kumpulan Foto AI Demi Ketenaran

habilibnu811

habilibnu811

Mahasiswa (Pendidikan Bahasa Indonesia)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari habilibnu811 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar merupakan salah satu jenis media yang berbentuk lukisan maupun media pendukung. Gambar juga pada umumnya merupakan sebuah ilustrasi imajinasi manusia yang dituangkan kedalam bentuk sebuah goresan dan ada juga berupa momen yang ditangkap menggunakan sebuah alat digital berupa kamera, telepon pintar (smartphone). Menurut Sudarma, I Komang (2014:2) menjelaskan bahwa foto adalah sebuah media yang bisa dijadikan sebagai alat komunikasi, dengan cara menyampaikan pesan atau ide kepada orang lain. Fotografi merupakan suatu media yang dapat mengabadikan suatu kejadian atau peristiwa penting yang mungkin kedepannya kita akan lupa. Sehingga dengan adanya kemudahan teknologi pada saat ini maka segala aktivitas umat manusia dapat diabadikan melalui sebuah gambar sebagai bentuk dokumentasi maupun sebuah sejarah, bahwasanya gambar tersebut memiliki sebuah rangkaian peristiwa yang pernah terjadi.

Di era abad ke-21 tentunya segala kepentingan umat manusia yang ada di muka bumi ini tidak terlepas dari namanya bantuan teknologi. Tidak dipungkiri dengan adanya bantuan teknologi segala aktivitas umat manusia dapat dilakukan dengan mudah, salah satu teknologi yang mempermudahkan kehidupan manusia adalah media sosial. Media sosial merupakan salah satu kecangihan teknologi pada saat ini, dengan adanya media sosial maka umat manusia dapat mengetahui segala aktivitas yang ada dimuka bumi ini. Menurut Nasrullah (2016) media sosial merupakan medium di internet yang memungkinkan penggunanya mempresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, saling berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lainnya, dan membentuk ikatan sosial secara virtual. Pengertian ini ditegaskan oleh Van Dijk dalam Nasrullah (2016) yang mengatakan media sosial sebagai platform media yang fokus pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Sehingga media sosial juga digunakan sebagai sarana pengunggahan segala aktivitas masyarakat yang menggunakannya. Termasuk juga unggahan maupun postingan dengan memanfaatkan kecanggihan kecerdasan buatan.

Tidak dipungkiri seluruh unggahan yang ada pada saat ini hampir mempengaruhi sebagian pengguna media sosial. Salah satu unggahan yang ada di media sosial adalah berupa postingan foto dengan kata-kata ‘Mengapa gambar ini tidak memiliki jutaan pengemar seperti Mesi dan Ronaldo’, ‘Kamu tidak akan menyesal dan sia-sia menyukai foto ini’, ‘Kamu tidak akan menyesal menyukai foto’ dan lain sebagainya. Penggalan kalimat tersebut merupakan ungkapan beberapa akun media sosial yang mempengaruhi masyarakat media sosial lainnya untuk bersimpati mengenai unggahan postingan tersebut.

Ibnu Habil

Hal ini didasari oleh penulis sendiri dengan maksud maupun tujuan untuk mengamati beberapa akun yang mengunggah dokumentasi berupa foto, adapun tempat yang dipilih oleh penulis seperti Facebook, Twitter (saat ini berubah nama menjadi ‘X’), dan Instagram serta mengangkat fakta maupun fenomena yang ada pada unggahan foto di media sosial. Namun yang menjadi permasalahan dari ungggahan postingan tersebut adalah banyaknya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan memanfaatkan kecangihan buatan dengan membawa hal-hal yang berbau dengan agama, sehingga banyak masyarakat media sosial yang berumur 35 tahun ke atas berkomentar mengenai ketakjuban dari gambar tersebut dan merasa bahwa gambar tersebut mengandung unsur simpati dan mengundang banyak orang menyukai (like) akan unggahan postingan tersebut sebagai rasa takjub. Tidak banyak juga pemuda dan pemudi pengguna media sosial merasa kesal dengan unggahan postingan tersebut.

Banyak oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan momen tersebut sebagai media sumber penghasilan uang dengan membawa nama agama serta simpati masyarakat media sosial, mengakibatkan banyak mengundang pancingan amarah pemuda maupun pemudi media sosial yang mengambil momen tersebut menjadi sebuah meme (ide pikiran) dan dijadikan sebagai bahan lelucon. Namun hal tersebut tidak menjadikan sebuah pukulan bagi oknum tidak bertanggung jawab, malah karena hal tersebut pula menjadikan mereka semakin memanfaatkan hal ini kembali dan terus mencari masyarakat media sosial yang berumur 35 tahun keatas sebagai incaran mangsa mereka dalam meraih popularitas.