Di Balik "Healing": Mengapa Anak Muda Perlu Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Institusi Pendidikan : Universitas pamulang S1 Teknik Elektro Profesi :Maintenance engeneering electrikal diperusahaan manufaktur cosmetic facetology
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Habing Rafli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Healing bukan soal pergi ketempat jauh,tapi tentang memberi ruang untuk diri sendiri agar bisa pulih,menerima, dan terus melangkah.

Di Balik Tren "Healing": Mengapa Anak Muda Juga Perlu Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
Di era media sosial, istilah healing menjadi bagian dari gaya hidup yang semakin populer. Banyak orang menganggap bahwa healing identik dengan liburan ke pantai, mendaki gunung, atau mengunjungi tempat-tempat estetik untuk menghilangkan penat. Namun, apakah benar proses penyembuhan diri hanya bisa dilakukan dengan bepergian?
Faktanya, tidak semua orang memiliki waktu maupun kondisi finansial untuk melakukan perjalanan setiap kali merasa lelah. Akibatnya, banyak anak muda justru merasa semakin tertekan karena membandingkan hidupnya dengan unggahan orang lain di media sosial. Mereka merasa belum "healing" jika belum memiliki foto-foto indah yang layak dibagikan.
Padahal, makna healing jauh lebih luas daripada sekadar berlibur. Healing adalah proses mengenali emosi, menerima keadaan, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat tanpa merasa bersalah. Hal-hal sederhana seperti tidur yang cukup, berbicara dengan orang yang dipercaya, membaca buku, beribadah, berolahraga ringan, atau menikmati secangkir teh di sore hari juga dapat menjadi bentuk healing yang nyata.
Tekanan hidup yang dihadapi generasi muda saat ini tidaklah sedikit. Tuntutan untuk berprestasi, memiliki karier yang baik, tampil sempurna di media sosial, hingga memenuhi ekspektasi keluarga sering kali membuat seseorang lupa bahwa dirinya juga membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak.
Di sisi lain, media sosial memiliki dua sisi yang berbeda. Teknologi memang memudahkan kita memperoleh informasi dan hiburan, tetapi penggunaan yang berlebihan juga dapat memicu rasa cemas, rendah diri, bahkan kelelahan mental akibat terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Oleh karena itu, membatasi waktu penggunaan media sosial sesekali dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar bagi kesehatan mental.
Belajar berdamai dengan diri sendiri bukan berarti menyerah pada keadaan. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk keberanian untuk mengakui bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Tidak semua impian harus tercapai di usia tertentu, dan tidak semua kegagalan berarti akhir dari segalanya.
Pada akhirnya, healing bukan tentang sejauh mana kita pergi, melainkan seberapa mampu kita kembali mengenal diri sendiri. Ketika seseorang mampu menerima kekurangan, mensyukuri proses, dan tetap melangkah meski perlahan, di situlah proses penyembuhan yang sesungguhnya dimulai.
Generasi muda perlu memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari tempat yang jauh atau barang yang mahal. Terkadang, kebahagiaan hadir ketika kita mampu berkata kepada diri sendiri, "Aku sudah berusaha sebaik mungkin, dan itu sudah cukup." Kesadaran sederhana inilah yang dapat membantu kita menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh makna.
