Konten dari Pengguna

Di Balik Ramainya Pantai Drini: Nelayan Menggantungkan Hidup pada Ombak Selatan

hadi fauzan
seorang mahasiswa ilmu komunimasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
11 Januari 2026 5:56 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Di Balik Ramainya Pantai Drini: Nelayan Menggantungkan Hidup pada Ombak Selatan
Subuh Drini: Sutrisno lawan ombak demi ikan. Wisata boom, tapi laut tetap tulang punggung nelayan Gunungkidul. Cuaca ganas & harapan keluarga.
hadi fauzan
Tulisan dari hadi fauzan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Gunungkidul Pantai Drini yang terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, selama ini dikenal sebagai primadona wisata pesisir selatan. Pasir putih yang halus, laut berwarna biru jernih, serta deretan warung sederhana di bawah pohon kelapa menjadikan pantai ini ramai dikunjungi wisatawan.
ADVERTISEMENT
Namun, di balik ramainya pengunjung dan keindahan alam yang ditawarkan, Pantai Drini juga menyimpan cerita lain. Di kawasan ini, para nelayan tradisional menggantungkan hidup pada laut Selatan yang terkenal keras dan sulit diprediksi.
Saat kebanyakan orang masih terlelap, nelayan Pantai Drini justru telah memulai aktivitasnya sejak pukul 04.00 WIB. Dengan penerangan seadanya, Sutrisno (45) terlihat sibuk menyiapkan perahu kayu bermesin kecil sebelum melaut.
“Kami berangkat pagi karena biasanya ikan lebih mudah didapat,” kata Sutrisno di sela persiapannya.
Pengalamannya selama lebih dari satu dekade membuat ia paham betul karakter laut Selatan. Meski tampak menawan, laut Drini menyimpan risiko besar. “Indah dilihat, tapi berbahaya kalau lengah,” ujarnya.
keramaian wisatawan di pantai Drini, (sumber: Hadi Fauzan)
Sebagai nelayan tradisional, Sutrisno mengandalkan peralatan sederhana serta pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Ia membaca tanda-tanda alam dari arah angin, perubahan warna langit, hingga tinggi
ADVERTISEMENT
Kondisi cuaca menjadi faktor utama penentu apakah nelayan bisa melaut atau tidak. Ombak besar dan angin kencang sering kali memaksa mereka mengurungkan niat mencari ikan.
“Kalau laut tidak bersahabat, kami memilih berhenti. Soal hasil bisa menyusul, yang penting nyawa aman,” tegas Sutrisno.
Pantai Drini memiliki ciri khas berupa pulau karang kecil yang membelah pantai menjadi dua teluk. Wilayah ini menyimpan potensi ikan yang melimpah, namun juga penuh risiko. Kesalahan membaca kondisi laut dapat berakibat fatal.
“Kami belajar memahami laut sejak kecil dari orang tua. Dari situ kami tahu kapan harus berangkat dan kapan harus menepi,” katanya.
Pertumbuhan pariwisata di Pantai Drini membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat setempat. Sejumlah nelayan kini memiliki pekerjaan tambahan, seperti mengemudikan perahu wisata atau membuka usaha kecil. Meski begitu, hasil tangkapan laut tetap menjadi sumber penghasilan utama.
keindahan pantai Drini, (sumber: Hadi Fauzan)
Sri Wahyuni (42), pedagang olahan hasil laut di sekitar pantai, merasakan langsung dampak naik-turunnya kunjungan wisata. “Penghasilan kami sangat bergantung pada cuaca dan jumlah wisatawan. Saat laut bergelora dan pantai sepi, pendapatan ikut menurun,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Bagi warga Pantai Drini, laut bukan sekadar latar belakang wisata, melainkan penopang utama kehidupan sehari-hari.
Bagi wisatawan, Pantai Drini mungkin hanya destinasi singkat untuk melepas penat. Namun bagi masyarakat lokal, pantai ini adalah ruang hidup yang menentukan keberlangsungan keluarga.
Setiap perahu yang kembali ke daratan tidak hanya membawa ikan, tetapi juga harapan dan doa agar esok hari laut kembali bersahabat.
“Saya cuma ingin bisa terus melaut dengan aman dan mencukupi kebutuhan keluarga,” tutur Sutrisno.
Keindahan Pantai Drini sejatinya tidak hanya terletak pada lanskap alamnya. Keindahan itu juga tercermin dari keteguhan para nelayan yang setiap hari berdampingan dengan ombak, bertahan hidup di balik gemerlap industri pariwisata.
Hadi Fauzan Juandi Al Banjari, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, prodi Ilmu Komunikasi
ADVERTISEMENT