Konten dari Pengguna
Sebuah Oase Tersembunyi Mahasiswa Jogja Lepas Stres
11 Januari 2026 6:01 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Sebuah Oase Tersembunyi Mahasiswa Jogja Lepas Stres
Wisata Wohkudu Gunungkidul: Rp500 juta ekonomi desa dari mahasiswa, tapi 2 ton sampah/minggu. Ancaman longsor & overtourism di spot tersembunyi Jogja.hadi fauzan
Tulisan dari hadi fauzan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Tidak semua mahasiswa Jogja datang ke Pantai Wohkudu untuk berfoto atau camping semalaman. Ada pula yang sekadar melangkah pelan di setapak kaki 15 menit itu, merasakan angin laut menyapa tebing curam, mendengar debur ombak halus di pasir putih, dan menarik napas panjang. Suasana tenang itu seolah berbisik bahwa ada tempat untuk jeda dari tugas menumpuk dan deadline kuliah.
ADVERTISEMENT
Saat pagi berganti siang atau senja menjelang malam, pantai kecil di Girikarto, Semanu, Gunungkidul, perlahan dipenuhi anak muda. Tiket Rp10.000 terasa murah untuk akses privasi, jauh dari keramaian Parangtritis. Tanpa perlu undangan, Wohkudu kembali memanggil. Mahasiswa sudah paham ritmenya tempat rahasia yang viral di TikTok, tapi tetap terasa milik sendiri.
Tradisi singgah ke Wohkudu telah mengakar di kalangan mahasiswa UGM dan UNY. Ia lebih dari pantai biasa menjadi ruang persinggahan untuk kurangi beban pikiran. Mereka datang beramai-ramai dengan teman, atau sendirian, hanya untuk duduk di pasir, tatap laut, dan biarkan stres menguap perlahan.
Bagi sebagian, Wohkudu menyimpan cerita pribadi. Nahdah (18), mahasiswi, sudah akrab dengan spot ini. Setiap akhir pekan, ia datang bersama sahabat. “Lebih tenang dari pantai ramai, seperti pelarian dari rutinitas,” tuturnya pelan sambil memandang horizon. Bukan soal pamer cerita di media sosial, melainkan kebiasaan melepaskan tekanan yang melekat.
ADVERTISEMENT
Setiap kunjungan terasa baru. Pasir putih berkilau beda di bawah matahari senja, bintang malam semakin cerah untuk camping, dan pengunjung bawa cerita masing-masing. Bagi Ridho (20), mahasiswa yang sudah tiga kali bermalam, langit malam jadi magnet. “Bintang jelas sekali, stres hilang seketika,” katanya sambil nyalakan api unggun kecil.
Sepanjang tebing, warga lokal seperti Darno (50) menyambut dengan jalur aman dan minuman segar. Warung makanan laut bermunculan, pedagang tersenyum di hari libur. Pengunjung berjejal di jalur sempit namun tidak tergesa ada yang camping, ada pula yang sekadar duduk sambil berbincang. Di tengara keramaian itu, tercipta kehangatan yang khas, meski sampah plastik sesekali mengganggu dan hujan lumpurkan setapak.
Bagi warga desa, Wohkudu juga ruang jeda ekonomi camping mahasiswa angkat penjualan, tapi alam tebing dan karang mulai lelah. Marni (45), penjual ikan, bilang, “Libur ramai, hujan sepi, tapi kami jaga agar tetap lestari.”
ADVERTISEMENT
Saat malam larut dan ombak reda, Wohkudu perlahan meredup. Namun maknanya tertinggal. Ia menjadi penanda bagi mahasiswa Jogja bahwa ketenangan bukan hanya mimpi, tapi ruang nyata untuk persiapkan diri menghadapi hari-hari panjang bersama alam, sebelum overtourism ubah semuanya.

