Konten dari Pengguna

Eskalasi Perang Israel-Iran, Selat Hormuz, dan Reposisi Strategis ASEAN

Hadi Pradnyana

Hadi Pradnyana

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Warmadewa

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hadi Pradnyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

An Iranian Saeqeh missile is launched during war games on April 25, 2010 in southern Iran, near the Strait of Hormuz, the narrow strategically located waterway through which 40 percent of world's seaborne oil supplies pass. Iran's elite Revolutionary Guards fired five missiles as part of an ongoing three-day military drill, with Fars news agency naming two of those tested as the Noor (Light) and Nasr (Victory) missiles. It said a third, having a range of over 300 kilometres was also fired, but did not name it. The Islamic republic's missile programme has raised concerns in the West which is already at loggerheads with Tehran over its controversial nuclear project. AFP PHOTO/FARS NEWS/MEHDI MARIZAD (Photo credit should read MEHDI MARIZAD/AFP via Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
An Iranian Saeqeh missile is launched during war games on April 25, 2010 in southern Iran, near the Strait of Hormuz, the narrow strategically located waterway through which 40 percent of world's seaborne oil supplies pass. Iran's elite Revolutionary Guards fired five missiles as part of an ongoing three-day military drill, with Fars news agency naming two of those tested as the Noor (Light) and Nasr (Victory) missiles. It said a third, having a range of over 300 kilometres was also fired, but did not name it. The Islamic republic's missile programme has raised concerns in the West which is already at loggerheads with Tehran over its controversial nuclear project. AFP PHOTO/FARS NEWS/MEHDI MARIZAD (Photo credit should read MEHDI MARIZAD/AFP via Getty Images)

Pendahuluan

Konflik antara Israel dan Iran kembali membara, dan kali ini ia hadir dengan wajah yang lebih terbuka, lebih panas, dan jauh lebih berbahaya. Ketika Amerika Serikat meluncurkan serangan langsung ke fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Fordow dan Isfahan beberapa hari lalu, dunia menyaksikan bahwa perang tidak lagi berlangsung dalam ranah perang proksi. Operasi yang disebut Midnight Hummer ini adalah keterlibatan terang-terangan dari kekuatan militer terbesar di dunia, dan dampaknya menjalar melintasi benua. Salah satu ancaman terbesar yang kini menghantui dunia adalah sikap Iran untuk mempertimbangkan penutupan Selat Hormuz.

Ancaman itu bukan omong kosong. Iran memiliki kemampuan militer untuk mengganggu arus pelayaran di selat strategis tersebut, tempat di mana lebih dari seperlima pasokan minyak dunia melintas setiap harinya. Dalam situasi normal sekalipun, kawasan ini sudah cukup sensitif. Kini, dengan perang yang membara dan tekanan geopolitik yang meningkat, Selat Hormuz menjadi titik genting global. Dan siapa pun yang merasa jauh dari konflik ini, harus mulai menyadari bahwa dalam sistem global yang saling terhubung, tidak ada yang benar-benar jauh.

Asia Tenggara mungkin tampak berada di pinggiran krisis ini. Tetapi nyatanya, kawasan ini berada dalam lintasan langsung dari guncangan ekonomi dan strategis yang dapat ditimbulkan. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Teluk, peran kawasan sebagai jalur utama perdagangan maritim dunia, dan posisi politik negara-negara ASEAN yang cenderung moderat namun beragam membuat dampak dari perang ini terasa nyata, bahkan sebelum satu peluru pun jatuh di tanah Asia Tenggara.

Ancaman Penutupan Selat Hormuz bagi Asia Tenggara

An infographic titled "Strait of Hormuz" created in Ankara, Turkiye on June 17, 2025. Connects oil and LNG production in the Middle East to global markets via the Arabian Sea and the Indian Ocean. (Photo by Murat Usubali/Anadolu via Getty Images)

Harga minyak global sudah menunjukkan tanda-tanda lonjakan. Pasar energi terguncang, dan negara-negara pengimpor seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina bersiap menghadapi tekanan fiskal yang tidak ringan. Dalam kondisi ekonomi pascapandemi yang belum sepenuhnya pulih, kombinasi antara harga BBM yang melambung, pelemahan nilai tukar, dan potensi inflasi bisa menjadi tantangan politik domestik yang serius.

Singapura yang selama ini dikenal sebagai simpul energi kawasan pun tidak kebal. Gangguan terhadap distribusi LNG atau minyak mentah dari Teluk bisa berdampak besar pada industri, logistik, dan rantai pasok regional. Negara-negara Asia Tenggara menghadapi realitas bahwa ketergantungan pada energi impor dari Timur Tengah merupakan titik lemah struktural yang selama ini terabaikan dalam kalkulasi strategis jangka panjang.

Ketika Iran mengancam menutup Hormuz, yang sedang diguncang bukan hanya arus perdagangan minyak. Seluruh kepercayaan terhadap keamanan maritim internasional berada dalam ujian. Jika jalur pelayaran global bisa dihentikan oleh krisis regional, maka siapa pun yang mengandalkan arus barang lewat laut harus mulai merumuskan ulang peta risiko mereka. Bagi Asia Tenggara, ini menjadi pertanyaan besar tentang kesiapan menghadapi gejolak yang tidak lahir dari dalam, tetapi berdampak dalam sekali.

Bagaimana Posisi ASEAN?

Krisis ini juga memperlihatkan bagaimana lanskap kekuatan global semakin terpolarisasi. Amerika Serikat dengan tegas mendukung Israel, baik secara militer maupun politik. Rusia tanpa ragu berpihak pada Iran, memberikan dukungan diplomatik dan kemungkinan juga logistik militer. Cina memilih sikap lebih hati-hati, tetapi tetap mengkritik keterlibatan militer Amerika dan mengingatkan akan bahaya gangguan terhadap stabilitas kawasan.

Lalu, bagaimana posisi negara-negara ASEAN? Terpecah. Mereka merespons dengan suara yang tidak seragam. Indonesia, Malaysia, dan Brunei menyampaikan kecaman keras terhadap agresi Israel dan keterlibatan Amerika, sekaligus memperkuat posisi politik mereka yang sejak lama dekat dengan solidaritas terhadap Palestina. Di sisi lain, Singapura, Vietnam, dan Filipina memilih jalur diplomasi yang lebih pragmatis, menekankan pentingnya stabilitas kawasan dan perlindungan terhadap jalur perdagangan internasional.

Polarisasi ini menantang konsep persatuan ASEAN yang selama ini berlandaskan prinsip non-intervensi dan konsensus. Dalam situasi yang menuntut kejelasan posisi, prinsip tersebut mulai terasa rapuh. Ketika perang di luar kawasan menimbulkan tekanan nyata terhadap ekonomi dan diplomasi, maka keengganan untuk menyatakan posisi tegas bukan lagi bentuk kehati-hatian, tetapi bisa dibaca sebagai kelemahan kolektif.

Mengapa dapat Menggangu Stabilitas Politik, Ekonomi, dan Keamanan Kawasan?

Konflik di Teluk juga membuka kembali kecemasan terhadap keamanan maritim di Asia Tenggara. Jika Selat Hormuz dapat menjadi target gangguan militer, apakah Selat Malaka atau Laut Cina Selatan juga benar-benar aman? Beberapa negara sudah mulai meningkatkan patroli dan memperkuat kerja sama keamanan laut. Ketegangan di kawasan pun berpotensi meningkat jika kekuatan besar seperti Amerika Serikat atau Cina memanfaatkan momentum ini untuk memperluas pengaruhnya di jalur pelayaran Asia.

Amerika Serikat mungkin akan mengaktifkan kembali inisiatif keamanannya di Indo-Pasifik, melalui peningkatan latihan militer bersama, penguatan kehadiran armada laut, atau penggalangan komitmen keamanan dari mitra regional. Cina tentu tidak akan tinggal diam, dan bisa saja meningkatkan aktivitasnya di perairan sengketa dengan dalih stabilisasi kawasan. Dalam skenario seperti ini, Asia Tenggara tidak hanya akan terkena dampak perang di Teluk, tetapi juga bisa terseret dalam persaingan geopolitik yang lebih luas.

Di sisi domestik, tekanan publik juga semakin kuat. Di negara-negara demokratis dengan mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia, dukungan masyarakat terhadap Palestina bukan sekadar sentimen moral, melainkan juga faktor politik yang memengaruhi posisi kebijakan luar negeri. Pemerintah tidak bisa sepenuhnya bersikap netral ketika opini publik menuntut sikap yang tegas. Sementara di negara-negara yang lebih otoriter, stabilitas ekonomi dan keamanan nasional menjadi prioritas, tetapi mereka pun tidak bisa mengabaikan tekanan eksternal dan kerentanan internal.

Kesimpulan

Dunia tengah berubah dengan cepat, dan Asia Tenggara tidak berada di luar pusaran perubahan itu. Perang Israel-Iran adalah peristiwa yang membuka banyak lapisan persoalan global. Konflik antarnegara, pertarungan narasi, krisis energi, disrupsi logistik, dan ujian terhadap sistem diplomasi multilateral. Asia Tenggara adalah kawasan yang kaya akan potensi, tetapi juga sarat dengan ketergantungan. Dalam dunia yang semakin terbelah, netralitas bukan lagi cukup.

Yang dibutuhkan adalah kecermatan dalam membaca arah perubahan, ketegasan dalam menentukan posisi nasional, dan keberanian untuk mengambil langkah strategis yang berlandaskan kepentingan jangka panjang. Diversifikasi energi, investasi pada keamanan maritim, penguatan solidaritas regional, serta reformulasi posisi politik luar negeri adalah langkah-langkah yang tidak bisa ditunda.

ASEAN memang tidak sedang berada dalam perang. Tetapi jika tidak hati-hati, kita bisa menjadi korban dari perang yang tidak kita mulai. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah ASEAN harus bersikap, melainkan bagaimana ASEAN mampu bersikap tanpa kehilangan arah, tanpa kehilangan prinsip, dan tanpa kehilangan masa depan.