Dosen Killer, Mahasiswa Gemetar: Ketika Rasa Takut Mengalahkan Fokus Belajar

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen, Tertarik menulis tentang bisnis, teknologi, dan isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari haer udin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan, berpikir kritis, dan berani menyampaikan pendapat. Namun, kenyataannya, tidak semua mahasiswa bisa menjalani proses perkuliahan dengan nyaman. Salah satu hal yang sering menjadi keluhan adalah menghadapi dosen yang dikenal killer, yaitu dosen yang memiliki sikap tegas, mudah memarahi mahasiswa, atau membuat suasana kelas terasa menegangkan.
Bagi sebagian orang, dosen yang keras mungkin dianggap mampu mendisiplinkan mahasiswa. Mahasiswa dituntut datang tepat waktu, memperhatikan materi, dan menyelesaikan tugas dengan baik. Namun, muncul pertanyaan: apakah rasa takut benar-benar bisa membuat mahasiswa belajar lebih efektif?
Ketika Rasa Takut Mengalahkan Konsentrasi
Bayangkan seorang mahasiswa duduk di dalam kelas. Seharusnya, ia mendengarkan penjelasan dosen dan berusaha memahami materi. Namun, pikirannya justru dipenuhi kekhawatiran. Takut salah menjawab, takut ditunjuk secara tiba-tiba, atau takut dimarahi ketika mengajukan pertanyaan.
Dalam kondisi seperti ini, perhatian mahasiswa bisa teralihkan dari materi yang sedang dipelajari. Mereka mungkin terlihat diam dan memperhatikan, tetapi belum tentu benar-benar memahami penjelasan dosen.
Masalahnya bukan selalu karena mahasiswa malas atau tidak memiliki niat belajar. Suasana kelas yang terlalu menegangkan juga bisa menjadi salah satu faktor yang menghambat konsentrasi. Ketika mahasiswa lebih sibuk memikirkan cara agar tidak melakukan kesalahan, kesempatan untuk memahami materi secara maksimal justru bisa berkurang.
Akibatnya, kegiatan belajar yang seharusnya mendorong mahasiswa untuk aktif malah berubah menjadi situasi yang membuat mereka memilih diam.
Takut Bertanya, Takut Salah, Akhirnya Tidak Berkembang
Salah satu hal penting dalam perkuliahan adalah keberanian untuk bertanya. Mahasiswa tidak mungkin langsung memahami semua materi yang disampaikan. Ada kalanya mereka membutuhkan penjelasan tambahan atau ingin menyampaikan pendapat yang berbeda.
Namun, bagaimana jika mahasiswa merasa takut untuk melakukan hal tersebut?
Mahasiswa yang khawatir akan mendapatkan respons negatif mungkin memilih menyimpan pertanyaannya sendiri. Mereka juga bisa enggan menjawab pertanyaan dosen meskipun sebenarnya mengetahui jawabannya.
Jika kebiasaan ini terus terjadi, proses pembelajaran menjadi kurang maksimal. Kelas mungkin terlihat tertib karena tidak banyak mahasiswa yang berbicara, tetapi ketertiban tersebut belum tentu menunjukkan bahwa pembelajaran berjalan dengan baik.
Padahal, mahasiswa datang ke kampus bukan hanya untuk mencatat materi dan mendapatkan nilai. Mereka juga perlu belajar menyampaikan gagasan, berdiskusi, serta membangun kepercayaan diri. Semua itu membutuhkan lingkungan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mencoba dan melakukan kesalahan secara wajar.
Tegas Boleh, tetapi Jangan Membuat Mahasiswa Takut Belajar
Perlu dipahami bahwa dosen memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedisiplinan dan kualitas pembelajaran. Dosen tentu berhak memberikan teguran ketika mahasiswa melanggar aturan, tidak mengerjakan tugas, atau mengganggu kegiatan perkuliahan.
Namun, ketegasan dan sikap mengintimidasi merupakan dua hal yang berbeda. Tegas berarti memiliki aturan yang jelas dan menerapkannya secara konsisten. Sementara itu, pendekatan yang membuat mahasiswa merasa takut untuk bertanya atau menyampaikan pendapat berisiko menghambat interaksi di dalam kelas.
Dosen tidak harus selalu bersikap santai agar disukai mahasiswa. Akan tetapi, cara menyampaikan kritik dan memberikan teguran juga perlu diperhatikan. Mahasiswa tetap bisa dididik untuk disiplin tanpa harus dibuat merasa rendah diri ketika melakukan kesalahan.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu memahami bahwa rasa tidak nyaman saat menghadapi dosen yang tegas bukan berarti semua aturan harus dihindari. Mahasiswa tetap memiliki kewajiban untuk belajar dengan serius, menghormati dosen, dan bertanggung jawab atas tugasnya.
Karena itu, hubungan yang baik antara dosen dan mahasiswa seharusnya dibangun melalui sikap saling menghormati, bukan sekadar rasa takut.
Kampus Seharusnya Menjadi Tempat untuk Berkembang
Pendidikan yang baik tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan atau seberapa ketat aturan yang diterapkan. Proses pembelajaran juga perlu memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami materi, mengembangkan kemampuan berpikir, dan berani menghadapi tantangan.
Suasana kelas yang mendukung bukan berarti membebaskan mahasiswa dari disiplin. Sebaliknya, lingkungan belajar yang sehat dapat berjalan beriringan dengan aturan yang tegas. Mahasiswa tetap dituntut untuk serius, sementara dosen memberikan arahan dengan cara yang mendorong mereka untuk berkembang.
Jika mahasiswa terus merasa tertekan dalam proses perkuliahan, persoalan tersebut layak menjadi bahan evaluasi bersama. Bukan untuk mencari siapa yang paling salah, melainkan untuk menemukan cara agar tujuan pendidikan benar-benar tercapai.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang dosen tidak hanya terlihat dari seberapa takut mahasiswa terhadap dirinya, tetapi juga dari seberapa jauh mahasiswa mampu memahami materi dan mengembangkan kemampuan mereka.
Kuliah seharusnya membuat mahasiswa takut tertinggal ilmu, bukan takut untuk bertanya. Sebab, tujuan pendidikan bukan menciptakan mahasiswa yang hanya diam dan patuh, melainkan mahasiswa yang mampu berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
