Konten dari Pengguna

Kenapa Media Sosial Selalu Disalahkan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari haer udin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Never Settle” menjadi pengingat untuk terus berkembang dan tidak membiarkan kebiasaan menggunakan media sosial menghambat waktu, tujuan, dan aktivitas yang lebih penting. Sumber: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
“Never Settle” menjadi pengingat untuk terus berkembang dan tidak membiarkan kebiasaan menggunakan media sosial menghambat waktu, tujuan, dan aktivitas yang lebih penting. Sumber: Unsplash.

“Jangan main HP terus, nanti nggak produktif.”

Kalimat seperti itu mungkin sudah tidak asing bagi kita. Ketika seorang siswa terlalu lama memegang HP, media sosial sering menjadi salah satu hal pertama yang dianggap sebagai penyebabnya. TikTok disebut membuat lupa waktu, Instagram dianggap mengganggu konsentrasi, sementara YouTube sering dikaitkan dengan kebiasaan menunda pekerjaan.

Padahal, kalau dipikir lagi, apakah benar media sosial selalu menjadi masalah?

Menurut kami, menyalahkan media sosial sepenuhnya justru membuat persoalannya terlihat terlalu sederhana. Sebab, media sosial juga bisa digunakan untuk belajar, mencari informasi, mengikuti kegiatan, berkomunikasi, bahkan mengembangkan kemampuan.

Yang membedakan bukan hanya aplikasinya, tetapi bagaimana kita menggunakannya.

Ketika “Sebentar” Tidak Lagi Sebentar

Ada satu kebiasaan yang mungkin sering kita lakukan. Membuka media sosial dengan niat “sebentar saja”.

Awalnya hanya ingin melihat satu video. Setelah itu muncul video lain yang lebih menarik. Kita scroll lagi. Lalu ada konten yang membuat penasaran, kemudian muncul konten berikutnya.

Tidak terasa, waktu sudah berjalan cukup lama.

Masalahnya, kita sering baru menyadarinya setelah selesai. Padahal sebelumnya ada tugas yang ingin dikerjakan, buku yang ingin dibaca, atau kegiatan lain yang sudah direncanakan.

Di sinilah media sosial memang bisa menjadi pengganggu. Namun, menurut kami, persoalannya tidak berhenti pada media sosial itu sendiri. Ada kebiasaan yang ikut berperan, yaitu menggunakan media sosial tanpa tujuan yang jelas.

Satu Aplikasi, Dua Kebiasaan yang Berbeda

Coba bayangkan dua siswa membuka aplikasi yang sama.

Siswa pertama membuka media sosial untuk mencari video penjelasan mengenai materi yang belum dipahami. Setelah menemukan informasi yang dibutuhkan, ia menutup aplikasi dan kembali belajar.

Siswa kedua awalnya juga membuka aplikasi untuk mencari materi. Namun setelah menemukan satu video, ia melihat video lain, kemudian berpindah ke konten hiburan dan terus scroll tanpa menyadari waktu.

Aplikasinya sama. Tetapi hasilnya bisa berbeda.

Contoh sederhana tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menentukan bagaimana waktu kita digunakan. Cara kita menggunakannya juga memiliki peran.

Karena itu, menurut kami, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “berapa lama kita bermain media sosial?”, tetapi juga “apa yang kita lakukan ketika berada di sana?”

Bukan Berarti Semua Harus Dibatasi

Mendengar pembahasan mengenai produktivitas, kita kadang langsung berpikir bahwa penggunaan media sosial harus dikurangi sebanyak mungkin.

Padahal, tidak semua penggunaan media sosial harus dianggap buruk.

Ada kalanya kita memang membutuhkan media sosial untuk mencari informasi. Ada saatnya kita menggunakannya untuk berkomunikasi. Ada juga waktu ketika kita hanya ingin menikmati hiburan setelah menyelesaikan berbagai kegiatan.

Menurut kami, produktif bukan berarti harus terus belajar tanpa memberikan waktu untuk beristirahat.

Yang menjadi persoalan adalah ketika hiburan mulai mengambil waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan tanggung jawab. Di situlah kita perlu mulai mengenali kebiasaan sendiri.

Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Larangan, tetapi Kesadaran

Kalau begitu, apakah siswa harus berhenti menggunakan media sosial?

Menurut kami, tidak.

Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan untuk menggunakan media sosial dengan tujuan yang lebih jelas.

Sebelum membuka aplikasi, kita bisa mulai dari pertanyaan sederhana: “Saya membuka ini untuk apa?”

Kalau memang ingin mencari informasi, cari informasi yang dibutuhkan. Kalau ingin berkomunikasi, selesaikan keperluannya. Kalau ingin beristirahat dan menikmati hiburan, lakukan tanpa melupakan kegiatan lain yang masih harus diselesaikan.

Kebiasaan sederhana seperti ini memang tidak langsung mengubah cara kita menggunakan media sosial. Namun, setidaknya kita mulai menyadari bahwa setiap kali membuka aplikasi, ada keputusan yang kita buat sendiri.

Media Sosial Bukan Musuh Kita

Pada akhirnya, mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat media sosial hanya sebagai penyebab seseorang menjadi tidak produktif.

Media sosial memang bisa menjadi distraksi. Tetapi pada saat yang sama, media sosial juga bisa menjadi tempat belajar, mencari informasi, berkomunikasi, dan mengembangkan diri.

Yang perlu dibangun bukan sekadar kebiasaan untuk menjauhi media sosial, tetapi kemampuan untuk menggunakannya dengan lebih terarah.

Bagi siswa, kemampuan tersebut semakin penting karena media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita tidak hanya perlu tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga perlu tahu kapan harus menggunakannya dan kapan harus berhenti.

Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana supaya siswa berhenti menggunakan media sosial?”

Melainkan, “Bagaimana supaya siswa bisa menggunakan media sosial tanpa kehilangan kendali atas waktunya sendiri?”