Kita Punya Banyak Teman di Media Sosial, tetapi Kenapa Masih Merasa Kesepian?

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen, Tertarik menulis tentang bisnis, teknologi, dan isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari haer udin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kita merasa harus terus melakukan sesuatu agar masa depan menjadi lebih baik? Mulai dari belajar lebih giat, mengejar nilai bagus, mengikuti berbagai kegiatan, sampai memikirkan pekerjaan yang ingin didapatkan setelah lulus. Semua terasa penting karena kita ingin memiliki kehidupan yang sukses dan membanggakan.
Keinginan tersebut sebenarnya tidak salah. Memiliki tujuan dapat membuat kita lebih bersemangat dalam menjalani kehidupan. Namun, terkadang kita terlalu fokus pada apa yang ingin dicapai sampai lupa memperhatikan kehidupan yang sedang dijalani hari ini.
Kita merasa belum cukup berhasil karena belum mencapai target tertentu. Ketika satu target tercapai, muncul target berikutnya. Akhirnya, waktu terus berjalan, tetapi kita jarang memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak dan menikmati hasil dari usaha yang sudah dilakukan.
Tanpa sadar, kehidupan terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.
Selalu Memikirkan Apa yang Belum Tercapai
Salah satu kebiasaan yang sering muncul ketika mengejar masa depan adalah terlalu fokus pada hal-hal yang belum dimiliki. Kita memikirkan pekerjaan yang belum didapatkan, kemampuan yang belum dikuasai, atau pencapaian yang belum berhasil diraih.
Padahal, mungkin ada banyak hal yang sudah kita lakukan dengan baik. Kita sudah belajar, berusaha memperbaiki diri, dan melewati berbagai tantangan. Namun, semua itu terasa kurang berarti karena perhatian kita selalu tertuju pada tujuan berikutnya.
Keadaan ini membuat kita sulit merasa puas dengan proses yang sedang dijalani. Kita terus berpikir bahwa kebahagiaan baru akan datang ketika berhasil mencapai sesuatu yang lebih besar.
Misalnya, seorang mahasiswa merasa belum bisa menikmati masa kuliah karena terlalu khawatir memikirkan pekerjaan setelah lulus. Ada juga yang terus mengejar prestasi sampai lupa menjaga hubungan dengan keluarga dan teman-temannya.
Memikirkan masa depan memang penting, tetapi bukan berarti seluruh kehidupan harus dihabiskan untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.
Tekanan untuk Cepat Sukses
Anak muda sekarang sering dihadapkan pada berbagai gambaran tentang keberhasilan. Ada orang yang berhasil membangun bisnis sejak usia muda, mendapatkan pekerjaan impian, atau mencapai prestasi yang membanggakan ketika teman sebayanya masih mencari arah.
Melihat pencapaian tersebut bisa memberikan inspirasi. Namun, terkadang hal itu juga menimbulkan tekanan bahwa kita harus mencapai sesuatu dalam waktu yang sama.
Kita mulai mempertanyakan apakah langkah yang diambil sudah benar, apakah perkembangan diri terlalu lambat, atau apakah kita akan mampu memiliki masa depan yang baik.
Akibatnya, proses yang seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar justru terasa seperti beban. Kita ingin cepat sampai ke tujuan, tetapi lupa bahwa setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda.
Tidak semua orang harus berhasil pada usia yang sama. Ada yang menemukan jalannya lebih awal, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk mencoba berbagai hal sebelum memahami apa yang benar-benar diinginkan.
Perbedaan tersebut bukan alasan untuk berhenti berusaha. Justru, kita perlu memahami bahwa masa depan tidak harus dibangun dengan mengikuti kecepatan hidup orang lain.
Media Sosial Membuat Kita Sulit Menikmati Proses
Media sosial juga dapat memengaruhi cara kita memandang perjalanan hidup. Setiap hari, kita melihat berbagai pencapaian orang lain, mulai dari kelulusan, pekerjaan baru, bisnis yang berkembang, hingga pengalaman menyenangkan bersama teman.
Ketika terlalu sering melihat hal tersebut, kita bisa merasa bahwa orang lain selalu bergerak maju, sementara diri sendiri tidak mengalami perkembangan yang berarti.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Kita mungkin melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan, berapa banyak kesulitan yang dihadapi, atau dukungan apa saja yang mereka miliki.
Jika terus membandingkan perjalanan sendiri dengan pencapaian orang lain, kita akan sulit menghargai langkah yang sedang dijalani.
Kita bisa lupa bahwa belajar sesuatu yang baru, menyelesaikan tugas dengan baik, membantu keluarga, atau berani mencoba kesempatan baru juga merupakan bagian dari proses berkembang.
Tidak semua kemajuan harus terlihat besar agar memiliki arti.
Menikmati Proses Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Ada anggapan bahwa menikmati hidup berarti mengurangi ambisi atau berhenti mengejar cita-cita. Padahal, keduanya tidak harus bertentangan.
Kita tetap bisa memiliki target besar sambil menikmati langkah-langkah kecil yang membawa kita ke sana. Kita bisa belajar dengan serius tanpa harus terus-menerus merasa bersalah ketika beristirahat. Kita juga bisa bekerja keras sambil tetap menyediakan waktu untuk keluarga, teman, dan hal-hal sederhana yang membuat hidup terasa bermakna.
Menikmati proses berarti menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang hasil akhir. Ada pengalaman, pelajaran, hubungan, dan perubahan diri yang kita temui selama perjalanan tersebut.
Misalnya, ketika sedang kuliah, kita tidak hanya mengejar ijazah. Kita juga memiliki kesempatan untuk menambah pengetahuan, mengenal orang baru, belajar bekerja sama, dan memahami kemampuan diri sendiri.
Begitu pula ketika membangun karier. Selain mengejar posisi atau penghasilan yang lebih baik, kita bisa belajar dari pengalaman, memperbaiki keterampilan, dan memahami bidang yang sesuai dengan diri kita.
Dengan cara pandang seperti ini, perjalanan menuju masa depan tidak hanya menjadi sesuatu yang harus segera diselesaikan, tetapi juga kesempatan untuk bertumbuh.
Belajar Menghargai Hal-Hal Sederhana
Menikmati proses tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Terkadang, kita hanya perlu memberikan perhatian lebih pada hal-hal yang selama ini dianggap biasa.
Meluangkan waktu untuk berbincang dengan keluarga, berkumpul bersama teman, menikmati waktu istirahat setelah menyelesaikan pekerjaan, atau mengapresiasi diri sendiri karena sudah berusaha merupakan contoh sederhana yang bisa dilakukan.
Kita juga bisa mulai menetapkan target yang realistis agar tidak terus merasa terbebani oleh tuntutan yang terlalu tinggi. Jika ada sesuatu yang belum tercapai, cobalah mengevaluasi langkah berikutnya tanpa langsung menganggap seluruh usaha yang telah dilakukan sebagai kegagalan.
Yang tidak kalah penting, berikan ruang untuk beristirahat. Beristirahat bukan berarti kehilangan ambisi. Dalam banyak keadaan, waktu untuk memulihkan tenaga justru membantu kita kembali menjalani tanggung jawab dengan lebih baik.
Kita tidak harus selalu produktif setiap saat untuk membuktikan bahwa kita sedang berkembang.
Masa Depan Penting, tetapi Hari Ini Juga Berharga
Pada akhirnya, mempersiapkan masa depan merupakan bagian penting dari kehidupan. Kita perlu belajar, bekerja, merencanakan tujuan, dan mengambil keputusan yang membantu kita berkembang.
Namun, jangan sampai keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik membuat kita terus menunda kebahagiaan sampai suatu hari nanti.
Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana seluruh rencana akan berjalan. Karena itu, selain berusaha mempersiapkan masa depan, kita juga perlu memberi makna pada kehidupan yang sedang dijalani sekarang.
Tidak apa-apa jika saat ini kita belum mencapai semua target. Tidak masalah jika perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu lebih panjang daripada yang dibayangkan. Selama kita masih mau belajar dan berusaha, selalu ada ruang untuk berkembang.
Kita boleh berjalan dengan serius menuju masa depan, tetapi tidak harus terburu-buru sampai lupa melihat apa yang ada di sepanjang perjalanan.
Sebab, hidup bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan. Hidup juga tentang pengalaman yang kita kumpulkan, orang-orang yang menemani perjalanan, dan bagaimana kita bertumbuh selama berusaha meraih sesuatu.
Jangan sampai ketika akhirnya berhasil mencapai tujuan, kita justru menyadari bahwa terlalu banyak waktu telah dihabiskan untuk mengejar hari esok, tanpa pernah benar-benar menikmati hari ini.
