Inspiratif, Ki Joko Wasis Seniman Sketsa Wajah dengan Biaya Sukarela

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Tulisan dari Hafid Zuldin Rais tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bermula dari kecintaan terhadap seni sejak kecil hingga sekarang, seorang seniman yang berasal dari Yogyakarta sangat menginspirasi bagi banyak kalangan.
Pria bernama Ki Joko Wasis berasal dari Kampung Kadipaten Kidul, Yogyakarta di mana lokasinya tidak jauh dengan Alun-alun Kidul. Pria kelahiran 13 Juli, 1960 ini sangat menggiati bidang seni sehingga karyanya banyak diapresisasi oleh banyak orang.
"Sebenarnya Ki Joko Wasis hanya nama gaul dalam kesenian saja, nama aslinya Muhammad Ali Repdianto atau bisa disingkat dengan Muhli Repdianto," katanya, Rabu (16/11/22). Ki Joko juga menambahkan bahwa dahulu ada cerita di balik nama itu, jadi pada saat itu Ki Joko Bodo belum punya nama oleh istrinya dan menanyakan pakai nama apa untuk menjadi seorang paranormal. Akhirnya diambilnya dengan nama Ki Joko Bodo. Mba Ima yang merupakan istri dari Ki Joko Bodo menanyakan kepada Muhli Repdianto ini sudah ada Ki Joko Bodo mana Ki Joko Wasisnya.
Setelah resmi namanya berganti menjadi Ki Joko Wasis, pria ini meminta ijin kepada orang tuanya untuk menggantikan namanya dari sebelumnya. "Gapapa kalau itu bermanfaat bagimu," ucap Ibu Ki Joko Wasis pada waktu itu.
Ki Joko Wasis merupakan lulusan Sekolah Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta pada waktu itu. Di mana sedari kecil sudah hobi menggambar. Baginya jika tidak menggambar rasanya ada kesenangan dan kebahagiaan yang hilang. Hal ini dikarenakan tetangganya merupakan seorang seniman lukis sehingga Ki Joko Wasis memiliki ketertarikan diri untuk menggeluti bidang seni.
"Seni itu bagi saya sebuah karya dari proses cipta rasa karsa, cipta dalam artian imajinasi jadi membayangkan segala bentuk seperti kita ingin membuat sepatu, di situlah ada rasa yang bekerja untuk karsa dan munculah sebuah sepatu. Dengan itulah sebuah karya menjadi seni," ungkapnya.
Ki Joko Wasis pernah aktif dalam kelompok Sanggar Bambu Yogyakarta, dimana kelompok itu melakukan kegiatan yang berhubungan dengan dunia kesenian terutama pada bidang seni rupa. Sanggar ini termasuk penting dalam sejarah seni Indonesia karena menelurkan banyak seniman andal seperti Danarto, SM Sudarta, Untung Basuki, Putu Wijaya, dan seniman tersohor lainnya.
Sejak 5 tahun ke belakang, Ki Joko Wasis membagi kecintaannya yaitu seni kepada khalayak umum melalui sketsa gambar wajah. Uniknya, pria ini tidak mau memasangkan nominal atau dengan biaya sukarela yang berlokasi di Alun-alun Kidul. Tempat ini merupakan tempat kenangan sedari kecil sampai dia merasakan sudah seperti rumah sendiri.
Sebenarnya konsep biaya sukarela ini bertujuan untuk mengetahui apakah orang-orang di sekitar masih peduli dengan seni dan juga bagaimana mengetahui karakter orang dalam menghargai seni. Selain itu, konsep ini terinspirasi dalam dirinya sendiri.
"Pernah anak saya sakit hernia pada kelas 1 SD, karena takut oleh ancaman biaya pada saat itu harus memerlukan biaya yang cukup besar, namun salah satu dari teman saya membantunya dan katanya menggantikannya dengan sukarela saja," ucapnya.
Baginya yang pria lakukan ini merupakan bagian dari art spiritual, karena dalam spirit itu terkandung ada nilai-nilai astral, ketuhanan. Dengan itu, dia yakin bahwa rezeki yang datang dari Tuhan bisa kapan saja dan dimana saja.
"Pernah juga saya dibayar lima ribu atau bahkan sampai dua ribu juga pernah, tetapi ya bagi saya tidak masalah dan tetap saya kerjain karena ini sudah tanggung jawabnya, dan saya juga percaya ini merupakan bentuk rezeki dari Tuhan untuk saya," ujarnya.
Ki Joko Wasis berpesan kepada seniman khususnya untuk semua, berkerja keraslah untuk menciptakan karya-karya dan yang mempunyai keinginan harus diraih. Don't stop be for you get (jangan berhenti sebelum mendapatkan apa yang kita inginkan).
