Konten dari Pengguna

Di Ambang Krisis Energi?

Hafidz Arfandi

Hafidz Arfandi

Penulis merupakan founder dan peneliti di Sustainability Learning Center (SLC). Penggiat isu demokrasi, kewargaan, dan perubahan iklim

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hafidz Arfandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat dengan Grok AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat dengan Grok AI

Ketika rudal berjatuhan di Timur tengah dan Selat Hormuz diblokade, yang sesungguhnya runtuh bukan hanya infrastruktur militer—melainkan ilusi ketahanan energi global yang selama ini dibangun di atas fondasi geopolitik yang rapuh.

Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran telah memantik eskalasi yang melampaui batas-batas konflik konvensional. Retaliasi rudal Iran yang menyasar fasilitas militer AS di seluruh kawasan Teluk bukan sekadar jawaban taktis—ia adalah sinyal strategis bahwa Teheran siap bermain di papan geopolitik dengan taruhan tertinggi. Penutupan Selat Hormuz, chokepoint yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi global, kini menjadi kartu truf Iran: sebuah bargaining position yang memaksa seluruh dunia menahan napas.

Selat Hormuz menjadi palang pintu bagi 20 juta barel minyak yang diproduksi negara teluk, atau mewakili sekitar 1/5 pasokan minyak global, dimana 70%-nya berlayar ke pasar Asia, sisanya baru ke Eropa, Amerika dan Afrika. Hal ini menjadikan penutupan Hormuz menjadi isu global yang mengerek harga minyak dunia hingga tembus di atas 100 usd/barel.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka adalah cermin dari sebuah kerentanan struktural yang telah lama dibiarkan menganga. Selama ini, komoditas minyak dan gas negara-negara Teluk mengalir ke pasar Asia. Ketika aliran itu tersumbat, yang terdampak bukan hanya harga di bursa komoditas—melainkan dapur industri, rantai logistik, dan daya beli ratusan juta manusia di seluruh benua.

Lebih dari Sekadar Pasokan

Timur Tengah bukan hanya produsen minyak mentah dunia—ia adalah pusat refinery dan blending hub untuk minyak bersulfur tinggi yang memungkinkan produksi BBM murah, sekaligus penyumbang utama produk petrokimia global.

Ibarat swalayan energi raksasa yang menawarkan beragam produk dengan variasi harga dan kualitas, serta proses transaksi berbasis kontrak fleksibel, tak semua produsen dapat menggantikannya begitu saja.

Benar bahwa krisis Hormuz membuka peluang bagi produsen alternatif—Amerika Serikat, Rusia, negara-negara Afrika Barat dan Eropa Utara—untuk menggenjot produksi dan memanfaatkan momentum. Namun lonjakan produksi yang bersifat jangka pendek ini tidak mampu menggantikan ekosistem energi Timur Tengah secara utuh.

Negara lain mungkin punya minyak mentah, tetapi belum tentu memiliki kematangan infrastruktur kilang, jaringan distribusi global, maupun skema finansial kontraktual yang fleksibel sesuai kapasitas pembeli. Ketidakmampuan ini bukan soal kemauan—ia soal kematangan seiring pengalaman dan akumulasi modal yang tidak bisa dikejar dalam hitungan bulan.

Secara geopolitik, Iran tidak sepenuhnya menutup keran perdagangan. Teheran sengaja membuka jalur selat hormuz secara selektif untuk mitra-mitranya: China, India, dan Malaysia mendapat kelonggaran khusus, meski harus menanggung risiko premi asuransi yang tidak murah.

China dan India, sebagai motor industri Asia, relatif tidak terguncang parah—mereka juga bisa memanfaatkan tawaran minyak murah Rusia sebagai bantalan, yang dibarengi dengan pelonggaran sanksi temporari dari AS saat perang Iran berlangsung.

Sementara bagi negara seperti Singapura, yang juga salah satu trader minyak dan gas dunia sangat menggantungkan hidupnya pada kelancaran logistik, namun solusi alternatif untuk mengandalkan reekspor via China bisa dijalankan secara pragmatis. Berbeda, dengan Jepang dan Korea Selatan yang tak punya banyak pilihan untuk tetap setia dengan AS dalam arena geopolitik, mereka memilih opsi alternatif jangka pendek dengan memborong minyak dari AS dan Kanada untuk mempertahankan cadangannya yang mencapai 240 hari.

Sinyal Kerentanan Energi Domestik yang Terlalu Lama Diabaikan

Indonesia menghadapi arithmetic yang tidak menyenangkan. Kebutuhan BBM nasional menyentuh 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berkisar 600–800 ribu barel. Kapasitas kilang dalam negeri sekitar 1,1 juta barel per hari, dengan ekspor minyak mentah kurang dari 100 ribu barel. Artinya, Indonesia harus mengimpor 400–600 ribu barel crude oil dan 500 ribu barel BBM jadi setiap harinya—sebagian besar dari kawasan Teluk dan kilang Singapura.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah soal LPG. Produksi domestik hanya sekitar 2 juta ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 7 juta ton. 5 juta ton sisanya mayoritas dipasok oleh Saudi Aramco. Ketergantungan ini adalah warisan dari transisi minyak tanah ke LPG yang tak diimbangi dengan investasi serius di fasilitas kilang dan penyimpanan domestik. Ketika konsumsi melonjak, infrastruktur tidak ikut tumbuh, dan harga murah LPG impor membuat opsi diversifikasi terasa kurang menarik secara finansial jangka pendek, sehingga membuai ketergantungan impor selama 2 dekade.

Kini, saat krisis menyergap, Indonesia harus bersaing dengan kebutuhan industri berbagai negara untuk memperebutkan pasokan LPG yang relatif terbatas. Indonesia hanya bisa berharap akses kapal LPG dibuka via Hormuz atau ada substitusi pasokan dari China sebagai produsen terbesar kedua LPG secara global.

Ketersediaan pasokan menjadi kunci stabilitas domestik mengingat LPG menjadi tulang punggung rumah tangga dan industri untuk melangsungkan kegiatan memasak dan berproduksi. Kelangkaan LPG akan menyebabkan inflasi dan sentimen negatif dari arus bawah sehingga perlu segera diatur skenario untuk menghadapi krisis.

Merevitalisasi Diplomasi Aktif

Di sinilah peran diplomasi menjadi sangat krusial—dan sayangnya, inilah pula titik lemah Indonesia yang paling kentara dalam krisis ini. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia dengan rekam jejak diplomasi di dunia islam yang disegani—dari mulai krisis Bosnia, Palestina hingga berbagai mediasi regional—Indonesia seharusnya berada di garis terdepan diplomasi. Hubungan baik dengan Iran yang terjalin di era Presiden Megawati dan Presiden Joko Widodo adalah modal yang seharusnya bisa dimainkan.

Namun era Presiden Prabowo menampilkan wajah berbeda. Indonesia tampak lebih condong ke orbit AS dalam urusan Timur Tengah, terlihat dari keterlibatan aktif dalam Board of Peace hingga sikap diam saat serangan AS–Israel menyasar kepemimpinan tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada serangan pertama akhir februari lalu.

Agaknya, Pengaruh Raja Abdullah II dari Yordania yang pro-AS tampak membentuk cara pandang Presiden Prabowo terhadap permasalahan Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri pun tidak memainkan peran taktis yang berarti selama krisis berlangsung.

Yang memperburuk posisi Indonesia adalah insiden penyitaan kapal VLCC Arman II yang merupakan milik Iran, kapal ini ditangkap di perairan Natuna beserta dua juta barel minyak mentah. Penegakan hukum ini tidak sensitif dengan ruang diplomasi, meski Iran tak melakukan protes diplomatik tetapi menjadi catatan tersendiri saat krisis terjadi. Dalam kancah kemaritiman, melelang kapal VLCC juga tidak mudah karena sangat sensitif di jalur pelayaran Selat Hormuz, belum lagi upaya perawatannya selama proses berlangsung, membiarkannya terombang-ambing di atas laut juga berbahaya dapat terancam karam dengan 2 juta barel muatan, sedangkan pengembaliannya juga perlu mekanisme hukum yang inkrah agar tak menyalahi tata perundangan yang kadung ditempuh.

Seharusnya, preseden ini bisa diselesaikan sebagai upaya bersahabat namun tegas, dimana Indonesia menolak adanya trans shipment minyak yang berbahaya bagi lingkungan di wilayahnya tetapi menggunakan cara elegan, misal menjatuhkan denda dan mengusir kapal jauh lebih baik dibanding penyitaan sepihak.

Kini Iran agaknya membalas dengan cara yang elegan: menahan kapal-kapal Indonesia di Hormuz, memberikan izin terbatas hanya untuk muatan yang menuju Indonesia, dan mengetatkan akses untuk kapal tujuan pihak ketiga. Bukan konfrontasi terbuka—melainkan pesan yang sangat jelas.

Pilihan diplomasi Presiden Prabowo untuk mendayung di dua kutub—bergabung dengan BRICS sekaligus mendekati AS—sebetulnya adalah posisi strategis yang tepat di tengah ketidakpastian global. Namun kelincahan itu belum terasa di tengah krisis. Inilah momentum yang semestinya dimanfaatkan: melakukan lobby intensif ke China dan Rusia (Brics) sekaligus Inggris dan Uni Eropa (Nato) sebagai upaya mendorong deeskalasi konflik, dan membangun posisi mediasi langsung antara Iran dan Negara Teluk yang memanfaatkan kredibilitas Indonesia di dunia Islam. Meski bukan sebagai kekuatan militer atau ekonomi dominan—tapi Indonesia bisa menempatkan diri sebagai sahabat yang dipercaya oleh banyak pihak.

Skenario Akhir dari Perang Iran

Ujung dari perang ini sangat bergantung pada dinamika politik domestik di AS dan Israel. AS akan menghadapi pemilu sela November—yang akan memilih 435 (seluruh) anggota kongres dan 35 dari 100 kursi Senat AS—bisa mengubah keseimbangan kekuatan di Washington secara dramatis. Jika perang tak kunjung berakhir, konfigurasi parlemen bisa bergeser ke Demokrat, hal ini akan menyulitkan kebijakan Trump soal anggaran dan operasi militer, bahkan membuka ruang bagi tekanan impeachment jika demokrat berhasil kuasai senat dan kongres sekaligus. Setidaknya ada berbagai skandal yang berpotensi mengarah ke impeachment mulai dari perang ilegal (tanpa persetujuan kongres) hingga skandal insider trading di pasar berjangka minyak yang diduga kuat melibatkan kroni-kroni trump.

Di Israel, pemilu akan digelar Oktober nanti menjadi variabel tambahan yang tidak kalah kompleks—situasi perang bisa mempercepat atau menunda pemilu tergantung pada kekuatan oposisi, meski biasanya solidaritas mayoritas pemilih kanan dan yahudi ultranasinalis dalam kondisi krisis justru cenderung menguat, tapi kali ini Netanyahu menghadapi krisis serius dengan kegagalan pertahanan dan durasi krisis yang paling panjang sejak Israel berdiri.

Skenario paling realistis adalah win-win deal antara Iran dan AS: Trump menggunakan pengaruhnya untuk menekan Israel menyudahi konflik, sementara Iran diberi konsesi pasar melalui pelonggaran sanksi yang dikontrol Washington. Kompensasi ekonomi selalu menjadi kunci yang efektif untuk Teheran—meski kali ini situasinya jauh lebih rumit dari sebelumnya.

Yang pasti, legitimasi AS di Timur Tengah sedang dipertaruhkan. Negara-negara Teluk yang menyaksikan kedahsyatan perlawanan Iran dan keterbatasan perlindungan AS pada negara teluk, negara teluk bisa meminta akses transfer core teknologi untuk percepatan pertahanannya dimana AS akan menerima imbal jasa kontrak militer jumbo tetapi dibarter dengan akses teknologi yang bisa dikembangkan sendiri oleh mitra arabnya, atau AS dipaksa kehilangan muka di tengah pilihan geopolitik yang terbuka, misalnya China dan Rusia turun tangan melakukan mediasi Negara Teluk dengan Iran, serta menggunakan pengaruh ekonomi dan militernya untuk menekan Israel.

Pasca konflik, volatilitas harga energi belum akan berhenti. Kelebihan produksi dari produsen alternatif yang diprediksi mencapai 4 juta barel per hari bisa menjatuhkan harga minyak kembali di bawah 70 dolar per barel. Atau sebaliknya, negara-negara Teluk dan Iran bisa sepakat mengurangi produksi dengan dalih rehabilitasi infrastruktur pasca perang—sambil bersama menikmati harga tinggi dengan volume perdagangan relatif kecil. Keduanya adalah opsi yang ada di tangan diplomat OPEC,

Krisis Hormuz adalah cermin—bukan hanya bagi pasar energi global, tetapi bagi pilihan-pilihan kebijakan yang terlalu lama ditunda. Indonesia tidak kekurangan modal diplomatik, tidak kekurangan posisi strategis, dan tidak kekurangan kepentingan yang sah untuk diperjuangkan di panggung ini. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memainkannya—sebelum momen itu berlalu dan harga yang harus dibayar menjadi jauh lebih mahal dari yang bisa dibayangkan.