Mengembangkan Desa dengan Metode Pendekatan ABCD

Hafidz Muttaqin
Saya seorang Mahasiswa Jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman
Konten dari Pengguna
3 Oktober 2021 13:35 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Hafidz Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengembangan Desa dengan Potensi yang Ada dalam Desa, Sumber Foto : Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Pengembangan Desa dengan Potensi yang Ada dalam Desa, Sumber Foto : Penulis
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tahukah Anda tentang masalah pembangunan desa terutama desa wisata yang sekarang sedang berlangsung di Indonesia? jika belum, mari kita bahas.
ADVERTISEMENT
Pada zaman dahulu setiap ada pembangunan di desa itu berbasis masalah, maksudnya apabila ada kelompok swasta atau dari pemerintahan baik itu dari Kecamatan, Kabupaten, Provinsi bahkan Negara setiap datang ke suatu desa dan berencana untuk membangun desa tersebut pasti yang ditanyakan adalah
"Bapak dan Ibu di desa ini masalahnya apa?" dan pertanyaan ini pasti dijawab dengan jawaban yang hampir sama setiap desa "Di desa kami tingkat pendidikannya rendah, jadi orangnya bodoh pak" ada juga jawaban "Jalan desa sudah rusak puluhan tahun pak, mau jualan susah laku" dan sebagian kecil juga ada yang menjawab "Pemuda dan pemudi di sini kebanyakan hobinya main pak, tidak mau kerja jadi rata-rata warga di sini miskin".
ADVERTISEMENT
Belakangan ini mulai diterapkan Metode Pendekatan Asset Based Communities Development atau lebih sering dikenal Pendekatan ABCD, apa sih Pendekatan ABCD itu? jadi ABCD adalah model pendekatan dalam pengembangan masyarakat. Pendekatan ini menekankan pada inventarisasi asset yang terdapat di dalam masyarakat yang dipandang mendukung pada kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Dalam metode pendekatan ABCD ini, pertanyaan kepada warga desa bukan lagi "Apa masalah di desa ini?" tetapi diganti menjadi "Apa yang membuat Bapak dan Ibu betah di desa ini?", "Apa saja potensi di desa ini?". Pertanyaan seperti ini pasti membuat haru warga desa, karena warga berpikir para pemimpin atau kelompok yang ingin melakukan pembangunan, ingin menggali apa yang dimiliki desa, dan karena berdasarkan apa yang dimiliki desa membuat warga desa semangat dalam membangun desa.
ADVERTISEMENT
Jika kelompok masyarakat atau pemimpin pemerintahan menanyakan "Apa masalah di desa ini?" maka warga desa akan berpikir "Ya sudah apa yang mereka mau memberikan, kami warga desa terima," dan rata-hal ini akan percuma, karena setelah para warga apa yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah, warga desa tidak mau merawat pemberian dari kelompok atau pimpinan pemerintahan karena mereka menurut mereka "Lah ini kan dikasih, ntar kalau habis ya sudah tinggal minta lagi", contoh bantuan dari pemerintah berupa bantuan uang tunai untuk meningkatkan perekonomian, ya memang akan menyelesaikan suatu masalah, tetapi sifatnya sementara, ketika uang bantuan habis ya mereka akan susah lagi perekonomiannya.
Beda dengan "Apa potensi dari desa bapak-ibu?" lalu dijawab oleh warga "Di sini ada objek wisata waduk dan tanah di sini subur", dan bantuan dana dari kelompok atau pemerintah dibuatkan objek wisata dan wisata edukasi seperti berkebun atau menanam padi, maka warga akan merawat dan mengembangkan apa yang sudah dibangun karena bantuannya itu sesuai dengan potensi apa yang dimiliki oleh suatu desa dan dari potensi ini desa dan warganya sama-sama mendapatkan pemasukan/pendapatan.
ADVERTISEMENT
Contoh lainnya jalan yang rusak dan tidak bisa diperbaiki karena kontur tanah yang tidak memadai, maka warga desa memanfaatkan jalan sebagai trek balap motor trail, dan menyelenggarakan balapan, dari kegiatan ini warga dan desa mendapatkan pemasukan, dan baik itu desa ataupun warganya pasti akan semangat dalam merawat dan mempromosikan apa yang sudah dibangun.
Bagaimana? apakah kalian sudah paham? Jika belum, inti dari artikel ini adalah perlu adanya perubahan pola pikir demi mengembangkan suatu desa, bukan hanya "memberi dana" tetapi "memberi dana lalu mengolahnya sesuai potensi dari desa" dan mengembangkannya dengan metode pendekatan ABCD ini.
Kalian yang membaca artikel ini apakah sudah muncul semangat dalam membangun desa? Jangan lupa dipraktikkan ya.. terima kasih
ADVERTISEMENT