FOMO dan Media Sosial: Benarkah Kita Takut Tertinggal dari Orang Lain?

mahasiswa teknik elektro universitas pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hafiz Alghifari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah tidak, saat sedang membuka media sosial, kita melihat teman sedang berkumpul, jalan-jalan, atau mengikuti suatu tren, lalu tiba-tiba merasa seperti ketinggalan sesuatu? Saya sendiri pernah mengalaminya. Awalnya saya hanya ingin melihat media sosial sebentar, tetapi setelah melihat unggahan teman-teman, muncul pikiran seperti, “Kenapa saya tidak ikut?” atau “Kok mereka bisa melakukan banyak hal, sedangkan saya tidak?” Dari pengalaman tersebut, saya mulai menyadari bahwa media sosial ternyata bisa membuat kita merasa takut tertinggal dari orang lain. Perasaan seperti ini sering disebut sebagai FOMO atau Fear of Missing Out.
FOMO adalah perasaan takut ketinggalan terhadap sesuatu yang sedang dilakukan atau dialami oleh orang lain. Misalnya, ketika teman-teman sedang berkumpul dan kita tidak ikut, kita bisa merasa ingin tahu apa yang mereka lakukan. Begitu juga ketika ada tren baru yang sedang ramai di media sosial. Kita terkadang merasa harus mengikuti tren tersebut agar tidak merasa berbeda dari orang lain. Fenomena seperti ini cukup dekat dengan kehidupan anak muda, terutama karena hampir setiap hari kita menggunakan media sosial.
Media sosial sebenarnya memiliki banyak manfaat. Kita bisa berkomunikasi dengan teman, mendapatkan informasi, mencari hiburan, bahkan menemukan berbagai hal baru. Namun, di sisi lain, terlalu sering menggunakan media sosial juga bisa membuat kita lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain. Ketika membuka Instagram atau TikTok, misalnya, kita bisa melihat banyak orang yang sedang berlibur, berkumpul bersama teman, mendapatkan prestasi, atau mencoba sesuatu yang baru. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita sendiri.
Masalahnya, apa yang kita lihat di media sosial sebenarnya hanya sebagian dari kehidupan seseorang. Kebanyakan orang tentu lebih memilih membagikan momen yang menyenangkan dan menarik. Kita jarang melihat seseorang mengunggah ketika sedang mengalami kegagalan, merasa bosan, atau sedang memiliki masalah. Akibatnya, kehidupan orang lain terlihat seperti selalu menyenangkan. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka alami di balik unggahan tersebut.
Saya juga pernah merasa ingin mengikuti sesuatu hanya karena melihat banyak orang melakukannya. Ketika ada tren yang sedang ramai, saya merasa harus mengetahui tren tersebut agar tidak ketinggalan pembicaraan. Bahkan, terkadang muncul keinginan untuk ikut meskipun sebenarnya saya tidak terlalu tertarik. Dari situ saya menyadari bahwa ada kalanya kita melakukan sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut merasa berbeda atau tertinggal dari lingkungan sekitar.
Sebagai mahasiswa, perasaan seperti ini juga cukup sering muncul. Kita mungkin melihat teman yang aktif mengikuti organisasi, perlombaan, kegiatan kampus, atau mendapatkan berbagai prestasi. Ketika melihatnya di media sosial, terkadang kita berpikir bahwa diri kita belum melakukan banyak hal. Padahal, setiap mahasiswa mempunyai kesibukan dan proses yang berbeda. Ada yang aktif dalam organisasi, ada yang lebih fokus pada kuliah, ada juga yang memiliki kegiatan lain di luar kampus. Membandingkan kehidupan kita dengan orang lain hanya berdasarkan apa yang mereka unggah tentu tidak sepenuhnya adil.
Menurut saya, FOMO juga tidak hanya muncul karena takut ketinggalan tren. Ada keinginan untuk diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Ketika melihat teman-teman melakukan sesuatu tanpa kita, terkadang muncul rasa takut bahwa kita akan dianggap tidak dekat dengan mereka atau bahkan merasa sendirian. Jadi, FOMO sebenarnya bisa berkaitan dengan kebutuhan kita sebagai manusia untuk merasa diterima oleh lingkungan.
Contohnya sederhana. Ketika beberapa teman berkumpul tanpa mengajak kita, kemudian mereka mengunggah foto atau video di media sosial, kita mungkin merasa tidak dilibatkan. Hal yang sama juga bisa terjadi ketika melihat teman mendapatkan prestasi atau pengalaman baru. Kita merasa tertinggal hanya karena melihat apa yang mereka capai. Padahal, belum tentu kehidupan mereka lebih baik daripada kehidupan kita. Kita hanya melihat satu bagian dari kehidupan mereka melalui media sosial.
Karena itu, menurut saya, FOMO perlu disikapi dengan lebih bijak. Salah satu caranya adalah mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Kita juga bisa membatasi waktu menggunakan media sosial jika merasa terlalu sering memikirkan kehidupan orang lain. Sebelum mengikuti suatu tren, kita bisa bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya memang ingin melakukan ini, atau saya hanya takut ketinggalan?” Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu kita membedakan keinginan sendiri dengan tekanan dari lingkungan.
Saya sendiri mulai belajar bahwa tidak semua hal yang dilakukan orang lain harus saya ikuti. Tidak ikut berkumpul, tidak mengikuti tren tertentu, atau tidak mengetahui sesuatu yang sedang viral bukan berarti saya tertinggal. Saya juga mulai memahami bahwa setiap orang mempunyai waktunya masing-masing. Daripada terus melihat apa yang dilakukan orang lain, lebih baik menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal yang memang saya sukai dan bermanfaat bagi diri sendiri.
Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Media sosial tetap memberikan banyak manfaat jika digunakan dengan baik. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa apa yang muncul di media sosial bukan gambaran kehidupan seseorang secara keseluruhan. Karena itu, kita tidak seharusnya menjadikan unggahan orang lain sebagai standar untuk menilai kehidupan kita sendiri.
Mungkin selama ini yang kita takutkan bukan hanya ketinggalan sebuah tren, tetapi juga merasa tertinggal dari kehidupan orang lain. Padahal, setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing. Kita tidak harus selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain agar merasa cukup. Tidak ikut dalam suatu kegiatan atau tidak mengikuti tren terbaru bukan berarti kita gagal. Terkadang, berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai menikmati proses sendiri justru membuat kita lebih menghargai kehidupan yang sedang kita jalani.
