Konten dari Pengguna

Ketika AI Menjawab, Apakah Manusia Masih Berpikir?

Hafiz Alghifari

Hafiz Alghifari

mahasiswa teknik elektro universitas pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hafiz Alghifari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi gambar hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar hasil AI

Pernahkah kita mendapatkan tugas kuliah, lalu hal pertama yang dilakukan bukan membuka buku atau mencari jurnal, tetapi membuka AI? Tinggal mengetik pertanyaan, dalam beberapa detik jawaban sudah muncul di layar. Praktis, cepat, dan terkadang jawabannya terlihat begitu meyakinkan. Bagi mahasiswa, AI memang seperti memiliki “teman belajar” yang selalu siap membantu kapan saja. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar sedang belajar, atau hanya sedang mencari cara tercepat untuk menyelesaikan tugas?

Pertanyaan tersebut semakin relevan karena penggunaan AI di kalangan mahasiswa semakin mudah dilakukan. AI bukan lagi teknologi yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Saat ini, mahasiswa dapat menggunakannya untuk berbagai keperluan, mulai dari mencari ide, memahami materi yang sulit, membuat rangkuman, menerjemahkan teks, hingga membantu menyusun tulisan. Kehadiran AI tentu memberikan banyak kemudahan, terutama ketika mahasiswa sedang menghadapi banyak tugas dan memiliki waktu yang terbatas.

Jika digunakan dengan benar, AI sebenarnya bisa memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa. Tidak semua materi perkuliahan mudah dipahami hanya dengan mendengarkan penjelasan dosen atau membaca buku. Ada kalanya mahasiswa membutuhkan penjelasan tambahan agar lebih memahami suatu konsep. Dalam kondisi seperti ini, AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memberikan penjelasan dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

Selain itu, AI juga dapat membantu mahasiswa ketika sedang mencari ide untuk tugas. Misalnya, ketika mendapatkan tugas membuat artikel tetapi masih bingung menentukan topik, mahasiswa bisa menggunakan AI untuk mendapatkan beberapa pilihan ide. Setelah itu, ide tersebut dapat dikembangkan kembali dengan pemikiran dan sudut pandang sendiri. Dengan cara seperti ini, AI bukan menggantikan mahasiswa dalam belajar, tetapi membantu mahasiswa menemukan arah ketika mengalami kesulitan.

AI juga dapat membantu menghemat waktu dalam beberapa pekerjaan. Membuat rangkuman dari materi yang panjang, menerjemahkan teks, atau mencari penjelasan awal mengenai suatu topik dapat dilakukan dengan bantuan AI. Bagi mahasiswa yang memiliki banyak tugas dan kegiatan, kemudahan seperti ini tentu cukup membantu. Namun, kemudahan tersebut tetap harus digunakan dengan batas yang wajar.

Masalah mulai muncul ketika mahasiswa terlalu bergantung pada AI. Karena AI dapat memberikan jawaban dengan cepat, kita bisa saja terbiasa mencari jawaban instan setiap kali menemukan kesulitan. Padahal, proses mencari jawaban sendiri sebenarnya merupakan bagian penting dari kegiatan belajar.

Misalnya, ketika mendapatkan soal dari dosen, seorang mahasiswa bisa langsung memasukkan soal tersebut ke AI dan mengambil jawaban yang diberikan. Tugas memang menjadi lebih cepat selesai, tetapi apakah mahasiswa tersebut benar-benar memahami materi? Belum tentu. Jika kebiasaan ini terus dilakukan, mahasiswa bisa menjadi kurang terbiasa untuk membaca, menganalisis, dan mencari solusi dengan kemampuannya sendiri.

Menurut saya, di sinilah kita perlu berhati-hati. Menggunakan AI bukan berarti kita menjadi malas berpikir secara otomatis. Yang membuat kita malas adalah ketika AI digunakan sebagai pengganti proses berpikir. Jika setiap masalah langsung diserahkan kepada AI, kita tidak lagi memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mencoba dan belajar dari kesalahan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah AI tidak selalu memberikan informasi yang benar. Jawaban yang diberikan AI terkadang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu sesuai dengan fakta atau konteks yang sedang dibahas. Karena itu, mahasiswa tidak seharusnya langsung percaya terhadap semua informasi yang diberikan oleh AI.

Sebagai mahasiswa, kita tetap perlu melakukan pengecekan terhadap informasi yang diperoleh. Kita bisa membandingkannya dengan buku, jurnal, artikel dari sumber terpercaya, atau materi yang diberikan oleh dosen. Kebiasaan memeriksa informasi seperti ini justru penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Kemampuan berpikir kritis menjadi semakin dibutuhkan. Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui bagaimana cara menggunakan AI, tetapi juga harus bisa menilai apakah informasi yang diberikan masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, AI dapat menjadi alat yang membantu meningkatkan pengetahuan, bukan sekadar mesin untuk memberikan jawaban.

Penggunaan AI dalam mengerjakan tugas juga menjadi persoalan yang cukup menarik. Pada satu sisi, AI bisa membantu mahasiswa memahami materi dan mengembangkan ide. Namun, pada sisi lain, AI juga bisa digunakan sebagai jalan pintas dengan meminta teknologi tersebut mengerjakan seluruh tugas.

Menurut saya, ada perbedaan yang cukup jelas antara menggunakan AI untuk membantu belajar dan menggunakan AI untuk menggantikan pekerjaan kita. Ketika mahasiswa meminta AI menjelaskan materi yang belum dipahami, kemudian membaca kembali dan mempelajarinya, hal tersebut dapat membantu proses belajar. Berbeda jika mahasiswa hanya meminta AI membuat tugas, kemudian langsung mengumpulkannya tanpa membaca dan memahami isinya.

Tugas kuliah sebenarnya bukan hanya tentang mendapatkan nilai. Ada proses belajar yang ingin dicapai melalui tugas tersebut. Ketika seluruh proses diserahkan kepada AI, mahasiswa mungkin mendapatkan hasil yang terlihat baik, tetapi belum tentu mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari proses mengerjakannya.

Menurut saya, mahasiswa tidak perlu menjauhi AI. Justru, kita perlu belajar bagaimana menggunakan teknologi tersebut dengan lebih bijak. AI bisa digunakan untuk mencari ide awal, meminta penjelasan mengenai materi yang sulit, membuat contoh pertanyaan, atau membantu menemukan kesalahan dalam tulisan.

Setelah mendapatkan bantuan dari AI, mahasiswa tetap perlu melakukan proses selanjutnya. Informasi yang diperoleh harus dibaca dan dipahami, kemudian dibandingkan dengan sumber lain. Untuk tugas kuliah, mahasiswa juga sebaiknya mengembangkan jawaban berdasarkan pemahamannya sendiri. Dengan begitu, AI tetap menjadi bagian dari proses belajar tanpa mengambil alih seluruh proses tersebut.

Cara ini mungkin membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan sekadar menyalin jawaban dari AI. Namun, hasil yang didapatkan juga berbeda. Kita tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga mendapatkan pemahaman dan melatih kemampuan berpikir. Menurut saya, hal inilah yang sering terlupakan ketika kita terlalu fokus pada hasil yang cepat.

Pada akhirnya, AI sebenarnya bukan musuh bagi mahasiswa. Teknologi ini bisa menjadi teman belajar yang sangat membantu jika digunakan dengan cara yang tepat. Permasalahannya bukan pada keberadaan AI, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya.

Jika digunakan untuk membantu memahami sesuatu, AI dapat membuat proses belajar menjadi lebih mudah. Tetapi jika digunakan untuk menggantikan seluruh proses berpikir, AI justru dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sendiri.

Jadi, apakah AI membuat kita menjadi malas berpikir? Jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing. AI tidak secara otomatis membuat mahasiswa malas. Namun, penggunaan yang berlebihan dan tanpa kesadaran dapat membuat kita terbiasa dengan cara yang serba instan.

Sebagai mahasiswa di era digital, kita tidak harus memilih antara menggunakan AI atau berpikir sendiri. Kita bisa melakukan keduanya. Gunakan AI ketika memang membutuhkan bantuan, tetapi tetap luangkan waktu untuk membaca, memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan sendiri. Karena pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun tetap hanya sebuah alat. Yang menentukan apakah alat tersebut membawa manfaat atau justru membuat kita bergantung adalah cara kita menggunakannya.