Media Sosial dan Mahasiswa: Antara Kebutuhan, Hiburan, dan Tekanan Sosial

mahasiswa teknik elektro universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hafiz Alghifari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman sekarang, rasanya hampir sulit menemukan mahasiswa yang tidak menggunakan media sosial. Mulai dari Instagram, TikTok, WhatsApp, hingga berbagai platform lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Media sosial bukan hanya digunakan untuk mencari hiburan, tetapi juga untuk mendapatkan informasi, berkomunikasi, bahkan menunjang kegiatan perkuliahan.
Bagi mahasiswa, media sosial bisa memberikan banyak manfaat. Informasi mengenai tugas, kegiatan kampus, seminar, beasiswa, hingga lowongan magang sering kali lebih cepat ditemukan melalui media sosial. Tidak sedikit juga mahasiswa yang memanfaatkannya untuk membangun personal branding atau mempromosikan usaha kecil yang mereka jalankan.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, ada sisi lain yang terkadang tidak disadari. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membuat mahasiswa terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Ketika Media Sosial Membuat Kita Membandingkan Diri
Saat membuka media sosial, kita sering melihat teman yang sedang mengikuti organisasi, memenangkan lomba, mendapatkan beasiswa, pergi berlibur, atau berhasil mencapai sesuatu. Tanpa disadari, muncul pikiran seperti, “Kok dia sudah sejauh itu, sedangkan saya masih begini-begini saja?”
Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat pencapaian orang lain, tetapi tidak melihat proses, kegagalan, atau masalah yang mereka hadapi.
Hal inilah yang menurut saya perlu disadari oleh mahasiswa. Setiap orang mempunyai waktu dan proses yang berbeda. Perkuliahan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat sukses.
Media Sosial Tetap Bisa Dimanfaatkan Secara Positif
Bukan berarti mahasiswa harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Justru, jika digunakan dengan bijak, media sosial bisa menjadi sarana yang sangat bermanfaat.
Mahasiswa dapat mengikuti akun-akun edukatif, mencari informasi mengenai peluang akademik, mengikuti perkembangan isu sosial, atau membangun jaringan dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.
Media sosial juga dapat menjadi tempat untuk menunjukkan karya. Mahasiswa yang memiliki kemampuan menulis, desain, fotografi, memasak, atau bidang lainnya bisa menggunakan media sosial sebagai portofolio sederhana.
Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk scrolling tanpa tujuan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk belajar dan berkembang.
Belajar Mengatur Waktu di Tengah Kebiasaan Scroll
Salah satu tantangan terbesar adalah mengatur waktu. Niat awal membuka media sosial hanya untuk lima menit terkadang berubah menjadi satu jam karena terus berpindah dari satu konten ke konten lainnya.
Kebiasaan seperti ini terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan terus-menerus dapat mengganggu aktivitas lain, termasuk belajar dan mengerjakan tugas.
Menurut saya, mahasiswa tidak harus langsung menghapus semua media sosial. Yang lebih penting adalah mengetahui kapan harus berhenti. Misalnya, menghindari penggunaan media sosial ketika sedang mengerjakan tugas atau menetapkan waktu tertentu untuk beristirahat dan menikmati konten.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.
Sebagai mahasiswa, kita memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari perkembangan teknologi. Namun, kita tetap bisa memilih apakah media sosial akan menjadi sesuatu yang membantu kita berkembang atau justru membuat kita kehilangan banyak waktu.
Tidak perlu terlalu sibuk mengejar kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di layar. Lebih baik menggunakan media sosial sebagai tempat untuk belajar, berkarya, dan mencari peluang, sambil tetap fokus menjalani proses kita sendiri.
