Belajar Makna Kebersamaan dari Gowes Tuponan di Desa Caturharjo

Mahasiswa Manajemen UMY
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Hafiz Izaz Gamya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjadi mahasiswa magang bukan hanya soal menerapkan ilmu di lapangan, tapi juga tentang memahami kehidupan masyarakat dari dekat. Itulah yang saya rasakan saat mengikuti kegiatan Gowes Tuponan bersama warga Desa Caturharjo, tempat saya dan sembilan teman lainnya menjalani magang dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui program Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pada Minggu, 12 Oktober lalu, kami diundang oleh Lurah Desa Caturharjo untuk ikut serta dalam Gowes Tuponan โ kegiatan bersepeda santai yang rutin diadakan warga. Rutenya cukup unik, dari desa menuju Pantai Cangkring, yang berjarak cukup jauh namun penuh pemandangan indah dan semangat kebersamaan.
Sepanjang perjalanan, kami menyaksikan bagaimana antusiasme warga begitu tinggi. Ada anak-anak, orang tua, hingga remaja yang ikut bersepeda sambil bercanda dan saling menyemangati. Sesampainya di pantai, kami menikmati bubur dan teh manis bersama, sembari berbincang santai dengan warga sekitar. Momen sederhana, tapi terasa begitu hangat.
Dari kegiatan ini, saya belajar bahwa kebersamaan tidak selalu harus dalam acara besar. Melalui kegiatan sederhana seperti bersepeda, warga Desa Caturharjo menunjukkan betapa kuatnya rasa gotong royong dan kekeluargaan yang mereka miliki. Sebagai mahasiswa, pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai interaksi sosial dan pentingnya hadir di tengah masyarakat, bukan sekadar sebagai pengamat, tapi juga sebagai bagian dari mereka.
