Konten dari Pengguna

Media Sosial dan Attention Span Gen Z: Makin Sering Scrolling, Makin Sulit Fokus?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hafiz Alkabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kebiasaan menggunakan media sosial yang tanpa disadari dapat menyita perhatian dan waktu dalam aktivitas sehari-hari (source: Unsplash/Nathan Dumlao).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kebiasaan menggunakan media sosial yang tanpa disadari dapat menyita perhatian dan waktu dalam aktivitas sehari-hari (source: Unsplash/Nathan Dumlao).

Pernah berniat membuka TikTok sebentar, tetapi malah menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling? Kebiasaan mengonsumsi media sosial, terutama konten video pendek, kini menjadi bagian dari keseharian Gen Z. Namun, di balik hiburan yang mudah diakses, muncul pertanyaan tentang hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan attention span atau rentang perhatian.

Konten seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menawarkan video singkat yang bisa ditonton secara berurutan. Ketika satu video selesai, kita tinggal menggeser layar untuk menemukan konten berikutnya. Pola ini membuat aktivitas scrolling terasa praktis dan menyenangkan, bahkan terkadang membuat kita lupa waktu.

Masalahnya, kebiasaan tersebut bisa menjadi tantangan ketika kita harus melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, seperti membaca buku, mengikuti perkuliahan, atau mengerjakan tugas. Baru membaca beberapa paragraf, tangan sudah ingin membuka ponsel. Saat menonton video panjang, perhatian pun mudah beralih ke hal lain.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Acta Psychologica pada 2025 menemukan adanya hubungan antara intensitas penggunaan video pendek dan kesulitan perhatian yang dilaporkan pengguna media sosial. Penelitian tersebut juga menyoroti kebiasaan scrolling secara terus-menerus tanpa tujuan yang jelas. Meski begitu, temuan ini tidak otomatis membuktikan bahwa media sosial menjadi satu-satunya penyebab seseorang sulit fokus. (Alruwaili, 2025)

Hal ini penting karena tidak semua penggunaan media sosial berdampak buruk. Video pendek juga bisa menjadi sarana belajar, mencari informasi, dan menemukan perspektif baru. Dampaknya dapat berbeda, tergantung pada jenis konten, pola penggunaan, dan kemampuan seseorang mengatur waktu.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar berapa lama kita menggunakan media sosial, melainkan bagaimana kita menggunakannya. Apakah kita membuka aplikasi dengan tujuan yang jelas, atau justru terus scrolling tanpa sadar?

Sesekali, kita bisa mencoba membatasi waktu penggunaan media sosial, menonaktifkan notifikasi yang tidak penting, dan memberi waktu khusus untuk membaca atau belajar tanpa gangguan ponsel.

Pada akhirnya, media sosial bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Namun, kita perlu menyadari bahwa perhatian juga merupakan hal yang berharga. Jangan sampai kebiasaan menikmati konten singkat membuat kita lupa melatih diri untuk fokus pada hal-hal yang membutuhkan waktu dan kesabaran.