Konten dari Pengguna

Ekonomi Syariah Makin Populer, Tapi Sudahkah Kita Paham?

https://pixabay.com/id/photos/uang-rupiah-gaji-ekonomi-keuangan-3431772/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/photos/uang-rupiah-gaji-ekonomi-keuangan-3431772/

Bayangkan seorang teman Anda baru membuka rekening di bank syariah. Ia bangga, lalu bercerita, "Tenang, ini tanpa bunga, jadi aman." Anda mengangguk. Tapi ketika Anda bertanya, "Terus, kalau ambil pembiayaan, skemanya pakai akad apa?" ia terdiam, lalu tertawa kecil, "Nah, itu aku belum tahu."ujarnya Adegan seperti ini mungkin akrab bagi banyak dari kita. Dan menurut saya, ia menggambarkan dengan pas keadaan literasi keuangan syariah di Indonesia hari ini: kita sudah sangat mengenal istilahnya, tetapi belum tentu memahami cara kerjanya. Kita sedang berada di tengah perkembangan ekonomi syariah yang semakin besar. Istilah syariah dan halal semakin sering kita jumpai, aset keuangan syariah terus mengalami pertumbuhan, dan pembahasannya pun semakin luas, mulai dari lingkungan kampus hingga media. Namun, meningkatnya popularitas belum tentu berarti meningkatnya pemahaman. Sebab, mengenal sebuah istilah tidak selalu berarti memahami bagaimana konsep tersebut sebenarnya bekerja. Kabar baiknya, kita tidak sedang berjalan di tempat. Survei Bank Indonesia menunjukkan indeks literasi ekonomi syariah sudah menyentuh sekitar 50 persen, yang berarti separuh Muslim Indonesia dinilai memahaminya dengan baik. Dalam beberapa tahun, ini lompatan yang sangat berarti dan patut diapresiasi. Masyarakat kita jelas tidak sedang buta soal syariah. Tetapi di sinilah saya merasa kita perlu jujur. Pemahaman yang baik pada tingkat konsep belum otomatis berubah menjadi tindakan. Survei OJK dan BPS menunjukkan literasi keuangan syariah berada di kisaran 43 persen, sementara penggunaan produknya baru sekitar 13 persen. Jarak tersebut menunjukkan satu hal penting: banyak orang mungkin sudah mengenal dan mengetahui konsepnya, tetapi belum benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, jika upaya hanya berhenti pada penambahan seminar dan kampanye, kesenjangan antara pengetahuan dan praktik belum tentu akan semakin kecil. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap konsep, mekanisme, dan manfaat keuangan syariah. Basith dan Fadli (2025) menjelaskan bahwa keterbatasan edukasi, kurangnya sosialisasi, serta minimnya informasi yang mudah dipahami menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat kurang memahami produk keuangan syariah. Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat ragu dalam memilih dan menggunakan produk keuangan syariah. Karena itu, literasi keuangan syariah tidak cukup hanya dengan mengenal istilah atau label syariah, tetapi juga perlu disertai pemahaman terhadap prinsip, mekanisme, serta nilai-nilai yang mendasarinya. Pemahaman yang lebih baik dapat membantu masyarakat mengambil keputusan ekonomi secara lebih bijak dan sesuai dengan prinsip syariah. Teman di awal cerita tersebut sebenarnya tidak keliru. Ia hanya baru sampai pada tahap awal pemahaman. Ia mengenal salah satu ciri bank syariah, tetapi belum memahami bagaimana mekanisme pembagian keuntungan dan risiko, apa saja hak serta kewajibannya, maupun perbedaan antara satu produk dengan produk lainnya. Padahal, justru melalui pemahaman dan praktik terhadap hal-hal tersebut, nilai-nilai syariah dapat benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, kita juga perlu melihat persoalan ini secara lebih seimbang. Rendahnya penggunaan layanan syariah tidak sepenuhnya disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat. Banyak faktor yang memengaruhi keputusan seseorang, mulai dari kemudahan aplikasi, jangkauan layanan, keberagaman produk, biaya, hingga tingkat kepercayaan. Seseorang mungkin memiliki kepedulian yang tinggi terhadap prinsip syariah, tetapi tetap menggunakan layanan lain karena dianggap lebih praktis, mudah diakses, dan sudah tersedia dalam perangkat yang digunakan sehari-hari. Karena itu, tantangan industri syariah bukan sekadar meningkatkan pemahaman masyarakat, melainkan juga menghadirkan layanan yang mudah, praktis, dan nyaman sehingga pilihan berbasis syariah tidak terasa lebih sulit dibandingkan alternatif lainnya. Karena itu, edukasi perlu bergeser arah. Selama ini kita sibuk menjawab "apa itu ekonomi syariah?". Pertanyaan yang lebih berguna hari ini adalah "bagaimana saya memakainya dalam hidup sehari-hari?" Bagaimana memilih pembiayaan rumah yang sesuai kebutuhan, menyalurkan zakat dan wakaf dengan tepat, atau memastikan produk yang kita beli benar-benar halal dari proses hingga kemasannya. Edukasi yang dekat dengan keputusan nyata lebih mudah diingat dan lebih mudah dipraktikkan. Pemahaman juga menjadi salah satu bentuk perlindungan bagi konsumen. Ketika sebuah industri berkembang dengan cepat, selalu ada kemungkinan bahwa penggunaan label tumbuh lebih cepat daripada penerapan substansinya. Masyarakat yang memiliki pemahaman cukup akan lebih kritis dalam menilai suatu produk dan tidak mudah terbawa oleh label semata. Dalam hal ini, konsumen yang cerdas justru dapat menjadi pengawas bagi perkembangan industri. Dengan demikian, pertumbuhan industri tidak hanya terlihat besar dari sisi angka, tetapi juga berlangsung secara sehat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai yang dibawanya. Pada akhirnya, ekonomi syariah Indonesia sedang berada dalam momentum pertumbuhan yang besar. Namun, pertumbuhan tersebut akan lebih berarti jika masyarakat tidak hanya mengikuti perkembangannya, tetapi juga memahami bagaimana ekonomi syariah bekerja dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan ke depan bukan hanya membuat ekonomi syariah semakin dikenal, tetapi juga memastikan masyarakat dapat memahami, mengakses, dan menggunakannya dengan penuh keyakinan. pertanyaan terpenting tidak hanya “Sudahkah kita menggunakan produk syariah?”, tetapi “Sudahkah kita benar-benar memahaminya?" Sebab, menjadi bagian dari perkembangan ekonomi syariah bukan hanya tentang mengikuti arus, melainkan tentang mampu menentukan pilihan ekonomi secara sadar.