Pengalaman Pembelajaran Lintas Budaya Papua dalam Pertukaran Mahasiswa Merdeka

Hafizh Daffa
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Konten dari Pengguna
23 Juli 2023 9:42 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Hafizh Daffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kegiatan Opening Ceremony Mahasiswa Inbound Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Papua Barat Daya
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Opening Ceremony Mahasiswa Inbound Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Papua Barat Daya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Ya itu lah slogan yang menjadi pembuka dari kisah perjalanan saya menginjakkan kaki serta mengenyam pendidikan lintas budaya di tanah Papua.
Artikel ini mengisahkan pengalaman menakjubkan saya selaku mahasiswa program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Pamulang dalam menjelajahi Papua melalui program Pertukaran Mahasiswa Merdeka.
Program ini menjadi jendela bagi para mahasiswa untuk memasuki dunia baru, serta memberi pengalaman yang berharga, melalui interaksi langsung dengan masyarakat adat serta eksplorasi alam yang menakjubkan.
Pertukaran Mahasiswa Merdeka merupakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang memberikan peluang kepada mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran di lingkungan yang berbeda.
Bukan hanya itu, program ini juga memberikan manfaat dalam membangun karakter melalui pengembangan keterampilan bahasa serta komunikasi antar budaya, keterampilan kepemimpinan, dan kemandirian, serta memperkuat pengalaman belajar melalui pembelajaran lintas disiplin.
ADVERTISEMENT
Selain itu, mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar menumbuhkan sikap empati dan toleransi antar budaya, serta mengembangkan keterampilan global dan menghadapi tantangan global yang lebih besar.
Pada tanggal 29 Agustus 2022, saya bersama 157 mahasiswa dari 70 Perguruan Tinggi seantero Indonesia terbang ke Papua untuk mengenyam pendidikan lintas budaya tepatnya di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Papua Barat Daya.
Bagi saya, memiliki kesempatan untuk melaksanakan kegiatan selama satu semester dan merasakan keindahan tanah Papua yang dijuluki dengan “Surga Kecil Jatuh ke Bumi” melalui perantara program Pertukaran Mahasiswa Merdeka merupakan kesempatan yang sangat berharga.
Tanah Papua merupakan rumah bagi keberagaman budaya dan alam yang memukau. Dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, kami memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat adat Papua. Kami terlibat dalam upacara adat, mempelajari seni dan kerajinan tradisional, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat daerah terpencil yang ada di tanah Papua.
Kegiatan Modul Nusantara di Pulau Matan Kabupaten Raja Ampat
Dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, saya tidak hanya mengenyam pendidikan formal, lebih dari itu saya mengikuti berbagai kegiatan yang ada di dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, salah satunya yaitu Modul Nusantara.
ADVERTISEMENT
Kegiatan Modul Nusantara merupakan kegiatan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di tanah Papua. Bukan sekadar berkunjung, saya bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya disajikan penjelasan sejarah serta budaya yang ada di lingkungan tersebut oleh salah satu tokoh masyarakat, tujuan dari kunjungan ini yaitu agar para mahasiswa mengetahui sejarah serta budaya yang ada di sana.
Salah satu tempat yang kami kunjungi dalam kegiatan Modul Nusantara yaitu Pulau Doom, pulau yang menjadi pintu masuk Belanda ke tanah Papua pada masa penjajahan.
Pulau Doom menyimpan jejak sejarah sebagai ibu kota pemerintahan kolonial Belanda dan salah satu pusat peradaban islam di wilayah Sorong. Pulau Doom ini merupakan pulau terdekat dari Kota Sorong, perjalanan yang kami tempuh ke sana yaitu sekitar 10-15 menit menggunakan perahu.
Kegiatan Modul Nusantara di Pulau Doom
Melalui program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini saya mampu merasakan akulturasi budaya di tanah Papua serta menjadi tempat bagi saya untuk bertukar gagasan dan pemahaman antarbudaya. Saya bersama mahasiswa lainnya belajar untuk melihat dunia dari perspektif yang luas.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya mengenal budaya Papua, saya juga belajar mengenal budaya-budaya yang ada di Indonesia melalui interaksi langsung dengan rekan-rekan yang mengikuti program ini.
Dengan begitu, saya memiliki banyak relasi yang berfungsi sebagai jembatan untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan dan budaya satu sama lain, memupuk persahabatan yang kuat, serta mendorong kolaborasi yang bermanfaat dalam berbagai bidang.
Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ditutup dengan kegiatan Kontribusi Sosial yang dilaksanakan di Kampung Fafanlap yang berada di pulau yang begitu indah nan menakjubkan yang dijuluki dengan “The Last Paradise” yaitu Raja Ampat.
Foto bersama anak-anak masyarakat Kampung Warmon Kokoda
Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang tidak akan pernah saya lupakan selama saya berkegiatan di tanah Papua. Sebab selain melaksanakan Kontribusi Sosial, kami juga mendatangi beberapa tempat yang menjadi icon Raja Ampat, salah satunya Puncak Harfat.
ADVERTISEMENT
Untuk sampai ke Kampung Fafanlap, saya bersama rekan-rekan mahasiswa memerlukan waktu kurang lebih 12 jam perjalanan laut dari kota Sorong. Ya, 12 jam terombang-ambing di laut adalah hal yang sangat melelahkan serta membosankan, belum lagi kami harus tinggal selama lima hari di Kampung Fafanlap tanpa sinyal dan listrik yang tersedia 12 jam per hari.
Namun, semua itu terbayar dengan keindahan dan kehangatan warga Kampung Fafanlap dalam menyambut kedatangan kami. Selama lima hari kami di sana, kami melaksanakan kegiatan Kontribusi Sosial dengan fokus pada pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Ketika kami melaksanakan kegiatan ini, warga Kampung Fafanlap sangat antusias mengikuti kegiatan yang kami laksanakan di sana, sehingga membuat kami semangat dan betah walaupun harus hidup tanpa sinyal dan listrik yang hanya ada pada pukul 18.00 sampai 06.00.
ADVERTISEMENT
Ada satu kejadian yang menarik sekaligus mengerikan bagi saya, yaitu ketika sampai di Kampung Fafanlap, saya menikmati waktu sore dengan berenang di sekitar dermaga.
Keesokan harinya ketika saya pergi untuk sarapan, saya mendengar kabar dari warga setempat bahwasanya ikan laut yang tadinya akan menjadi hidangan sarapan saya bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya diterkam oleh buaya yang di mana buaya itu berada di sekitar dermaga tempat saya berenang kemarin.
Merinding dan bersyukur, itulah yang saya rasakan ketika mendengar peristiwa tersebut. Peristiwa itu membuat saya merasa beruntung dan bersyukur karena saat saya berenang saya tidak bertemu dengan buaya yang ada di sekitaran dermaga tersebut.
Kontribusi Sosial dalam bidang pendidikan di SD Negeri 15 Fafanlap Raja Ampat
Selama satu semester saya hidup dan berkegiatan di tanah Papua, saya merasakan keramahan warga Papua serta keindahan toleransi yang tinggi dalam menghadapi keberagaman suku, ras, dan agama.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut membuat saya semakin yakin, bahwa tanah Papua merupakan rumah bagi keberagaman budaya serta pusat inspirasi dan persahabatan yang dapat mendorong hubungan antarbudaya yang positif yang membentang melampaui batas-batas geografis.
Bersama masyarakat di Rumah Etnik Papua
Petualangan ini merupakan petualangan tak tergantikan. Pengalaman menjelajahi alam yang menakjubkan dan memahami keberagaman budaya memberi pelajaran yang berharga dalam menghargai, menerima, dan merangkul perbedaan.
Program ini menciptakan pengalaman pendidikan lintas budaya yang mendalam, memungkinkan mahasiswa merenungkan jalan hidup mereka dan merangkul visi yang lebih luas.
Saya berharap tidak ada lagi diskriminasi rasial atas warna kulit yang tidak sama, tidak ada lagi yang menciderai skenario Tuhan yang telah menciptakan keberagaman, semoga. Papua, renjana selamanya.