Konten dari Pengguna

Mengintip Budaya Makan Apa pun Harus dengan Nasi ala Orang Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hafsya Raimadhani Halim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seporsi nasi yang disajikan di mangkok. Foto: Unsplash/Pille R. Priske
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seporsi nasi yang disajikan di mangkok. Foto: Unsplash/Pille R. Priske

Kita sama-sama tahu bahwa salah satu makanan pokok orang Indonesia adalah nasi. Di antara beranekaragamnya umbi-umbian dan serealia (biji-bijian), padi menjadi bahan pangan yang paling populer. Kondisi geografis Indonesia turut mendukung penanaman padi, sehingga budaya memakan nasi telah mengakar kuat dari zaman kuno hingga hari ini.

Makanya, kita dapat melihat budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat melihat teman kita atau orang lain di media sosial yang mengonsumsi mie atau bakso dengan disertai nasi.

Segenggam Padi Menyimpan Nilai Sejarah, Politik, dan Budaya

Sejarawan Fadly Rahman menyebutkan bahwa budidaya tanaman padi telah dilakukan dari Zaman Jawa Kuno saat masa Kerajaan Hindu-Buddha. Banyak pengaruh dari India dan Cina yang masuk ke Indonesia, termasuk pula makanan. Ditambah lagi, iklim subtropis dengan kondisi lahan pertanian di Indonesia yang rata-rata cocok untuk penanaman padi, menjadikan nasi sebagai salah satu makanan pokok sejak dahulu kala.

Budaya konsumsi nasi tidak terlepas dari pengaruh politik. Sepanjang sejarah Indonesia, tercatat program Swasembada Beras telah terlaksana sebanyak tiga kali, yaitu saat era kepemimpinan Soeharto, SBY, dan Prabowo.

Namun, program "beras-sentris" ini justru melupakan jenis pangan lain dan semakin memperkuat stigma sosial yang mendoktrinisasi masyarakat bahwa "belum bisa disebut makan jika belum makan nasi" atau "belum kenyang kalau tidak ada nasi".

Selain itu, terbentuk pola pikir di masyarakat yang beranggapan nasi adalah makanan yang lebih baik daripada umbi-umbian karena umbi-umbian cenderung dipandang sebagai makanan "orang desa".

Kebiasaan Makan Apapun Disertai Nasi Merupakan Hasil dari Konstruksi Sosial

Berdasarkan teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, realitas sosial seperti kebiasaan mengonsumsi nasi bukanlah kebenaran objektif yang tercipta dengan sendirinya, melainkan sebuah kebudayaan yang lahir dari interaksi sosial dan sosialisasi manusia dari masa lalu yang akhirnya membentuk tindakan yang dinormalisasi bagi masyarakatnya.

Proses konstruksi sosial terbagi menjadi 3 tahap, yakni sebagai berikut.

  1. Eksternalisasi, yaitu bentuk ekspresi ide dan tindakan manusia. Orang Jawa Kuno yang suka menanam padi, program Swasembada Beras yang sudah dilaksanakan berulang-ulang, serta stigma sosial yang menganggap nasi lebih "elite" dan dipandang sebagai tanda kesejahteraan seseorang.

  2. Objektivasi, ketika ide dan tindakan tersebut mulai dipraktikkan pada kehidupan sehari-hari. Banyak masyarakat Indonesia yang perlahan-lahan mulai mengonsumsi nasi setiap hari dan menjadikannya sebagai makanan pokok.

  3. Internalisasi, di mana masyarakat sudah menerima ide atau tindakan tersebut dan menganggap wajar sebagai bagian dari kehidupan. Nasi tidak hanya dianggap sebagai pangan utama, tetapi juga menjadi pendamping makanan yang biasanya tidak memakai nasi. Contoh yang sering kita amati adalah memakan nasi dengan mie, martabak asin/telur, dimsum, atau bahkan pizza.