Konten dari Pengguna

Trauma Healing di Usia Dewasa: Mengapa Inner Child Semakin Banyak Dibahas?

Hazimah Azlia Harjanti

Hazimah Azlia Harjanti

Mahasiswi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hazimah Azlia Harjanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Source: Pexels.com

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "inner child" dan "trauma healing" semakin sering muncul di media sosial, buku-buku self-development, hingga sesi terapi psikologi. Tapi mengapa konsep inner child kini begitu ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan dewasa muda?

Apa Itu Inner Child?

Secara sederhana, inner child adalah bagian dalam diri kita yang membawa kenangan, pengalaman, emosi, dan luka dari masa kecil. Ia merepresentasikan "anak kecil" di dalam diri, sosok polos yang penuh harapan, tapi juga rentan terluka.

Setiap orang pasti memiliki inner child, entah disadari atau tidak. Ketika masa kecil diwarnai dengan pengalaman negatif seperti penelantaran emosional, kekerasan verbal, atau tekanan berlebihan, luka-luka ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara kita berhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain.

Mengapa Inner Child Semakin di Kenal di Era Sekarang?

Ada beberapa alasan kenapa pembicaraan soal inner child booming di era modern:

1. Kesadaran Kesehatan Mental Semakin Tinggi

Generasi sekarang lebih terbuka dalam membahas kesehatan mental. Banyak yang mulai memahami bahwa mengatasi luka lama bukan sekadar "move on" tetapi perlu disembuhkan dengan menyentuh akar masalahnya.

2. Pola Asuh Tradisional Dipertanyakan

Dulu, banyak orang tua menggunakan pola asuh keras karena faktor budaya atau keterbatasan pemahaman. Kini, banyak orang dewasa mulai mempertanyakan dampak pola asuh tersebut terhadap kepercayaan diri, pola pikir, hingga cara mereka menjalin hubungan.

3. Paparan Media Sosial dan Literasi Psikologi

Lewat TikTok, Instagram, dan YouTube, konsep psikologi menjadi lebih mudah diakses. Banyak psikolog, terapis, dan influencer membagikan konten soal healing, self-love, dan inner child dengan bahasa yang relatable.

4. Kebutuhan Akan Pemulihan Diri

Dunia yang serba cepat, penuh tuntutan, dan kompetitif membuat banyak orang merasa "kosong" meski terlihat sukses. Proses menyembuhkan inner child menjadi salah satu jalan untuk menemukan kembali rasa aman, cinta diri, dan ketenangan batin.

Ciri-ciri Inner Child yang Terluka

Kalau kamu pernah merasakan hal-hal ini, bisa jadi itu suara dari inner child yang butuh diperhatikan:

1. Merasa sangat takut akan penolakan atau kegagalan.

2. Sulit mempercayai orang lain secara emosional.

3. Terlalu keras terhadap diri sendiri (self-critic ekstrem).

4. Sering merasa tidak cukup baik, meski sudah berusaha keras.

5. Kesulitan mengelola emosi, seperti marah atau sedih berlebihan.

Bagaimana Proses Trauma Healing Dimulai?

Menyembuhkan inner child bukan soal "menghapus" masa lalu, tetapi menerima, memahami, dan merawat bagian diri yang pernah terluka. Berikut beberapa langkah awal yang bisa dilakukan:

1. Mengenali Luka

Luangkan waktu untuk merefleksikan pengalaman masa kecil. Adakah kenangan yang masih terasa sakit saat diingat?

2. Memberi Validasi

Sadari bahwa semua perasaan itu valid. Kamu berhak merasa sedih, marah, atau kecewa atas apa yang terjadi dulu.

3. Membangun Self-Compassion

Perlakukan diri sendiri seperti kamu memperlakukan anak kecil yang butuh pelukan dan dukungan.

4. Mencari Bantuan Profesional

Terapi, konseling, atau bergabung dalam support group bisa mempercepat proses healing.

5. Latihan Inner Child Meditation atau Journaling

Menulis surat untuk inner child atau melakukan meditasi panduan bisa membantu mempererat hubungan dengan diri sendiri.

Membahas inner child bukan berarti kita menyalahkan masa lalu, orang tua, atau lingkungan. Ini tentang mengambil tanggung jawab atas penyembuhan diri sendiri agar kita tidak terus-menerus dikendalikan oleh luka lama.

Trauma healing di usia dewasa bukan proses yang instan, tapi dengan keberanian untuk "menggandeng tangan" si kecil dalam diri, perjalanan menuju kehidupan yang lebih utuh bisa dimulai.

Referensi:

Haugstvedt, K. T. S., & Haugstvedt, K. T. (2016). Health throughout the lifespan: The phenomenon of the inner child. International Journal of Qualitative Studies on Health and Well-being, 11(1), 31992. https://doi.org/10.3402/qhw.v11.31992

CPTSD Foundation. (2020, July 20). Healing trauma through inner child work. CPTSD Foundation. https://cptsdfoundation.org/2020/07/20/healing-trauma-through-inner-child-work