Saatnya Iduladha Ramah Lingkungan: Menjaga Bumi sebagai Amanah

Mahasiswa Administrasi Publik, Universitas Airlangga.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Haibah Tryagustin S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Raya Iduladha selalu menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Sejak pagi, masyarakat berkumpul di masjid untuk melaksanakan salat Id, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan penyembelihan dan pembagian daging kurban. Ada kebahagiaan ketika kita bisa berbagi rezeki dan membantu sesama menikmati hidangan bersama keluarga. Namun dibalik kegiatan tersebut, ada hal sederhana yang sering luput dari perhatian kita. Setelah daging kurban sampai di rumah, kantong plastik yang menjadi pembungkusnya sering kali langsung dibuang. Satu atau dua kantong mungkin terlihat sepele, tetapi bagaimana jika kebiasaan yang sama dilakukan oleh jutaan orang dalam waktu yang bersamaan? Tanpa disadari, semangat berbagi yang membawa kebahagiaan juga dapat meninggalkan persoalan bagi lingkungan.
Besarnya persoalan ini dapat dilihat dari perkiraan penggunaan kantong plastik saat Iduladha. ANTARA News Jawa Timur memberitakan bahwa potensi penggunaan kantong plastik untuk pembagian daging kurban pada 2022 mencapai 124.265.950 lembar dalam sehari (Violetta, 2022). Sementara itu, data KLHK yang dikutip Kompas.com pada 2024 memperkirakan kebutuhan kantong plastik sekali pakai mencapai 121,5 juta lembar atau setara dengan 608 ton (Pristiandaru, 2024). Meskipun angka dari kedua tahun tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan kenaikan atau penurunan penggunaan plastik, jumlahnya menunjukkan betapa besar potensi sampah yang dihasilkan dari satu kegiatan keagamaan. Persoalan ini patut menjadi renungan, sebab kepedulian yang kita tunjukkan melalui ibadah dan berbagi seharusnya tidak membuat kita mengabaikan kondisi lingkungan tempat kita hidup.
Lantas, mengapa kantong plastik masih menjadi pilihan yang sulit ditinggalkan? Dalam pelaksanaan kurban, panitia harus menyiapkan banyak paket daging dalam waktu terbatas. Kantong plastik pun dipilih karena mudah diperoleh, relatif murah, dan praktis digunakan. Sayangnya, kemudahan tersebut sering membuat dampaknya terlupakan. Padahal, plastik yang dibuang tanpa pengelolaan yang baik dapat menambah beban sampah dan mencemari lingkungan. Pemerintah sebenarnya telah mengupayakan perubahan melalui surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tentang kampanye Iduladha tanpa kantong plastik sejak 2019. Namun, kebijakan saja tidak cukup jika kebiasaan masyarakat belum berubah. Pada akhirnya, menjaga lingkungan membutuhkan kesadaran bersama, termasuk dalam menjalankan kegiatan keagamaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Jika kita melihatnya dari perspektif Islam, menjaga lingkungan bukanlah persoalan yang terpisah dari ibadah. Allah Swt. telah mengingatkan manusia melalui Surah Al-A'raf ayat 56, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” Ayat ini mengajarkan bahwa bumi bukan sekadar tempat untuk memenuhi kebutuhan manusia, melainkan juga amanah yang harus dijaga. Kedudukan manusia sebagai khalifah membawa tanggung jawab untuk memelihara kehidupan dan menghindari perbuatan yang menimbulkan kerusakan. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan semestinya hadir dalam tindakan nyata, termasuk dalam kita mengelola sampah setelah kegiatan kurban. Menjaga bumi tidak harus menunggu adanya bencana atau kerusakan besar, kesadaran itu justru dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang kita lakukan setiap hari.
Pemahaman tersebut juga sejalan dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 86 Tahun 2023 tentang Hukum Pengendalian Perubahan Iklim Global. Fatwa ini menegaskan tanggung jawab manusia untuk memakmurkan dan mengelola alam serta larangan melakukan tindakan yang merusak lingkungan dan berdampak pada perubahan iklim. Nilai ini mengajak kita untuk melihat ibadah kurban secara lebih luas. Kurban memang mengajarkan keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Namun, semangat tersebut juga dapat tercermin melalui perhatian terhadap dampak yang ditimbulkan dari pelaksanaannya. Berbagi daging merupakan bentuk kebaikan, sedangkan berusaha mengurangi sampah plastik menjadi salah satu cara agar kebaikan itu berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga ciptaan Allah Swt.
Lalu, apakah pembagian daging kurban harus selalu menggunakan kantong plastik? Nyatanya, ada alternatif yang telah diterapkan. Pada 2019, panitia kurban Masjid Istiqlal membagikan daging menggunakan 5.000 besek bambu (Hidayatullah.com, 2019). Penggunaan wadah alternatif ini dapat menjadi salah satu upaya mengurangi plastik, dengan tetap memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan. Peluang serupa juga terlihat menjelang Iduladha 2026, ketika permintaan besek bambu di Magetan dilaporkan meningkat hingga dua kali lipat (Aditya, 2026). Contoh tersebut memperlihatkan bahwa pilihan lain dapat dimanfaatkan dalam pembagian daging kurban. Meski begitu, penerapannya tetap perlu mempertimbangkan harga, ketersediaan bahan, dan kebutuhan masing-masing daerah. Yang terpenting, masyarakat mulai menyadari bahwa kepraktisan bukan satu-satunya hal yang perlu dipikirkan ketika memilih wadah pembagian daging.
Perubahan ini dapat dimulai dari lingkungan terdekat, salah satunya melalui masjid. Sebagai tempat beribadah sekaligus pusat kegiatan sosial, masjid memiliki kesempatan untuk menanamkan kebiasaan yang lebih peduli terhadap alam. Pengurus masjid dapat merencanakan penggunaan wadah ramah lingkungan sejak awal, menyesuaikannya dengan anggaran, serta mengajak panitia dan jemaah memahami pentingnya mengurangi sampah plastik. Pemerintah juga dapat mendukung melalui sosialisasi dan pendampingan agar alternatif yang tersedia semakin mudah diterapkan. Tentu, perubahan tidak harus berlangsung sekaligus. Kebiasaan baru membutuhkan waktu, tetapi langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membuka jalan menuju pemaksaan Iduladha yang lebih ramah lingkungan. Dari sinilah nilai amanah dan kepedulian dapat diwujudkan, bukan hanya melalui perkataan, melainkan juga melalui pilihan yang kita ambil.
Pada akhirnya, Iduladha bukan hanya tentang daging yang dibagikan atau kebahagiaan yang dirasakan penerimanya. Lebih dari itu, perayaan ini mengingatkan kita tentang makna pengorbanan, kepedulian, dan tanggung jawab. Semangat tersebut akan terasa lebih utuh ketika kebaikan kepada sesama juga diiringi dengan kepedulian terhadap alam. Mengurangi kantong plastik, memilih wadah yang sesuai, dan mengajak masyarakat menjaga lingkungan mungkin terlihat sederhana, tetapi semuanya dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Sebab, mencintai lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan wujud tanggung jawab atas kehidupan yang telah dipercayakan Allah Swt. kepada manusia. Dengan begitu, Iduladha tidak hanya meninggalkan kebahagiaan bagi sesama, tetapi juga menjadi pengingat bahwa bumi yang kita tinggali layak dijaga bersama.
