Industri dan Konsumen: Produk Cepat Rusak, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Tulisan dari Haidar Fakhri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanggung Jawab Industri terhadap Konsumen Tidak Berhenti Setelah Penjualan
Dalam dunia industri, perusahaan tidak hanya dituntut menghasilkan produk dengan biaya efisien, tetapi juga memperhatikan kualitas dan umur pakainya. Bagi konsumen, produk yang tahan lama tentu memberikan nilai lebih karena dapat digunakan dalam jangka waktu panjang tanpa harus sering mengeluarkan biaya perbaikan atau membeli barang baru.
Selama ini, pembahasan mengenai manajemen operasi dan produksi sering berfokus pada efisiensi biaya, produktivitas, jumlah output, dan kualitas produk. Padahal, ada satu aspek yang tidak kalah penting, yaitu umur pakai produk atau product life cycle. Menurut saya, perusahaan seharusnya tidak hanya memikirkan bagaimana menghasilkan produk dengan cepat dan biaya rendah, tetapi juga mempertimbangkan berapa lama produk tersebut dapat digunakan serta apakah produk tersebut memungkinkan untuk diperbaiki ketika mengalami kerusakan.
Ketika Produk Tidak Lagi Bisa Diperbaiki
Perkembangan teknologi membuat berbagai produk elektronik semakin mudah ditemukan dan dibeli. Ponsel, laptop, televisi, hingga peralatan rumah tangga telah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari. Namun, meningkatnya penggunaan barang elektronik juga diikuti oleh persoalan limbah elektronik atau electronic waste (e-waste).
Berdasarkan laporan The Global E-waste Monitor 2024 yang diterbitkan oleh International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR), dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton limbah elektronik pada tahun 2022. Dari jumlah tersebut, hanya 22,3 persen yang terdokumentasi telah dikumpulkan dan didaur ulang secara formal dengan cara yang ramah lingkungan.
Indonesia juga menghadapi persoalan serupa. Data dalam laporan regional Perserikatan Bangsa-Bangsa yang merujuk pada Global E-waste Monitor 2024 menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton limbah elektronik pada tahun 2022. Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan barang elektronik yang tidak lagi digunakan bukan hanya terjadi di negara maju, tetapi juga menjadi tantangan bagi Indonesia.
Tentu saja, tidak semua limbah elektronik berasal dari produk yang cepat rusak. Perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan konsumen, dan kebiasaan mengganti perangkat juga turut berpengaruh. Namun, fakta tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan bagaimana produk dirancang, diproduksi, digunakan, diperbaiki, dan akhirnya dikelola ketika sudah tidak terpakai.
Manajemen Produksi Seharusnya Memikirkan Umur Pakai Produk
Dalam proses produksi, perusahaan biasanya mempertimbangkan bahan baku, desain, biaya, kapasitas mesin, tenaga kerja, dan standar kualitas. Akan tetapi, menurut saya, ada pertimbangan lain yang perlu diperkuat, yaitu kemudahan perbaikan dan ketersediaan suku cadang.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan elektronik dapat mempertimbangkan penggunaan komponen yang mudah diganti ketika mengalami kerusakan. Perusahaan juga dapat menyediakan suku cadang dalam jangka waktu yang memadai serta memberikan informasi mengenai layanan perbaikan.
Hal tersebut berkaitan dengan desain produk atau product design dalam manajemen operasi. Desain tidak hanya menentukan bentuk dan fungsi barang, tetapi juga memengaruhi daya tahan, kemudahan penggunaan, dan biaya pemeliharaan produk.
Jika sejak awal perusahaan sudah mempertimbangkan kemudahan perbaikan, konsumen tidak harus langsung mengganti seluruh barang ketika salah satu komponennya mengalami kerusakan. Selain menguntungkan konsumen, pendekatan ini juga dapat membantu mengurangi jumlah produk yang berakhir menjadi limbah.
Di sinilah manajemen operasi memiliki peran penting. Keputusan yang dibuat pada tahap desain dan perencanaan produksi dapat memberikan dampak hingga produk digunakan oleh konsumen.
Persediaan Suku Cadang Juga Menjadi Tanggung Jawab Operasional
Selain desain produk, ketersediaan suku cadang juga perlu diperhatikan. Sering kali sebuah barang sebenarnya masih bisa diperbaiki, tetapi konsumen kesulitan mendapatkan komponen pengganti. Akibatnya, produk yang seharusnya dapat digunakan kembali justru berakhir tidak terpakai.
Dalam manajemen operasi dan produksi, persoalan ini berkaitan dengan manajemen persediaan. Perusahaan perlu memperkirakan kebutuhan suku cadang, menentukan jumlah persediaan yang sesuai, serta mengatur distribusinya agar tetap tersedia ketika dibutuhkan.
Memang, menyimpan terlalu banyak suku cadang dapat meningkatkan biaya penyimpanan. Sebaliknya, persediaan yang terlalu sedikit dapat menghambat pelayanan perbaikan. Karena itu, perusahaan perlu melakukan perencanaan persediaan berdasarkan kebutuhan pasar, tingkat kerusakan produk, dan perkiraan permintaan komponen.
Menurut saya, ketersediaan suku cadang seharusnya tidak dianggap sebagai persoalan kecil setelah penjualan. Hal tersebut merupakan bagian dari perencanaan operasional yang dapat memengaruhi kepuasan konsumen sekaligus memperpanjang masa penggunaan produk.
Tanggung Jawab Perusahaan Tidak Berhenti Setelah Penjualan
Persoalan pengelolaan barang elektronik yang sudah tidak digunakan juga mendapat perhatian pemerintah. Salah satunya melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Sampah yang Mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Peraturan tersebut mencakup barang elektronik yang sudah tidak digunakan lagi sebagai salah satu jenis sampah yang perlu dikelola dengan memperhatikan ketentuan terkait bahan berbahaya dan beracun.
Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan produk setelah masa penggunaannya berakhir juga merupakan persoalan yang perlu diperhatikan. Perusahaan dapat mengambil peran melalui penyediaan layanan perbaikan, program pengembalian barang bekas, penggunaan komponen yang dapat didaur ulang, serta kerja sama dengan pengelola limbah yang sesuai ketentuan.
Langkah tersebut bukan hanya berkaitan dengan tanggung jawab lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi operasional jangka panjang. Perusahaan yang mampu mengelola siklus hidup produknya dengan baik berpeluang membangun kepercayaan konsumen dan mengurangi pemborosan sumber daya.
Menghasilkan Produk Baru Bukan Satu-Satunya Ukuran Keberhasilan
Menurut saya, sudah saatnya perusahaan tidak hanya mengukur keberhasilan produksi berdasarkan jumlah barang yang dihasilkan dan terjual. Daya tahan, kemudahan perbaikan, ketersediaan suku cadang, serta pengelolaan produk setelah digunakan juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan operasional.
Perusahaan memang memiliki kepentingan untuk memperoleh keuntungan dan menjaga daya saing. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa umur pakai produk boleh diabaikan. Efisiensi yang baik seharusnya juga mempertimbangkan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, manajemen operasi dan produksi tidak hanya membahas bagaimana sebuah barang dibuat, tetapi juga bagaimana keputusan produksi memberikan dampak dalam jangka panjang. Produk yang baik bukan hanya produk yang berhasil dipasarkan, melainkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen, memiliki masa penggunaan yang layak, dan tidak menimbulkan pemborosan yang sebenarnya dapat dihindari.
Karena itu, perusahaan perlu mulai memandang umur pakai produk sebagai bagian penting dari strategi produksi. Sebab, keberhasilan sebuah perusahaan seharusnya tidak hanya terlihat dari banyaknya produk baru yang terjual, tetapi juga dari seberapa baik produk tersebut memberikan manfaat selama digunakan.

