Konten dari Pengguna

Benarkah Kita Tak Lagi Peduli pada Politik?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Haikal Nazar Shohib tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang sedang mengalami political fatigue https://pixabay.com/vectors/fatigue-burnout-stress-office-desk-10145819/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang sedang mengalami political fatigue https://pixabay.com/vectors/fatigue-burnout-stress-office-desk-10145819/

Pernahkah kita memperhatikan bagaimana suasana grup WhatsApp keluarga yang sedang ramai dan dipenuhi dengan obrolan santai seketika berubah menjadi hening ketika membahas isu politik? Seolah-olah tidak ada yang ingin melanjutkan pembahasan yang semula hangat itu. Di kesempatan lain, ada seorang teman yang lebih memilih melewatkan berita politik hanya karena alasan sederhana: sudah terlalu lelah terpapar berita politik secara terus-menerus. Sekilas fenomena tersebut tampak sepele. Namun, di balik keheningan dan kengganan tersebut, ada pertanyaan yang patut kita pertanyakan dan renungkan: apakah kita semua benar-benar mulai kehilangan kepedulian terhadap politik, atau justru sedang lelah menghadapi cara politik hadir dalam kehidupan sehari-hari?

Jawabannya adalah belum tentu. Menghindari berita politik atau memilih diam dalam perdebatan isu politik tidak serta-merta membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap urusan publik, atau yang sering kita dengar, “apatis”. Melainkan, ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan seseorang menarik diri atau bahkan menjauh dari sesuatu yang berkaitan dengan politik. Label apatis sering kali dilekatkan terlalu cepat kepada seseorang, tanpa memahami alasan di balik sikap tersebut. Bisa jadi seseorang masih peduli dengan urusan publik, arah demokrasi, kebijakan pemerintah, dan masa depan negara, tetapi hanya sedang lelah menghadapi konflik politik yang terus berulang, mengonsumsi informasi-informasi negatif secara terus-menerus, serta perdebatan yang tak kunjung menghasilkan perubahan berarti. Di sinilah konsep Political Fatigue atau kelelahan politik menjadi relevan. Tulisan ini berangkat dari argumen bahwa diamnya sebagian masyarakat dalam percakapan dan perdebatan politik tidak selalu mencerminkan sikap apatisme, tetapi juga dapat menjadi respons terhadap lingkungan politik yang melelahkan.

Political Fatigue atau kelelahan politik, merujuk pada kondisi ketika paparan informasi atau berita politik yang terus-menerus menguras energi emosional dan mental seseorang. Namun, kelelahan ini perlu dibedakan dari dua kondisi lain yang kerap kali dianggap sama. Apatisme merupakan ketidakpedulian terhadap politik, bukan hanya tidak peduli, tetapi juga kehilangan rasa, sedangkan political fatigue menunjukkan bahwa mungkin saja seseorang masih memiliki rasa peduli, tetapi merasa lelah untuk terus mengikuti dan merespons semuanya. Sementara itu, alienasi politik merupakan sesuatu yang berkaitan dengan ketidakpercayaan atau perasaan terasing dari proses politik itu sendiri, termasuk anggapan bahwa terlibat langsung tidak akan membawa perubahan. Sekilas ketiganya terlihat sama: menghindari berita, memilih diam, atau tidak ikut dalam perdebatan. Padahal, di balik itu semua terdapat alasan dan pengalaman yang berbeda. Maka dari itu, diam tidak cukup untuk membuktikan bahwa seseorang kehilangan kepedulian terhadap politik.

Data dari Survei IDN Research Institute (dikutip dalam KPU Kota Blitar, 2026) menunjukkan sekitar 59 persen Gen Z merasa tidak puas terhadap kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Angka-angka tersebut membuat temuan IDN Research Institute mengenai ketidakpuasan Gen Z terhadap demokrasi jadi lebih mencolok. Gen Z yang lebih sering mengonsumsi informasi politik setinggi ini seharusnya juga menjadi generasi yang paling optimis, karena mereka paling banyak tahu apa yang terjadi. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik. Paparan yang tinggi terhadap isu politik ternyata tidak serta-merta melahirkan optimisme, tetapi justru muncul fenomena sinisme akibat rasa lelah dan tidak puas terhadap informasi yang diterima.

Mengapa hal ini sering dibicarakan?

Terdapat tiga hal yang saling berkelindan yang membuat fenomena ini sering muncul di ruang publik. Pertama, informasi mengenai isu politik jauh meningkat dibandingkan dengan satu dekade lalu. Dahulu informasi mengenai isu politik hanya dapat diakses melalui surat kabar pagi, radio, dan siaran televisi malam. Sekarang, satu notifikasi bisa muncul di mana saja dan kapan saja, bahkan ketika seseorang sedang tidak mencarinya.

Kedua, perkembangan teknologi informasi mempercepat penyebaran informasi melalui media sosial. Media sosial mengakibatkan seseorang dapat terhubung langsung dengan isu politik tanpa jeda. Sistem algoritma dirancang untuk menahan perhatian pengguna selama mungkin dan algoritma akan terus menyuguhkan informasi yang sering dikonsumsi oleh pengguna.

Ketiga, generasi Z paling sering terpapar arus informasi politik digital ini karena sebagian besar Gen Z mengandalkan media sosial sebagai sumber utama informasi politik mereka. Kehidupan mereka yang terikat erat dengan gawai membuat dampak paparan itu terasa lebih dekat dan personal, berbeda dari generasi yang masih bisa menutup koran lalu beralih ke aktivitas lain.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Media perlu mengurangi dramatisasi konflik dan memperbanyak penjelasan yang membantu publik untuk memahami kebijakan. Politisi dan partai harus menunjukkan hasil nyata, bukan sekadar mengulang janji. Sementara itu, warga dapat tetap terlibat melalui cara-cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari mengikuti isu lokal hingga berdiskusi tanpa harus terjebak dalam perdebatan kusir di media sosial. Jadi, benarkah kita tak lagi peduli pada politik? Belum tentu. Bisa jadi, kita hanya sedang lelah. Sebab ketika grup WhatsApp keluarga kembali sunyi saat politik dibicarakan, keheningan itu belum tentu menandakan hilangnya kepedulian, melainkan mungkin menunjukkan bahwa ada sesuatu dalam cara kita berpolitik yang perlu dibenahi.