Kumparan Logo

Persib, Ferrari yang Tak Lagi Melaju Kencang

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Launching tim Persib. (Foto: ANTARA/Agung Bebeng)
zoom-in-whitePerbesar
Launching tim Persib. (Foto: ANTARA/Agung Bebeng)

Persib Bandung tak ubahnya anomali dalam dunia si kulit bulat. Ibarat mobil, Persib ini sekelas Ferrari. Mahal, mewah, dan menyilaukan setiap mata yang melihat.

Namun, ketika pedal gas diinjak, entah mengapa Ferrari itu lajunya hanya mentok pada angka 60 km/h. Alhasil, mobil-mobil kelas menengah satu per satu gantian menyusul.

Ya, performa Persib pada Gojek Traveloka Liga 1 membuat banyak pihak geleng-geleng kepala. Heran. Mengapa tim bertabur bintang seperti Persib meraih kemenangan saja susahnya bukan main.

Dari total sembilan laga, "Maung Bandung" hanya mampu meraih tiga kemenangan, empat kali seri, dan dua kalah. Yang membuat Bobotoh--sebutan suporter Persib--pusing adalah grafik naik turun yang diperlihatkan Atep cs.

Setelah sempat meraih tiga kemenangan beruntun sejak pekan ketiga, langkah Persib kembali gontai setelah hanya menyabet dua hasil imbang pada pekan keenam dan ketujuh. Di dua pekan terakhir, Persib bahkan harus menelan dua kekalahan beruntun.

Kini, Persib--yang sempat bercokol di posisi runner-up--harus terjun bebas dengan menempati urutan ke-11 klasemen sementara. Mereka mengoleksi 13 poin dan tertinggal tujuh poin dari pemuncak klasemen PSM Makassar.

[Baca juga: Kalah dari Bhayangkara FC, Persib Gagal Hentikan Periode Buruk]

X post embed

Lantas, apa sebenarnya permasalahan Persib?

Akar problematika “Pangeran Biru” sejatinya sudah tercium sejak sebelum kompetisi dimulai. Cederanya Segio van Dijk meninggalkan lubang di lini depan. Manajemen tim pun sadar betul terdapat persoalan genting. Mereka akhirnya bergerak cepat dengan mendatangkan mantan bomber West Ham United Carlton Cole.

Harapannya, tentu saja Cole bisa mengisi pos yang ditinggalkan Van Dijk, atau bahkan melebihi pencapaian yang diukir pemain naturalisasi asal Belanda itu.

Kedatangan Cole juga semakin melengkapi skuat bertabur bintang Persib setelah kedatangan Michael Essien selaku marquee player. Essien dan Cole dipercaya bakal membuat Persib semakin menakutkan disamping deretan bintang lokal semacam Raphael Maitimo, Achmad Jufrianto serta rising star Febri Hariyadi.

Meski demikian, kenyataan berbanding terbalik. Cole tak bisa menutupi celah barisan serangan Persib. Adaptasinya yang lambat berdampak langsung terhadap penampilannya di atas lapangan hijau. Kondisi itu kemudian memaksa Djanur untuk memutar otak.

Jadilah, Shohei Matsunaga dikorbankan sebagai ujung tombak. Pemain asal Jepang ini diturunkan dalam dua partai awal melawan Arema FC dan PS TNI. Hasilnya? Nihil. Tak ada kontribusi nyata (baca: gol).

Djanur mencoba alternatif dengan memasang Tantan yang sebelumnya selalu duduk di bangku cadangan. Meskipun tak mencetak gol, Tantan mampu menghidupkan lini serang Persib dengan mengantarkan kemenangan atas Sriwijaya FC dan Persegres Gresik.

[Baca juga: Kata Manajemen Persib Soal Masa Depan Carlton Cole]

Persib vs Sriwijaya. (Foto: Antara/Novrian Arbi)
zoom-in-whitePerbesar
Persib vs Sriwijaya. (Foto: Antara/Novrian Arbi)

Memasuki pekan kelima, Djanur mencoba memberikan kepercayaan kepada Cole dengan turun sejak menit awal saat melawan Persipura Jayapura. Akan tetapi, hasilnya jauh dari kata memuaskan. Penampilan Cole lembek. Tak berkutik. Akhirnya, ia digantikan oleh Matsunaga begitu memasuki babak kedua.

Akselerasi Matsunaga akhirnya berujung kepada hukuman penalti bagi Persipura. Essien yang bertindak sebagai algojo akhirnya mampu membawa Persib meraih tiga kemenangan beruntun.

Tak memuaskannya Cole membuat Djanur kembali ke skema awal yakni dengan menaruh Matsunaga saat melawan Semen Padang di pekan selanjutnya. Dihantui catatan tak pernah menang, Persib terkesan bermain bertahan.

Pelatih Semen Padang Nilmaizar bahkan sempat menyindir gaya main Persib yang memakirkan bus di depan gawangnya. Persib pun cukup puas dengan membawa pulang sebiji poin.

Pulihnya Van Dijk membuat Djanur mencobanya saat menghadapi Borneo FC dan Bali United. Akan tetapi, Van Dijk tampak belum begitu nyetel dengan permainan timnya. Tak ada gol yang tercipta lewat kaki atau kepalanya.

Lagi, Djanur tak puas. Laga melawan Bhayangkara FC di Stadion Patriot pada Minggu (4/6/2017) malam, menjadi penanda kembalinya Tantan di lini depan Persib. Sayangnya, kehadiran mantan pemain Persitara Jakarta Utara itu kali ini tak banyak menolong. Persib tersungkur setelah takluk 0-2 dari tuan rumah.

Puncaknya, Bobotoh merangsek masuk ke dalam lapangan. Mereka memprotes para pemain Persib yang tampil bak kekurangan darah. Tagar #DjanurOut pun untuk kesekian kalinya kembali menggema.

Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman. (Foto: Instagram @igpersib)
zoom-in-whitePerbesar
Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman. (Foto: Instagram @igpersib)

Jika ditarik benang merahnya, dari sembilan partai yang dijalani, terlihat jelas bagaimana Persib sangat kesulitan mencari sosok ideal pada posisi striker. Seorang pemain berinsting pembunuh dengan finishing mematikan. Layaknya Reinaldo Elias Da Costa dari PSM Makassar.

Tak adanya sosok bomber lantas berbanding lurus dengan produktivitas Persib. Dari sembilan partai, jawara Indonesia Super League 2014 ini baru mencetak delapan gol.

Ironisnya, tak ada sumbangan gol dari keempat striker yang pernah dicoba. Topskorer sementara klub justru datang dari lini kedua dengan dua gol dari Essien dan Atep.

Agresivitas Persib bahkan kalah jika dibandingkan dengan tim papan bawah seperti Persegres Gresik (peringkat 17 klasemen). Jumlah gol Persib serupa dengan Persegres (8 gol).

Namun, Persib kalah dalam jumlah tendangan dan percobaan ke gawang. Jika Persib hanya mampu melepaskan 67 tembakan dengan 23 di antaranya tepat sasaran, daya serang Persegres justru terlihat lebih garang dengan 76 sepakan dengan 30 mengarah ke gawang.

Ketika sebuah tim kesulitan mencetak gol, lalu apalagi yang diharapkan untuk bisa menghadirkan kemenangan? Selama Persib belum bisa memecahkan masalah mereka di lini depan, selama itu pula penguasa Jawa Barat itu akan terus tertatih.

Sepakat?