Konten dari Pengguna

The Untold Story of Egy Maulana Vikri: Si Anak Saleh

Haikal Pasya

Haikal Pasyaverified-green

Chief of kumparanSPORT

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Haikal Pasya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Egy Maulana Vikri. Dok: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Egy Maulana Vikri. Dok: Nugroho Sejati/kumparan

Pak Haikal, saya sekarang ada di Hotel Mega Anggrek, nih. Bisa ke sini enggak?

Suara agak serak Subagja Suihan yang khas itu terdengar di ujung ponsel saya. Sudah malam. Ketika itu sekitar pukul 19:00 WIB.

Tanpa banyak tanya, saya langsung tancap gas ke lokasi yang disebutkan yakni Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat. Beruntung, saat itu kondisi tol Jakarta-Tangerang tak begitu padat.

Sesampainya di hotel, saya kemudian diminta Subagja untuk langsung menuju kamarnya. Tanpa disangka, di dalam kamar itu ternyata ada Egy Maulana Vikri.

"Masuk, bang," ujar Egy kepada saya.

Saya menyambutnya dengan senyum lalu berjabat tangann dengannya. Saat itu, Egy sedang dipijat oleh tukang urut langganannya.

Setelah beberapa saat berbicang, sebuah tas kecil berwarna oranye yang ditaruh di atas meja menyita perhatian saya. Saya iseng bertanya kepada Egy apa isi tas itu. Dia kemudian mengeluarkan Al-Quran kecil.

"Enggak boleh lupa, ini harus dibawa ke mana-mana, bang," kata Egy sambil tertawa.

Ketika itu, 24 September 2017, menjadi pertemuan tatap muka pertama saya dengan Subagja dan juga Egy. Sebelum itu, saya dengan Subagja lebih dulu kerap berbincang melalui telepon atau sekadar berbalas WhatsApp.

Subagja Suihan (kanan) bersama Egy Maulana Vikri. Dok: Cornelius Bintang/kumparan

Subagja merupakan orang yang berjasa besar terhadap karier Egy hingga bisa berada di titik ini. Ia sudah dianggap seperti orang tua sendiri oleh Egy.

Subagja pulalah yang menemukan bakat terpendam Egy ketika ia tengah bekerja di Medan. Rumah dinasnya kala itu kebetulan berada di dekat lapangan sepak bola yang biasa jadi tempat bermain Egy.

Sehabis pulang kerja pada sore hari, Subagja selalu menyempatkan berhenti di tepi lapangan yang berlokasi di Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang. Subagja memang gila bola, dia juga punya Sekolah Sepak Bola (SSB) Bina Putra Sentra Cirebon.

Sehari, dua hari, hingga berganti pekan, Subagja akhirnya melihat ada sosok spesial di antara puluhan bocah yang sedang bermain. Ia melihat bocah 'bule' itu bak menari dengan bola. Asyik menggiringnya ke sana ke mari. Lincah.

Dalam suatu waktu, Subagja memutuskan untuk menghampiri bocah tersebut yang tak lain adalah Egy. Kala itu, usianya masih sekitar 12 tahun.

Subagja kemudian bertanya kepada Egy apakah mau diajak ke Jakarta. Egy meminta Subagja untuk bertanya langsung kepada orang tuanya.

Keesokan harinya, Subagja mendatangi kediaman Egy yang masih berada di satu kelurahan dengan lapangan bola itu. Ia bertemu Syaripudin, ayah Egy.

Kendati demikian, permintaan Subagja ditolak mentah-mentah oleh Syaripudin. Apa alasannya? Ia mengaku trauma dengan peristiwa sebelumnya yang menimpa Egy.

Kala itu, Egy mengikuti seleksi di Medan dan terpilih menjadi satu dari dua pemain untuk diboyong ke Jakarta. Akan tetapi, pemandu bakat itu kemudian meminta Rp 6 juta dari orang tua Egy untuk memuluskan langkah anaknya.

Subagja tak patah arang. Ia mencoba meyakinkan Syaripudin dengan menelepon eks pemain Timnas Indonesia, Firman Utina--yang juga merupakan anak binaannya. Subagja kemudian meminta Firman berbicara dengan Syaripudin.

Dari situlah, hati Syaripudin luluh. Ia akhirnya mengizinkan Subagja membawa anak keduanya itu ke Jakarta.

Di Hotel Mega Anggrek, Subagja menyuruh saya memasan makanan. Sambil saya santap malam, Subagja bercerita bagaimana hotel itu turut menjadi saksi perjalanan karier Egy.

Egy Maulana Vikri kecil saat dipangku ayahnya, Syaripudin, bersama ibunya di kediamannya di Asam Kumbang, Medan Selayang, Medan. Dok: Istimewa

"Selama awal-awal di Jakarta, Egy saya inapkan di sini. Waktu awal-awal dia suka nangis, kangen sama orang tuanya di Medan," kisah Subagja.

"Tapi, saya kuatkan terus hatinya. 'Kamu mau jadi pemain timnas enggak? Kalau mau, harus kuat mentalnya'," ucap Subagja menirukan perkataannya kepada Egy.

Sungguh perjuangan yang sama sekali tak mudah bagi Egy untuk mencapai titik ini. Terkadang, jari netizen begitu mudahnya memaki Egy ketika ia tak bermain bagus. Padahal, di balik itu semua, ada air mata perjuangan dari bocah yang terpisah dari orang tuanya sejak usia 12 tahun.

Saya terus terang kaget bisa bertemu langsung dengan Egy. Pasalnya, Egy jadi sosok yang kala itu paling hangat dibicarakan setelah berlaga bersama Timnas Indonesia U-18 di Piala AFF 2017 Myanmar.

Di ajang itu, Egy benar-benar menunjukkan kualitasnya. Ia menyabet gelar top skor dengan torehan 8 gol sekaligus menjadi pemain terbaik turnamen dengan membawa Timnas U-18 meraih tempat ketiga.

Dari situ pula, julukan 'Egy Messi' muncul. Kemampuan olah bola di atas rata-rata dikombinasikan kecepatan larinya, membuat Egy disamakan dengan legenda Barcelona yang kini hijrah ke Paris Saint-Germain, Lionel Messi.

Ketika saya tanya perihal julukan itu, Egy mengaku sejatinya tak begitu nyaman. Begitu pula dengan Indra Sjafri yang jadi pelatihnya di Timnas U-18 kala itu. Egy mengaku hanya mengidolai Messi, tanpa berharap disamakan dengan sosok asal Argentina itu.

Obrolan saya dengan Subagja semakin lama semakin hangat. Ia kemudian bercerita Egy akan bertemu dengan agen pemain, Dusan Bogdanovic.

Subagja mengaku setelah Piala AFF U-18, banyak agen pemain yang menelepon dirinya. Mereka datang dengan tawaran berbagai macam untuk Egy.

Subagja akhirnya sepakat untuk bertemu Dusan guna mendengar proyek yang ia tawarkan untuk Egy. Jadilah, saya menjadi saksi mata dari pertemuan pertama di antara Dusan, Egy, dan Subagja di lobi Hotel Mega Anggrek sekitar pukul 20:00 WIB.

Setelah pertemuan itu, saya sempat berbincang dengan Subagja dan Egy. Subagja meminta saya jangan dulu mempublikasikan perihal ini. Saya mengangguk.

Egy Maulana Vikri saat mengaji bersama Ustaz Yusuf Mansur dan anaknya. Dok. Pribadi

Sebelum meninggalkan hotel, saya kemudian teringat Al-Quran yang dibawa Egy tadi. Saya penasaran apakah benar dia membacanya.

"Surat apa yang paling favorit, Gy?" tanya saya.

Egy awalnya malu-malu, tapi setelah didesak Subagja, ia menjawab pertanyaan saya. Egy kemudian membaca penggalan ayat beserta artinya.

Saya tertegun. Ternyata, Al-Quran yang dibawa Egy memang selama ini jadi pegangan hidupnya sehari-hari. Ini tentu tak lepas dari didikan orang tuanya.

Aspiyah, ibunya, bahkan kerap menghukum Egy ketika absen mengaji di musala dekat rumahnya. Egy biasanya dihukum sujud sembari menghapal surat.

“Dari kecil saya memang sempat ikut mengaji. Waktu itu sampai kelas 6 SD, sudah khatam juga. Kalau ada waktu sedikit, saya selalu sempatkan diri baca Al-Quran. Biasanya setelah salat Subuh dan Dhuha," ucap Egy.

Hati saya lebih tenang dengan baca Al-Quran. Saya juga selalu ingat bahwa dalam Al-Quran itu dibilang jangan jadi orang sombong, kalau mau masuk surga. Saya jadikan itu sebagai pegangan hidup saya.” lanjutnya.

Ya, malam itu, saya mendapatkan sudut pandang lain dari sosok Egy. Bila semua orang menjulukinya 'Egy Messi', saya tampaknya memiliki julukan lain baginya: 'Egy si Anak Saleh'.