Canarium indicum Minyak Otak dari Maluku Mulai Dilirik Industri Neurofarmasi

Pharmacy Major on State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Haikal Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di pasar-pasar tradisional Ambon, Ternate, dan Tidore, ada biji kecil berkulit keras yang sudah ribuan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maluku. Dimakan langsung, ditaburkan di kue, atau dipakai sebagai bahan masakan. Orang menyebutnya kenari. Sementara dunia farmasi menyebutnya Canarium indicum minyak otak potensial dari timur Indonesia yang komposisi asam lemaknya kini mulai menarik perhatian serius industri neurofarmasi global.
Canarium indicum Minyak Otak yang Tersimpan di Biji Kenari Maluku
L. adalah tanaman asli Indonesia yang banyak tersebar di wilayah Indonesia bagian timur, dengan sentra penyebaran di Pulau Kangean, Pulau Bawean, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Pusat keanekaragaman kenari berada di kawasan Malesia yaitu Indonesia, Papua Nugini, Filipina, hingga perbatasan Australia.
Meski produksinya cukup tinggi mencapai empat hingga tujuh ton biji per hektar per tahun, pemanfaatan kenari di Indonesia masih sangat terbatas. Ironisnya, minyak biji kenari sudah lebih dulu dikomersilkan di luar negeri dengan nama dagang Nangai Oil oleh perusahaan Amerika dan didistribusikan ke Amerika, Australia, dan Kanada. Sementara petani kenari di Maluku belum sepenuhnya merasakan nilai ekonomis dari hasil kebunnya sendiri.
Profil Asam Lemak yang Membuat Peneliti Tertarik
Nilai minyak kenari bukan sekadar klaim tradisional. Ia berakar pada komposisi kimia yang sudah dianalisis secara ilmiah.
Hasil ekstraksi minyak kenari memberikan rendemen sebesar 60%, dengan komposisi asam oleat sekitar 47%, asam palmitat 30%, asam stearat 15%, dan asam linoleat 7,3%. Konfirmasi dari riset UGM juga menemukan profil serupa yaitu asam oleat 44–47%, asam palmitat 24–26%, asam stearat 13–15%, dan asam linoleat 11–13%.
Komposisi ini sangat signifikan dari sudut pandang neurofarmasi. Asam oleat adalah asam lemak tak jenuh tunggal yang sama ditemukan dalam minyak zaitun dan dikenal memiliki efek protektif terhadap membran sel saraf. Asam linoleat adalah prekursor omega-6 yang berperan dalam sintesis prostaglandin dan pemeliharaan integritas membran neuron. Kenari juga mengandung asam linolenat sebagai prekursor omega-3 yang dikenal luas sebagai nutrisi esensial bagi fungsi otak dan sistem saraf.
Mengapa Neurofarmasi Mulai Melirik Minyak Biji Kenari?
Koneksi antara minyak biji kenari dan kesehatan otak bukan spekulasi. Ia mengikuti jalur ilmiah yang sudah terbukti.
Asam lemak omega-3, terutama DHA dan EPA, telah dieksplorasi sebagai agen neuroprotektif potensial karena perannya dalam menjaga integritas sinaptik, meregulasi mekanisme antiinflamasi, dan memelihara fungsionalitas membran neuronal.
Minyak biji kenari, dengan kandungan asam linoleat dan linolenatnya, masuk dalam kategori sumber asam lemak esensial yang menjadi bahan baku pembentukan DHA dan EPA di dalam tubuh. Asam lemak omega-3 politak jenuh terbukti menjanjikan sebagai agen terapeutik karena aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan neurogeniknya.
Lebih jauh dari itu, genus Canarium secara keseluruhan sudah masuk dalam radar riset farmasi. Penelitian pada spesies-spesies kenari terbukti memiliki kemampuan menghambat enzim Cyclooxygenase (COX) dan 5-lipoxygenase (5-LOX) yang berperan dalam peradangan, serta menunjukkan potensi terhadap penyakit Alzheimer yang dibuktikan oleh kemampuan ekstrak buah kenari dalam studi yang dipublikasikan di Jurnal Fitofarmaka Indonesia.
Bukan Hanya Minyaknya yang Berharga
Satu hal yang jarang diketahui adalah fakta bahwa nilai kenari tidak berhenti pada minyaknya saja. Ampas biji kenari setelah pengepresan, yang dalam dunia industri disebut pressed cake atau kenari defatted, masih mengandung nutrisi yang sangat tinggi.
Biji kenari defatted memiliki kadar protein sebesar 36% dari bobot total sampel, dan hasil identifikasi peptida dengan metode UHPLC-HRMS menunjukkan terdapat 22 peptida yang terkandung dalam hidrolisat protein biji kenari defatted yang berpotensi sebagai bahan baku produk nutrasetikal dengan aktivitas antioksidan.
Ini berarti dari satu biji kenari, ada dua produk bernilai tinggi yang bisa dikembangkan secara industri. Minyaknya untuk neurofarmasi dan kosmetik, sementara ampas proteinnya untuk produk nutrasetikal. Sebuah potensi yang hampir seluruhnya belum dioptimalkan di dalam negeri.
Kandungan Bioaktif Lain yang Memperkuat Posisinya
Selain asam lemak, kenari juga mengandung senyawa bioaktif lain yang memperkaya profilnya secara farmakologis. Tanaman kenari mengandung tanin, flavonoid, sterol, fenolik, asam amino termasuk asam glutamat, lisin, asam aspartat, dan arginin, serta triterpenoid dan saponin yang secara tradisional dimanfaatkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan kinerja otak, menurunkan kolesterol dan kadar gula, serta mengurangi risiko kanker payudara dan prostat.
Keberagaman senyawa aktif ini menjadikan kenari bukan sekadar sumber lemak nabati biasa. Ia adalah kandidat bahan baku multifungsi yang relevan untuk industri farmasi, kosmetik, pangan fungsional, dan nutrasetikal sekaligus.
Gap yang Perlu Segera Ditutup
Meski potensinya besar, ada satu masalah serius yang diakui sendiri oleh komunitas riset Indonesia. Canarium indicum L. adalah tanaman asli Indonesia, namun minimnya publikasi ilmiah tentang spesies ini dari Indonesia menjadi catatan yang perlu segera diperbaiki.
Ini adalah ironi yang nyata. Tanaman asli Indonesia yang sudah dikomersilkan oleh perusahaan asing dengan nama Nangai Oil, tapi riset ilmiahnya justru lebih banyak datang dari luar negeri. Di sinilah peluang besar bagi peneliti farmasi dan bioteknologi Indonesia untuk mengambil peran yang semestinya sudah menjadi milik kita sejak awal.
