Konten dari Pengguna

Pasola: Lembing Terbang, Nyale Berpendar, Warisan Sumba yang Harus Lestari

Haikal Aziz

Haikal Aziz

Mahasiswa fakultas ilmu komunikasi universitas pamulang

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Haikal Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika dunia terus bergerak maju, bagaimana kita memastikan bahwa warisan leluhur tak tergilas zaman? Tradisi Pasola dari Sumba tidak hanya menghadirkan tontonan penuh adrenalin, tetapi juga membuka perbincangan tentang makna, keberlanjutan, dan relasi antara sakral dan modern.

Ilustrasi Festival Pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur (Gambar: Shuttlestock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Festival Pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur (Gambar: Shuttlestock)

Denting Tapak Kuda di Tanah Marapu

Fajar baru saja merekah di hamparan sabana Wanokaka ketika hentakan puluhan kuda memecah sunyi. Sabuk kabut tipis bergelayut di atas tanah merah, seolah menunggu darah pertama yang menurut kepercayaan Marapu akan “memberi makan” bumi. Di tengah riuh teriak penonton, seorang rato berbisik memulai doa singkat “Biarlah lembing terbang seturut restu leluhur.” Dari detik inilah Pasola perang ritual berusia ratusan tahun kembali menegaskan keberanian, sekaligus kegamangan kita, mampukah tradisi setua ini bertahan di era TikTok?

Akar Sejarah Umbu Dulla, Nyale, dan Sumpah Kesuburan

Dalam legenda populer, Pasola lahir dari kisah Umbu Dulla yang dimana ia berlayar meninggalkan istri dan rakyatnya. Ketika rombongan kembali, mereka mendapati istrinya telah menikah lagi, lalu “perang lembing kayu” digelar untuk meredam amarah perang yang kelak dikeramatkan sebagai Pasola. Namun, waktu pelaksanaan tidak pernah sembarangan. Ritual ini selalu menyusul kemunculan nyale cacing laut yang muncul sekali setahun antara Februari - April sebagai isyarat alam bahwa musim tanam tiba. Rato menandai tanggal lewat perhitungan fase bulan; di Lamboya biasanya Februari, Wanokaka akhir Februari–awal Maret, dan Kodi April.

Misteri & Makna Sakral di Balik Lembing

Bagi penganut Marapu, Pasola adalah dialog multisemesta: manusia, arwah leluhur, dan alam mesti seimbang. Darah yang tercurah dianggap pupuk rohani agar padi subur karenanya luka bahkan kematian diartikan sebagai restu, bukan musibah. Di balik kerasnya lemparan lembing lamtoro, ada laku puasa wulapodu dan serangkaian bacaan mantra penolak bala. Ketika seorang ksatria terjatuh, kerabat mengepungnya sambil memercikkan air sirih ritus pemutus “haus darah” agar pertempuran tidak berubah menjadi dendam.

Dinamika Kontemporer: Antara Viral dan Vital

Seiring meningkatnya popularitas pariwisata di Sumba, Pasola kini menjadi ikon budaya yang menarik ribuan wisatawan domestik dan mancanegara. Pemerintah daerah mencatat lonjakan kunjungan hingga 25% sejak 2022. Resor dan agen perjalanan berlomba membranding Pasola sebagai bagian dari paket wisata eksotik. Namun, di tengah euforia ini, muncul pertanyaan krusial sampai sejauh mana esensi sakral Pasola tetap terjaga ketika panggungnya kini dipenuhi kamera dan konten?

Beberapa insiden, seperti kericuhan akibat lemparan batu dari penonton yang berdesakan, memaksa pemerintah memberlakukan pembatasan jumlah penonton dan pengawasan lebih ketat. Di satu sisi, perhatian publik membawa peluang pelestarian, namun di sisi lain, membenturkan adat dengan kebutuhan komersial. Jika popularitas membawa peluang, maka pelestarian menuntut kepekaan. Pasola bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tapi juga menyeimbangkannya dengan dinamika sosial dan hukum modern. Tantangan yang dihadapi tidak lagi sederhana: bukan soal menghentikan modernisasi, tapi mengarahkan arusnya agar tidak menenggelamkan makna.

  • Komersialisasi vs Kesakralan

Resor mewah dan promosi wisata cenderung mengemas Pasola sebagai exotic war show, memudarkan dimensi spiritualnya di mata generasi muda. Banyak pemuda Sumba kini melihat Pasola lebih sebagai tontonan tahunan ketimbang kewajiban adat yang sakral.

  • Regulasi dan HAM

Penggunaan lembing, risiko luka, serta potensi konflik antar-kelompok menjadi sorotan aparat keamanan. Pemerintah berupaya mengatur lewat peraturan daerah, tetapi sebagian tokoh adat menganggapnya sebagai bentuk intervensi terhadap urusan spiritual yang tak bisa dikendalikan secara administratif.

  • Pewarisan Pengetahuan

Kesenjangan generasi juga mengancam kesinambungan Pasola. Rato - rato sepuh mulai tiada, sementara kurikulum lokal baru mulai memasukkan materi budaya sebagai muatan pembelajaran sejak 2024. Penyebarannya pun belum merata di seluruh kecamatan. Namun, dari tantangan ini pula muncul momentum perubahan. Kesadaran bahwa pelestarian bukan hanya tanggung jawab leluhur, tetapi juga generasi kini, menjadi fondasi bagi langkah-langkah strategis ke depan.

Upaya Melestarikan: Dari Kelas hingga UNESCO

Upaya pelestarian Pasola mulai menunjukkan arah yang lebih sistematis. Dinas Kebudayaan Sumba Barat telah menerapkan konsep “Pasola Zero Fatality” sejak 2024, dengan menyediakan tribun resmi, petugas medis, dan sistem pengamanan berbasis komunitas. Selain itu, program Rato Muda yang melibatkan pelajar dan pemuda dalam dokumentasi budaya telah melahirkan karya video dan arsip digital berbahasa lokal yang dipelajari di sekolah-sekolah. Pasola kini juga tengah diajukan dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO melalui jalur Urgent Safeguarding, menandakan komitmen internasional dalam pelestarian budaya ini. Beberapa agen wisata di Sumba bahkan telah menerapkan prinsip ekowisata etis: menyumbang ke kas adat, menggunakan kuda lokal, dan memberikan edukasi budaya sebelum kegiatan wisata berlangsung.

Refleksi Pasola Cermin Identitas Nusantara

Pasola bukan sekadar pertunjukan atraktif, tetapi potret dari cara masyarakat tradisional mengelola konflik, menjaga kehormatan, dan memaknai hubungan dengan alam. Setiap lembing yang dilempar adalah simbol: bahwa perbedaan bisa disalurkan, bahwa luka bisa menjadi pelajaran, dan bahwa keberanian bukan hanya tentang menang, tapi juga menghormati. Dalam realitas Indonesia yang plural dan kerap terpolarisasi, nilai-nilai Pasola menawarkan pesan kuat: tentang keberanian tanpa permusuhan, tentang kebersamaan meski berhadapan, dan tentang identitas yang tidak memusuhi perubahan.

Ketika sorak penonton mereda dan kuda kembali ke kandang, tanah Sumba masih berkilau oleh embun dan mungkin setitik darah. Tradisi Pasola hidup karena keberanian para ksatria, namun ia hanya akan lestari bila kita, penonton abad ke‑21, memilih bersikap hormat: datang, belajar, lalu pulang dengan cerita yang memuliakan, bukan mengeksotiskan. Sebab jika lembing terakhir akhirnya dibiarkan jatuh tanpa pewaris, bukan hanya Sumba yang merugi melainkan kepingan identitas Indonesia itu sendiri.