Momen Kemerdekaan dan Kebohongan pada Anak di Bandara Depati Amir

Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Konten dari Pengguna
21 Agustus 2022 17:01
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Haiyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
 Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT

Oleh: Haiyudi, S.Pd., M.Ed. Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

ADVERTISEMENT
Berbagai bentuk dan desain flyer serta ucapan tentang kemerdekaan masih terngiang dan belum lapuk di ingatan kita. Setelah beberapa tahun sempat fakum, tahun 2022 upacara kembali digelar dengan kemeriahan yang hampir sama seperti sebelum-sebelumnya. Hakikat kemerdekaan tentunya bukan suatu yang terbatas dengan ucapan semata. Namun bagaimana kemerdekaan itu berasal dan bagaimana mengisi kemerdekaan itu sendiri. Manilik dari domain pembelajaran dan hakikat kecerdasan manusia, salah satu aspek yang harus dirawat dalam mengisi kemerdekaan adalah sikap, selain kecerdasan kognitif dan keterampilan.
Untuk mengisi kemerdekaan, aspek sikap merupakan dasar dalam mengembangkan semangat jiwa nasionalis serta religiusitas manusia dalam bernegara. Sayangnya, belakangan ini momen kemerdekaan masih tercoreng dengan beberapa kasus yang mempertontonkan kebobrokan sikap dan cara berpikir. Kebohongan, kemunafikan serta tiga hal yang masih melekat dengan sangat kuat yakni Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Beragam contoh dalam lingkungan kecil hingga yang besar menjadi tontonan biasa yang seharusnya tidak dibiasakan bagi negeri ini.
ADVERTISEMENT
Dalam suatu perjalanan seminggu sebelum HUT RI ke-77, ketika di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, penulis menyaksikan seorang ibu yang berkata kepada anaknya “Minumlah obatnya, ini manis kok”. Setelah diminum anaknya bilang, obatnya sangat pahit sekali, meskipun berbentuk sirup. Mendengar kalimat tersebut penulis mengernyitkan dahi. Ibu ini tidak ikut andil dalam memerdekakan pikiran si anak. Ia lebih cenderung memberikan kebohongan hanya demi tujuan sesaat agar anaknya minum obat.
Terus terang penulis terganggu dengan cara membohongi seperti itu. Akan lebih baik jika beliau mengatakan “Minumlah sirup ini agar lekas disehatkan” atau dengan ucapan yang tidak mengandung kebohongan yang terang-terangan. Dampak yang akan ditimbulkan sagat memprihatinkan kedepannya. Pada saatnya nanti entah anak ataupun orang tua akan merasa biasa saja jika melakukan kebohongan. Salah satu contoh yang nyata, banyak ditemukan ucapan yang mengiming-imingi sesuatu, namun pada akhirnya semua itu menjadi kebohongan. Tentu ini akan berdampak negative dalam perkembangan berfikir anak. Selanjutnya juga jika dilakukan dalam lingkup yang besar, ini akan menjadi masalah dalam keharmonisan serta kerukunan dalam lingkungan tersebut. Ini menjadi pengganggu kemerdekaan dalam berfikir yang sebetulnya. Kebohongan yang merusak kemerdekaan dalam berpikir saat ini lebih parah dari sekedar kemerdekaan dari penjajah. Teringat salah satu comedian yang berkata, parahnya pendidikan di Indonesia adalah ketika setiap anak tidak mampu untuk bercita-cita. Setelah ditelaah, ucapan tersebut bukan sekedar bahan komedi, namun seharusnya menjadi renungan bagi kita semua. Berawal dari kebohogan kecil seorang ibu, puluhan tahun kedepan, Negeri ini akan menanggung perihnya.
ADVERTISEMENT
Masih di tempat yang sama, Bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Seorang ibu yang berbeda. Ia mengatakan sesuatu yang tidak kalah mengerikan. Sebagai seorang pendidik. Saya malu mendengar kata-kata ini. Beliau berkata “Jangan duduk jauh-jauh, nanti ada pak Polisi, nanti ditangkap Polisi”. Meskipun bukan seorang Polisi, saya kecewa dengan ucapan si Ibu. Pertama, ia mencoreng nama baik Polisi yang seharusnya memiliki peran untuk mengayomi serta melindungi masyarakat. Yang kedua, ia menakut-nakuti anaknya dengan satu kebohongan yang dahsyat. “Kan disini tidak ada polisi” kata anaknya. Setidaknya anaknya membuat saya tersenyum. Ia lebih cerdas dari orang tuanya.
Tentu tulisan ini terbatas pada pembahasan apakah orang tua tersebut memiliki tingkat pendidikan yang baik atau tidak. Sebab tinggi dan rendah tingkat pendidikan kini tidak sepenuhnya menjadi ukuran dalam perihal ilmu parenting. Banyak yang memiliki tingkat pendidikan yang baik, namun itu hanya sebatas untuk selembar kertas.
ADVERTISEMENT
Barangkali bagi beberapa orang ini adalah hal yang biasa. Namun kebiasaan semacam ini tentu bukanlah hal yang baik. Seorang dokter dan psikolog ternama pernah meminta kepada orang tua untuk jangan menakut-nakuti anak dengan jarum suntik, dokter serta polisi. Sebab ini akan menimbulkan trauma di masa yang akan datang. Ada berapa banyak anak-anak yang memilih bersembunyi di bawah meja dan kursi ketika dokter datang membawa jarum suntik? Dalam kasus yang lebih besar, ada berapa banyak generasi yang takut bermimpi dan takut melihat hari esok lantaran mental yang lemah akibat terbiasa dibohongi oleh orang tuanya.
Mentalitas semacam ini harus ditinjau kembali. Kemerdekaan bukan hanya sekedar mengingat kerja para pahlawan semata. Kemerdekaan dalam berpikir adalah kerja kolektif semua stakeholder hari ini mulai dari orang tua, guru, dosen, atasan bahkan pemimpin negeri. Untuk apa merdeka tetapi tidak memiliki integritas. Kemerdekaan dalam berpikir bisa dilakukan dengan cara meminimalisir kebohongan-kebohongan kecil yang nantinya bermutasi bak Virus Corona yang menjadi lebih besar.
ADVERTISEMENT
Hari ini, pada momen kemerdekaan, muncul pertanyaan bahwa kebohongan di Bandara Depati Amir Pangkalpinang tersebut mungkin akan menjadi boomerang dalam satu atau dua puluh tahun kedepan.
Sekali lagi, renungan yang sudah sepatutnya kita lakukan tidak hanya terbatas pada apa yang telah dilakukan para pahlawan negeri ini, melainkan bagaimana untuk mengutuk kebodohan, kebohongan dan kemunafikan hari ini yang masih menjamur di tengah kita. Sebab semuanya itu mengganggu dan menghalang kemerdekaan yang sesungguhnya. Terutama kemerdekaan dalam berpikir. Sekali lagi, kerja kolektif yang mendukung cita-cita bangsa ini tidak hanya bagaimana mengentaskan kemiskinan secara material, melainkan dalam hal mentalitas. Bisa dibayangkan jika mental kebohongan di Bandara Depati Amir di atas terbawa oleh sang anak saat ia menjadi pemimpin negeri. Ada berapa banyak alibi dan kebohongan baru yang akan muncul. Jika itu yang tejadi, puluhan tahun kedepan kita masih belum merdeka dalam berpikir.
ADVERTISEMENT
Selamat memperingati momen kemerdekaan, mari bebaskan pendidikan Indonesia dengan tidak melakukan kebohongan kecil yang menghasilkan pembohong-pembohong kelas kakap di negeri ini.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020