Konten dari Pengguna

Kelompok KKN 109 UNS Kenalkan Anti Bullying Lewat Wayang Sederhana

Hajran Lillah

Hajran Lillah

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hajran Lillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelompok KKN 109 UNS Kenalkan Anti Bullying Lewat Wayang Sederhana
zoom-in-whitePerbesar

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 109 Universitas Sebelas Maret (UNS) menghadirkan pendekatan inovatif dalam mensosialisasikan pentingnya anti bullying kepada siswa kelas 3 SDN 03 Cintaratu, Kabupaten Pangandaran. Mereka memadukan kearifan lokal dengan sentuhan modern melalui pertunjukan wayang yang dirakit dari bahan sederhana.

Berbeda dengan wayang konvensional, kelompok KKN 109 UNS menciptakan wayang dengan desain karakter modern yang lebih dekat dengan keseharian anak-anak. Wayang ini dirakit menggunakan karton dan bambu, bahan yang mudah didapat namun tetap kokoh untuk pertunjukan. Karakter-karakter yang ditampilkan menggambarkan sosok siswa sekolah dasar dengan seragam, dan atribut kekinian yang familiar bagi anak-anak. Pemilihan bahan karton dan bambu bukan tanpa alasan. Selain ramah lingkungan dan ekonomis, proses pembuatannya juga melibatkan kreativitas tinggi. Mahasiswa KKN merancang setiap tokoh dengan detail, mulai dari ekspresi wajah yang menggambarkan berbagai emosi hingga pakaian yang mencerminkan kehidupan siswa masa kini.

Sosialisasi anti bullying yang digelar di SDN 03 Cintaratu ini mendapat sambutan antusias dari para siswa kelas 3. Melalui alur cerita yang sederhana, wayang-wayang modern ini memerankan berbagai situasi bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, seperti mengejek penampilan teman, mengucilkan siswa tertentu, hingga kekerasan verbal. Yang membuat pertunjukan ini istimewa adalah dialognya yang menggunakan bahasa sehari-hari anak-anak, agar lebih mudah dipahami. Cerita disusun dengan alur yang ringan namun menyentuh, menunjukkan dampak buruk bullying bagi korban sekaligus mengajarkan nilai-nilai empati dan kebersamaan.

Para siswa tidak hanya menjadi penonton pasif. Setelah pertunjukan, mahasiswa KKN mengajak anak-anak berdiskusi tentang apa yang mereka lihat dan rasakan. Bahkan anak-anak diajak untuk memerankan tokoh wayang tersebut, sembari mengambil hikmah dari ceritanya. Interaksi dua arah ini membuat pesan anti bullying lebih mengena dan mudah diingat. Melalui pertunjukan wayang modern ini, mahasiswa KKN 109 UNS menyampaikan beberapa pesan penting, mulai dari mengenali bentuk-bentuk bullying yang mungkin tidak disadari sebagai tindakan yang menyakitkan, memahami dampak psikologis bullying terhadap korban, hingga mengajarkan cara melindungi diri dan teman dari bullying. Yang tak kalah penting, mereka juga mendorong keberanian siswa untuk melaporkan kejadian bullying kepada guru atau orang tua.

Kepala SDN 03 Cintaratu menyambut baik inisiatif kelompok KKN 109 UNS ini. Menurutnya, pendekatan kreatif seperti ini sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anak usia sekolah dasar. Media wayang dengan karakter modern menjadi jembatan yang tepat antara tradisi dan kehidupan anak-anak masa kini. Para siswa kelas 3 terlihat sangat antusias mengikuti pertunjukan. Tawa dan tepuk tangan mereka mengiringi setiap adegan. Beberapa siswa bahkan mengaku terinspirasi untuk membuat wayang sendiri di rumah dan ingin menjadi dalang cilik yang menyebarkan pesan-pesan kebaikan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program KKN UNS yang fokus pada pendidikan karakter di tingkat sekolah dasar. Kelompok 109 UNS berkolaborasi dengan pihak sekolah dan masyarakat setempat untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi semua siswa. Selain sosialisasi anti bullying, mahasiswa KKN juga berencana menggelar serangkaian kegiatan lanjutan seperti pembuatan poster anti bullying bersama siswa, pelatihan guru tentang deteksi dini bullying, dan pembentukan komunitas teman sebaya yang peduli anti bullying.

Program sosialisasi anti bullying dengan media wayang modern ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang. Bukan hanya sekadar hiburan sesaat, tetapi benar-benar tertanam sebagai kesadaran kolektif untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah dan bebas bullying. Pihak sekolah berencana melanjutkan program ini dengan memasukkan pertunjukan wayang sebagai salah satu media pembelajaran rutin untuk menyampaikan berbagai nilai karakter. Wayang-wayang yang telah dibuat oleh mahasiswa KKN akan disimpan dan digunakan kembali oleh guru untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya.

Inovasi kelompok KKN 109 UNS ini membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak harus kaku dan membosankan. Dengan kreativitas dan kepedulian, pesan-pesan penting tentang anti bullying dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan berkesan bagi anak-anak. Semoga inisiatif seperti ini dapat menginspirasi kelompok KKN lainnya untuk menciptakan program-program inovatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.