Konten dari Pengguna

Hak untuk Tidak Menarik

Riswan Hidayat

Riswan Hidayat

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar adalah buatan gemini ai
zoom-in-whitePerbesar
gambar adalah buatan gemini ai

Tidak ada tuntutan yang lebih diam-diam menguasai kebudayaan kita hari ini selain kewajiban untuk menarik perhatian. Kita tumbuh dan dipaksa percaya bahwa sesuatu hanya layak hidup apabila mampu membuat orang berhenti sejenak. Buku harus memikat sejak halaman pertama. Lagu harus segera meledak di bagian refrein. Lukisan harus instagramable. Pertunjukan harus menghasilkan tepuk tangan seketika. Bahkan percakapan sehari-hari pun perlahan dinilai dari kemampuannya untuk dipotong menjadi klip pendek atau kutipan yang beredar di media sosial.

Seolah-olah segala sesuatu di dunia harus berlomba memperebutkan sepasang mata manusia. Yang menarik perlahan dianggap baik; yang tidak menarik buru-buru divonis gagal. Padahal, keduanya tidak pernah benar-benar sama. Menarik adalah persoalan perhatian, sementara baik adalah persoalan pengalaman. Keduanya dapat bertemu, tetapi tidak pernah identik. Ada karya yang memikat jutaan orang dalam hitungan jam hanya untuk dilupakan beberapa hari kemudian. Sebaliknya, ada karya yang nyaris tidak diperhatikan ketika lahir, tetapi diam-diam merayap dan mengubah cara sebuah zaman memandang dunia.

Ironisnya, kebudayaan digital makin mempersempit perbedaan mendasar itu. Perhatian telah bergeser menjadi mata uang paling berharga. Algoritma tidak pernah bertanya apakah sebuah karya mampu memperluas batin dan pengalaman manusia. Ia hanya bertanya: apakah orang bertahan melihatnya beberapa detik lebih lama? Tidak ada kebencian pribadi di dalam algoritma, pun tidak ada niat jahat untuk menghancurkan seni. Algoritma sekadar menjalankan logikanya sendiri tentang efisiensi dan durasi tayang.

Masalah besar baru muncul ketika para kreator dan seniman mulai menjadikan logika algoritma sebagai standar ukuran bagi martabat dirinya sendiri. Sedikit demi sedikit, proses penciptaan mengalami pergeseran orientasi. Yang mula-mula dicari bukan lagi bentuk paling jujur bagi pengalaman, melainkan bentuk yang paling mungkin memperoleh limpahan perhatian. Kalimat dipendekkan, warna diperkeras, judul diprovokasi, dan keheningan dipangkas habis. Bahkan kegagalan pun kini dirancang sedemikian rupa agar tetap terlihat menarik di layar peranti.

Seni perlahan kehilangan haknya untuk menjadi lambat dan membosankan. Padahal, jika kita jujur merenung, hampir semua pengalaman paling mendalam dalam kehidupan manusia justru tidak lahir sebagai sesuatu yang menarik. Menunggu orang yang dicintai di ruang tunggu Rumah Sakit, merawat orang tua yang mulai rapuh, duduk sendirian setelah kematian seorang sahabat, atau sekadar berjalan tanpa tujuan memandangi hujan—tidak ada satu pun dari pengalaman itu yang dirancang untuk mempertahankan perhatian penonton. Namun, justru di dalam ruang-ruang yang hening dan tanpa riuh itulah hidup sering kali membuka kedalamannya.

Seni tradisi dan karya maestro terdahulu sangat memahami hal ini. Puisi tidak selalu meminta pembacanya segera mengerti pada bacaan pertama. Musik tidak selalu tergesa-gesa mengejar puncak harmoni. Lukisan tidak selalu menawarkan satu pusat perhatian yang mencolok. Pertunjukan tradisional bahkan sangat akrab dengan jeda, pengulangan, dan kesunyian yang panjang. Semua itu bukanlah bentuk kelemahan estetik, melainkan cara memberi ruang bagi pengalaman agar tumbuh dan berakar sesuai kecepatannya sendiri.

Kini, kecepatan alami itu dianggap sebagai sebuah cacat produksi. Setiap detik yang tidak menghasilkan respons atau perhatian langsung dipandang sebagai kegagalan komersial. Setiap jeda dicurigai, dan setiap kesunyian buru-buru diisi dengan kebisingan baru. Barangkali inilah bentuk sensor paling halus dan paling mematikan pada abad ini. Tidak ada lembaga atau otoritas yang melarang seniman membuat karya yang lambat, rumit, atau tidak segera dipahami. Namun, seluruh ekosistem kebudayaan diam-diam menghadiahi mereka yang mampu mempertahankan perhatian paling lama.

Akibatnya, banyak seniman melakukan sensor mandiri sebelum orang lain sempat melakukannya. Mereka membuang bagian-bagian yang dianggap terlalu sunyi, menyederhanakan gagasan yang dianggap terlalu rumit, menyingkirkan keraguan, mempercepat ritme, dan mereduksi risiko penciptaan. Semua ditumbalkan demi satu harapan tunggal: agar karya tersebut tetap dianggap menarik oleh linimasa.

Di titik kritis inilah gagasan mengenai "hak untuk tidak menarik" menjadi amat mendesak. Hak ini tentu bukan pembelaan atas karya yang digarap secara asal-asalan atau bentuk keputusasaan seniman. Hak ini adalah sebuah pengakuan jujur bahwa pengalaman batin manusia tidak pernah sepenuhnya tunduk pada ekonomi perhatian. Ada hal-hal dalam hidup yang memang membutuhkan pengendapan waktu, ada makna yang baru mengkristal setelah kesabaran panjang, dan ada keindahan yang justru lahir karena ia tidak memanggil siapa-siapa.

Seni yang baik tidak selalu datang dengan mengetuk pintu secara keras; kadang ia hanya setia menunggu. Siapa pun yang sungguh membutuhkannya akan datang dengan sendirinya. Karena itu, kebebasan estetik paling radikal pada abad ini mungkin bukanlah kebebasan untuk mengatakan apa saja, melainkan kebebasan untuk tidak terus-menerus memancing perhatian publik. Hak untuk tidak viral, hak untuk tidak segera dipahami, dan hak untuk tidak menjadi sekadar latar belakang bagi arus informasi yang lalu lalang tanpa henti.

Sebab, ketika setiap karya diwajibkan untuk selalu menarik, yang hilang bukan hanya keheningan. Yang hilang adalah kemungkinan bagi manusia untuk mengalami dunia secara dalam dan tanpa tergesa-gesa. Di sinilah sabotase estetik menemukan tugas kebudayaannya yang sejati: bukan membuat karya yang sengaja jelek atau rumit, melainkan menjaga agar seni tetap memiliki satu kebebasan yang semakin langka—hak untuk tidak menarik perhatian, tetapi tetap mampu mengubah kehidupan.