Konten dari Pengguna

Utang Luar Negeri dalam Bahasa Rakyat: Indonesia Tukang Ngutang? Bag 1

Hakam Junus

Hakam Junus

President of Indonesian Students Association in Australia (PPI Australia) 18/19 Alma mater: PhD (cand.) in Maritime Security and Strategy (Strategic Studies/Geopolitics) at ANCORS University of Wollongong - Australia Master of International Relations at Coral Bell School of Asia Pacific Affairs Australian National University - Australia Bachelor of Arts (Politics/International Relations) at FISIP Universitas Nasional - Indonesia

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hakam Junus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Utang (Foto: Flickr.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Utang (Foto: Flickr.com)

Belakangan, kita banyak mendengar bahwa Indonesia itu banyak sekali utangnya, sampai-sampai ada yang bilang kita ini akan bangkrut. Apa iya? Yuk, kita bahas sedikit terkait apa itu utang pemerintah dengan bahasa yang enggak ngejelimet laiknya para elit di televisi.

Utang Pemerintah Indonesia

Utang Pemerintah Indonesia berdasarkan laporan IMF World Economic Outlook 2018 berjumlah 4,1 triliun atau 29,8% dari total Gross National Product (GDP), kira-kira hampir sepertiga GDP Indonesia. Pokoknya kedengeran gede, ya? Fantastis, hampir bangkrut kita! Darurat! Hehehe… Terus apa solusinya? Tidak ada, kritik doang. Hahaha… bercanda.

Tenang mas/mbak, cara melihatnya tidak seperti itu. Kalau negatif terus, kapan majunya Indonesia?

Ada tiga hal yang menentukan apakah utang ini buruk atau tidak, di antaranya: perbandingan dengan utang negara lain, peruntukan utang dan kepercayaan pemberi utang. Kita bahas satu per satu, ya.

Perbandingan dengan Utang Negara Lain

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, jumlah hutang Indonesia itu belum ada apa-apanya, mas/mbak, dan masih tergolong kecil sekali. Bukan buat promosiin utang atau apa tapi memang dalam sistem perdagangan internasional, semua negara juga ngutang.

Bentar, saya jelaskan pelan-pelan. Sabar ya, jangan emosi dulu, tidak akan maju Indonesia kalau kita marah-marah terus.

Sebagai contoh, Malaysia dan Vietnam memiliki utang setengah dari total GDP mereka, Singapura malah utangnya lebih banyak dari total GDP mereka. Lho, kok bisa? Bangkrut dong kalau utang lebih banyak dari GDP-nya. Ya, faktanya begitu, utangnya lebih dari GDP.

Singapura tidak sendirian, negara-negara besar seperti Amerika Serikat juga memiliki jumlah utang yang lebih banyak dari total GDP-nya. Ya, lebih banyak. Lah, bagaimana bayarnya kalau utang lebih gede? Lebih dahsyat lagi Jepang yang memiliki utang dua kali lipat dari total GDP-nya. Iya, dua kali lipat. Lah, itu Amerika sama Jepang kok baik-baik saja, ya?

Jelas jumlah utang Indonesia yang hanya sebesar 29,8% dari total GDP itu kecil banget, bos.

Bahkan, negara-negara Arab pun juga punya rasio utang jauh lebih banyak dibandingkan Indonesia, sebut saja Yordania, Qatar, bahkan negara seperti Saudi Arabia yang sudah 'tajir melintir' pun masih ada utangnya, bos, walau persentasenya tidak sebesar Indonesia. Mau dibandingkan sama negara mana lagi, nih? Gak selesai-selesai entar. Hehehe…

Jadi, utang Indonesia itu tidak buruk-buruk amat, lah karena pemerintah kita juga pasti berpikir mas/mbak dalam mengelola keuangan negara, pastinya hati-hati, lah. Mana ada pemerintah niat mau membuat bangkrut negaranya sendiri.

Kalau bangkrut mereka bagaimana? Mau ke mana mereka kalau negara bangkrut? Melamar kerja di negara lain? Kalau perusahaan yang bangkrut, sih, bisa melamar kerja di perusahaan lain.

Pertanyaanya sekarang: kok, negara-negara pada berani-berani ngutang ya? Nah, di Bagian Kedua tulisan ini kita akan kita bahas pelan-pelan terkait tujuan utang tersebut, ya.