Hutang Luar Negeri Dalam Bahasa Rakyat: Indonesia Negara Tukang Ngutang? Bagian II

President of Indonesian Students Association in Australia (PPI Australia) 18/19 Alma mater: PhD (cand.) in Maritime Security and Strategy (Strategic Studies/Geopolitics) at ANCORS University of Wollongong - Australia Master of International Relations at Coral Bell School of Asia Pacific Affairs Australian National University - Australia Bachelor of Arts (Politics/International Relations) at FISIP Universitas Nasional - Indonesia
Tulisan dari Hakam Junus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelumnya di Bagian I kita sudah bahas terkait hutang pemerintah Indonesia dan Perbadingan besaran hutangnya dengan negara-negara lain yang ternyata hutang kita itu B aja, atau Bahasa anak sekarangnya “biasa” aja. Gak ada yang perlu dilebay-lebay kan. Kecuali ada agenda dan motif tertentu, jelas bias. Sekarang kita akan bahas terkait tujuan hutang tersebut ya mas/mbak.
Peruntukan Hutang
Setelah kita bahas terkait hutang yang jelas Indonesia itu justru utangnya dikit banget dibanding negara-negara lain, sekarang kita cari tau dengan bahasa sederhana ngapain sih pemerintah ngutang segala? Emang kita gak mampu berdikari apa? Biasanya yang ngomong begini paham konsep berdikari dan globalisasi aja enggak, biasanya sih…
Begini, pemasukan negara itu bisa dari: Pajak atau Non-pajak, salah satunya mekanisme hutang. Kenapa? Ya kalau mekanisme hibah jarang banget negara lain mau kasih hibah cuma-cuma, apalagi nunggu hujan duit dari langit mana mungkin. Jadinya ya hutang.
Karena kalau pemerintah maksain pajak, yang ada semua barang-barang semakin mahal. Misal pajak kendaraan bermotor dinaikin, nanti yang susah siapa? Rakyat juga kan. Maka opsi kedua adalah melalui utang. Kenapa sih harus ngutang?
Begini, negara butuh pemasukan. Pemasukan itu untuk subsidi pendidikan, kesehatan, BBM dan seterusnya. Juga akan dipakai untuk membangun sarana dan prasarana transportasi macem jalan di daerah-daerah tertinggal, pelabuhan, listrik kemudian untuk gaji PNS dan keluarganya dan sebagainya. Untuk fasilitas seperti listrik sampai untuk biaya kemanan gaji Polisi dan TNI dan apparat penegak hukum lainnya. Larinya kesitu tuh. Semua negara ya begitu modelnya, mirip-mirip dan semua negara butuh pemasukan.
Sebagai contoh seorang nelayan yang mau membeli kapal untuk menangkap ikan. Bagaimana caranya mereka membeli kapal? Mereka mencicil. Tidak selalu langsung tunai. Sama juga dengan negara. Ketika ingin membangun hal-hal yang produktif, yang mendatangkan pertumbuhan ekonomi, kita kadang perlu mencicil. Barangnya kita dapat di depan, pembayarannya kemudian hari. Barang datang di awal, bermanfaat bagi masyarakat dan memutar roda ekonomi.
Contoh sederhana lainnya gini, katakanan lah pak Parno dan pak Soleh ngutang (bukan nama sebenarnya). Pak Parno ngutang buat traktir makan-makan dan minum-minum teman-temannya sedangkan pak Soleh ngutang untuk beli bibit jagung dan alat bajak sawah. Dua-duanya sama-sama ngutang, bedanya adalah peruntukan hutang tersebut. Dimana pak Parno ngutang untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif sementara pak Soleh ngutang untuk hal-hal yang sifatnya produktif.
Hutang yang dipakai untuk hal-hal yang sifatnya produktif justru positif karena akan mendatangkan keuntungan dalam jangka waktu panjang. Dengan ngutang buat beli bibit jagung dan alat bajak sawah, pak Soleh bisa mendapat penghasilan dikemudian hari setelah panen jagung dan menghidupi keluarganya. Tentu tidak dapat dikatakan salah apa yang dilakukan pak Soleh, karena niat dan tujuannya yang mulia dan cerdas.
Hutang luar negeri itu sama saja dengan cicilan/kredit motor, rumah, dll, bukan sesuatu yang baru di masyarakat kita. Hutang tidak selamanya buruk, asal digunakan untuk sesuatu yang produktif dan yang jelas bentuknya. Jangan dibuat untuk hal-hal yang konsumtif apalagi hal-hal negatif.
Masih kurang contohnya? Nih contoh lain, coba lihat program Pak Anies-Sandi rumah DP 0%, itu juga hutang, malah cicilannya jadi lebih lama dan besar karena tidak dikurangi DP. Ngutang juga kan judulnya?
Hutang pemerintah kita banyak dipakai untuk membangun infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, pembangkit listrik dan lain sebagainya. Lucu kalau ada yang bilang masyarakat gak makan jalan mereka makan nasi. Ya sekarang gimana mau makan nasi kalau jalan akses ke desanya aja masih amburadul bahkan harus pake helicopter atau pesawat menjangkaunya, apa gak malah jadi mahal? Supaya murah maka dibuat lah jalan. Jalan itu pastinya bukan buat orang bermobil doing jangan gagal paham dan cacat logika. Jalan itu dibangun agar masyarakat dipelosok dapat merasakan harga yang sama dengan kita yang ada dikota-kota besar. Gak boleh egois dan merendahkan orang desa, Indonesia itu bukan Cuma yang dikota tapi juga yang di desa.

Kepercayaan Pemberi Hutang
Masa sih Indonesia hutangnya gak buruk? Masih gak yakin nih. Yaud saya coba bahas dari sisi pemberi hutang ya.
Sekarang kita bahas dari pemberi hutang. Contohnya gini, yang namanya kita mau ajuin hutang ke bank, pasti bank akan ngecek dulu kesanggupan kita membayar hutang. Jangan kan ke bank, ke temen aja kadang-kadang kita mikir-mikir dulu kan kira-kira dia mampu balikin uang yang kita pinjemin atau enggak. Nah simpelnya kurang lebih sama dengan negara.
Menurut dua lembaga rating terbesar di dunia Moody's Investor Service dan Fitch Ratings dari rilis website Bank Indonesia, Indonesia masuk ke kategori Baa2 dan BBB, yang disebut juga sebagai negara stabil. Yang artinya ya masih sanggup bayar utang. Itu artinya negara kita aman dan jauh dari bangkrut. Kayak kemarin ada yang bilang kita akan krisis karena rupiah anjlok, tuh buktinya rupiah menguat lagi dan mana krisisnya?
Kalau ekonomi Indonesia jelek mana ada yang berani kasih hutang?
Sekedar informasi kemampuan kita dalam mencicil sangat baik sehingga banyak yang datang ke Indonesia mau menawari pinjaman luar negeri, tapi banyak yang ditolak Indonesia. Pemerintah gak asal aja ngutang dan hutang luar negeri itu sama saja dengan cicilan ataupun kredit yang lumrah dilakukan masyarakat. Dan seperti perumpamaan pak Parno dan pak Soleh diatas, hutang tidak selamanya buruk asal dikelola dengan baik. Jadi jangan lebay ya.
Jadi berhati-hatilah dalam memilah dan memilih informasi. Informasi negatif itu gak Cuma hoax, tapi juga pembangunan opini publik dengan narasi dystopia. Apa itu narasi dystopia? Narasi yang dibangun dengan ketakutan, dengan ancaman. Seperti “kita akan hancur, kita akan bubar dan kita akan bangkrut dan seterusnya”.
Ayo lah mau sampe kapan tergiring polarisasi opini untuk kepentingan segelintir elit?
Rakyat udah susah jangan dibuat semakin susah dengan tipu-tipu.
Udah gak jamannya nakut-nakutin, sekarang jamannya bekerja, membangun dengan bukti nyata gak Cuma cuap-cuap omong kosong.
Sekian. Semoga dimaafkan jika ada salah-salah kata, tujuannya semata-mata untuk membahasakan soal hutang sesederhana mungkin untuk masyarakat luas.
Terimakasih.
