Konten dari Pengguna

Pengabdian kepada Masyarakat: Pentingnya Literasi Keuangan Generasi Muda Lokal

Moh Saiful Hakiki

Moh Saiful Hakiki

Dosen di Prodi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Latar belakang pendidikan S1 Arsitektur & S2 Magister Manajemen ITS Surabaya, dan S1 Manajemen STIE ABI. Kandidat Doktor Ilmu Manajemen UT. Bidang Tridharma: Manajemen Keuangan

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Saiful Hakiki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generasi muda, baik di kota-kota besar maupun di daerah-daerah membutuhkan literasi keuangan terkait kemampuan konseptual manajemen keuangan, kemampuan mengidentifikasi tawaran investasi bodong atau nyata, kemampuan untuk menjadi katalisator di lingkungan keluarga kecil maupun di lingkungan terkecil pertemanan, dan kemampuan menggali minat dan bakat, khususnya terkait bidang keuangan. Literasi keuangan ini akan menjadi bekal ke depan, baik memilih peran di pekerjaan selepas lulus sekolah, maupun dalam memilih bidang ilmu yang akan dipelajari lebih lanjut di perguruan tinggi selepas SMA. Hal ini tidak terlepas juga berlaku bagi generasi muda di Kabupaten Bangkalan yang memiliki karakteristik perekonomian tertentu sebagai daerah penyangga Kotamadya Surabaya sebagai Ibu Kota Provinsi.

Hilirisasi perekonomian dan daya saing usaha di Kabupaten Bangkalan, Madura, berdasarkan Pemkab Bangkalan memiliki dua sektor unggulan dari sektor basis. Dari 273 distrik dan 8 kelurahan di Bangkalan, dua industri dengan distribusi ekonomi tertinggi adalah perdagangan dan manufaktur. Ssejak tahun 2023, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bangkalan bernilai positif setelah mengalami peningkatan sejak 2020. Penelitian menyarankan bahwa Pemerintah Kabupaten Bangkalan direkomendasikan untuk mengembangkan sektor nonbasis agar mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan nilai PDRB Kabupaten Bangkalan.

Sektor basis adalah sektor yang memperoleh pendapatan dari luar wilayah, misalnya pertanian, perdagangan, manufaktur, peternakan, pendidikan tinggi. Sedangkan sektor nonbasis mendukung sektor basis dengan pertumbuhan ekonomi secara internal, misalnya sektor perdagangan, kuliner, administrasi pemerintahan, pendidikan dasar, pasar tradisional. Kedua sektor tersebut memerlukan tata kelola/kemampuan manajerial yang baik agar perusahaan dapat beroperasi secara berkelanjutan, salah satunya kemampuan manajemen keuangan.

Cerminan posisi keuangan usaha dapat terlihat dari nilai atau valuasi dari usaha tersebut. Nilai atau valuasi adalah perwujudan mengenai bagaimana sebuah usaha dipersepsikan kinerja dan prospeknya, salah satunya terkait berbagai bentuk perusahaan: klasik dan neo-klasik (pemisahan antara kepemilikan dan kendali). Pengetahuan dan keterampilan mengenai salah satu bentuk kinerja keuangan ini akan membantu para pelajar dalam menggali salah satu aspek keuangan di masa yang akan datang.

Kondisi inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (Abdimas) dengan sasaran siswa SMA oleh Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) bermitra dengan SMAS Asshomadiyah Bangkalan. SMA Asshomadiyah Bangkalan, sebagai salah satu institusi pendidikan berbasis keislaman di Kabupaten Bangkalan, memiliki siswa-siswa generasi muda yang berpotensi membangun perekonomian wilayah. Berdasarkan observasi awal, kurikulum mata pelajaran ekonomi dan kewirausahaan yang diajarkan masih dapat dikembangkan dengan beberapa topik pengayaan. Para siswa perlu diberikan bekal praktis mengenai bagaimana mekanisme kinerja keuangan atau bagaimana sebuah sektor industri di daerah, contohnya manufaktur dan perdagangan, direpresentasikan dalam angka-angka valuasi yang menunjukkan posisi keuangan usaha (business position).

Masjid di lingkungan Yayasan Asshomadiyah, Bangkalan, Madura (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menunjukkan kebutuhan akan adanya aspek-aspek yang memengaruhi keputusan investasi dan kinerja perusahaan, sehingga diperlukan pelatihan dan edukasi yang berdampak secara finansial dan nonfinansial. Saat ini Indonesia memiliki skor SDGs 70,22, dengan peringkat ke 77 dari 193 negara. Menurut indikator SDG ASEAN, pilar lingkungan adalah yang paling umum dicapai (71%), diikuti oleh pilar tata kelola (65%), kemudian pilar pembangunan ekonomi (62%), dan terakhir pilar sosial (51%). Pilar sosial dan tata kelola membutuhkan perhatian dan pengawasan khusus (masing-masing 31% dan 32%), disusul pilar pengembangan ekonomi (25%) sesuai disajikan pada diagram berikut. Hal ini menginspirasi diadakannya kegiatan PKM ini, yang menitikberatkan pada aspek tata kelola (manajemen keuangan), pengembangan ekonomi wilayah (Kabupaten Bangkalan), dan aspek sosial (keterlibatan generasi muda pelajar dalam pengembangan ekonomi wilayah dan literasi finansial).

Indikator Pencapaian SDGs di Asia Tenggara (Sumber: ASEAN SDG Indicators Progress Report 2025)

Kami di Departemen S1 Manajemen UNUSA melaksanakan Abdimas berbentuk seminar dan pelatihan singkat mengenai literasi keuangan dan daya saing usaha lokal, bagi pelajar generasi muda pelajar di SMAS Asshomadiyah Bangkalan, Madura. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu 20 Mei 2026 dengan 20 peserta, sebagai kerja sama antara SMAS Asshomadiyah dengan Departemen S1 Manajemen dan Direktorat Riset, Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat UNUSA.

Kelas Pelatihan Singkat Literasi Keuangan di SMAS Asshomadiyah Bangkalan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Penandatangan Implementation Arrangement dengan Kepala Sekolah SMAS Asshomadiyah Nur Fauzia, S.Sos.I (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kegiatan Abdimas ini mendapat dukungan penuh dari jajaran pengurus sekolah dan Kepala Sekolah SMAS Asshomadiyah. Ibu Nur Fauzia, S.Sos.I., mendukung keterlibatan kami dalam pengabdian masyarakat dengan berbagai bentuk, termasuk pengajaran, sosialisasi, dan praktik/pelatihan, pendidikan melalui media perangkat lunak, dan evaluasi pekerjaan. Tim Abdimas mengambil peran sebagai fasilitator untuk menjembatani kompleksitas konsep dan praktik manajemen keuangan, agar dapat dicerna sebagai materi yang aplikatif bagi siswa SMA.

Seminar dan pelatihan singkat dibagi ke dalam 2 sub sesi, yaitu sesi valuasi usaha dan sesi daya saing usaha, keduanya dipresentasikan dan dijelaskan oleh Moh. Saiful Hakiki, S.T., S.M., M.MT., dosen dari Departemen S1 Manajemen UNUSA konsentrasi Manajemen Keuangan. Sesi ditutup dengan quiz berhadiah dan tanya jawab.

Sesi quiz berhadiah buku dan bahan-bahan kebutuhan pokok (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Sesi penyampaian materi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Garis besar materi mengenai nilai perusahaan adalah bahwa usaha lokal dapat dinilai dari nilai total aset, nilai buku utang, nilai ekuitas, dan nilai pertumbuhan. Total aset menunjukkan ukuran perusahaan atau bagaimana usaha dinilai posisi ukurannya dari sisi keuangan. Nilai buku utang dan nilai ekuitas menunjukkan posisi pembiayaan dan leverage. Nilai pertumbuhan berkelanjutan menunjukkan seberapa tingkat pertumbuhan yang dapat dicapai oleh sebuah usaha di periode keuangan berikutnya secara berkelanjutan (Sustainable Growth Rate - SGR). Garis besar materi mengenai daya saing usaha, bahwa terdapat 4 pilar daya saing usaha yang dapat diukur sebagai bagian manajemen strategi dan evaluasi usaha. Empat pilar tersebut adalah kehadiran di pasar internasional, kehadiran di pasar domestik, kehadiran usaha secara daring, dan kemampuan pengelola dalam mengambil keputusan.

Pilar dari internasionalisasi usaha antara lain adanya kebijakan yang mengurangi penghalang ekspor (export entry barrier), program promosi internasional dengan pasar yang ditentukan secara spesifik, mencari akses subsidi untuk mengikuti international trade fair. Pilar dari domestikasi usaha antara lain mengurangi entry barrier, membagi program kebijakan usaha secara detail dengan pendekatan kluster. Pilar dari kehadiran secara daring adalah dengan menghadirkan program yang mendukung kehadiran daring melalui marketplace (misalnya Shopee, Tiktok Shop, Olx dan lainnya), pengantar/delivery pihak ketiga (misalnya GoSend, GoFood, Grab, Shopeefood dan lainnya), maupun website profil UMKM. Terakhir, pilar dari kapabilitas pengambilan keputusan antara lain kapabilitas manajerial, pelatihan manajerial dan operasional, literasi keuangan dan kemampuan mengoperasikan financial analytical tools.

Tim Abdimas dengan pose UNUSA Unggul (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Penutup

Potensi generasi muda pelajar SMA di Bangkalan dalam peranan di bidang ekonomi perlu untuk terus diasah dan dikembangkan. Literasi keuangan bagi generasi muda ini akan dibawa oleh mereka ke lingkungan keluarga dan lingkungan sosial lain, memberikan masukan dan dukungan agar usaha lokal dalam berjalan dengan baik, sehat secara keuangan, serta mencegah masyarakat terjerat investasi bodong dan penipuan keuangan lainnya. Usaha lokal dan perekonomian, baik di sektor basis maupun nonbasis, dapat semakin berkembang dan bertumbuh secara berkelanjutan, dengan didukung literasi keuangan dan strategi keuangan yang cukup baik.

Gedung Pondok Pesantren dan SMAS Asshomadiyah, Bangkalan, Madura (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kegiatan Abdimas ini diharapkan menjadi salah satu pemantik akan minat generasi muda untuk semakin melek keuangan. Sesi seminar dan pelatihan singkat ini diharapkan membuka pintu untuk pembelajaran lebih lanjut, pencegahan informasi investasi bodong di tengah masyarakat, mendorong peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta minat dan bakat di bidang manajemen keuangan, dalam mendukung perekonomian di Kabupaten Bangkalan, Madura.