Konten dari Pengguna

Strategi Keuangan dalam Menghadapi Inflasi dengan Implementasi Manajemen Risiko

Moh Saiful Hakiki

Moh Saiful Hakiki

Dosen di Prodi S1 Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Lulus dari S1 Arsitektur, dan S2 Manajemen Proyek ITS Surabaya, serta S1 Manajemen STIE ABI. Kandidat Doktor Ilmu Manajemen UT. Bidang Tridharma: Manajemen Keuangan

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Saiful Hakiki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Inflasi (Gambar oleh Tumisu dari Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Inflasi (Gambar oleh Tumisu dari Pixabay)

Pada saat terjadi inflasi, terjadi peningkatan harga secara terus-menerus dalam periode tertentu. Pemicu inflasi 2023 di antaranya pandemi COVID-19 dan konflik-konflik antar negara yang membuat rantai pasokan dari komoditas yang diperlukan banyak negara menjadi lebih sulit. Yang terdampak dari adanya inflasi adalah pihak-pihak yang terdapat pada bidang makroekonomi dan juga mikroekonomi, salah satunya organisasi bisnis/ perusahaan.

Di dalam menghadapi inflasi, diperlukan pendekatan manajemen risiko dalam upaya menjaga kondisi finansial perusahaan agar dapat beradaptasi dengan situasi tersebut. Manajemen risiko sendiri adalah upaya pengelolaan organisasi dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan merespons risiko.

Dengan adanya manajemen risiko, diharapkan respons yang diberikan akan bisa tepat sasaran, serta organisasi dapat terus eksis dalam usahanya meraih sustainability dan memiliki kinerja yang baik. Salah satu dari aspek yang krusial dalam organisasi bisnis/ perusahaan adalah aspek finansial/ keuangan.

Manajemen Risiko

Ilustrasi manajemen keuangan keluarga. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Beberapa langkah kebijakan manajemen keuangan yang dapat diambil oleh manajer keuangan ketika perusahaan menghadapi kondisi inflasi, di antaranya:

1. Identifikasi Risiko Keuangan Akibat Inflasi

Mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang mungkin terjadi dan berpengaruh bagi keuangan perusahaan sebagai akibat dari terjadinya inflasi. Hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui/ mempelajari apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan apa saja kemungkinan-kemungkinan risiko yang akan ditanggung/ dihadapi oleh perusahaan terkait kondisi inflasi tersebut. Pembahasan yang dilakukan di antaranya:

  • Apa saja skenario risiko yang mungkin terjadi? Misalnya kenaikan harga bahan pokok berupa barang dan jasa tertentu yang selama ini dibutuhkan perusahaan.

  • Indikator-indikator apa saja yang dapat terlihat (teridentifikasi sejak awal) yang menunjukkan bahwa skenario tertentu sedang terjadi? Misalnya indikator dari inflasi ringan, sedang, atau berat.

2. Analisis Risiko Keuangan

Setelah risiko diidentifikasi, dilakukan analisa berupa pembobotan potensi keparahan akibat kondisi keuangan dan pembobotan berapa persen kemungkinan risiko tersebut akan dapat terjadi. Sebagai manajer keuangan, maka identifikasi dan analisis risiko lebih dikhususkan di bidang keuangan, misalnya:

  • Di masing-masing skenario risiko yang diidentifikasi, bagaimana efek terhadap cash flow perusahaan?

  • Seberapa besar kemungkinan suatu skenario risiko keuangan akan terjadi?

3. Merencanakan Respons terhadap Risiko Keuangan

Di dalam merespons risiko-risiko akibat kondisi inflasi, diperlukan langkah-langkah perencanaan respons dari setiap risiko agar kinerja keuangan perusahaan tetap baik seperti yang diharapkan, di antaranya:

  1. Fleksibel dan Gesit dalam melakukan Perencanaan dan Evaluasi Keuangan terkait Cashflow. Di tengah kondisi inflasi yang tidak stabil, diperlukan fleksibilitas di dalam evaluasi dan perencanaan keuangan.

  2. Membuat daftar manuver strategi keuangan apa saja yang bisa diambil di setiap skenario risiko (Risk Avoiding, Risk Reduction, Risk Mitigation dan Risk Acceptance), di antaranya:

  • Merencanakan tindakan-tindakan alternatif (diversifikasi) terkait rantai pasokan.

  • Mengalokasikan dana dan investasi ke pos-pos yang dianggap paling tepat dan merampingkan alokasi dana di luar pos-pos tersebut (cost cutting).

  • Pricing strategy dengan mempertimbangkan 4c (customers, costs, competitors dan cash).

  • Meningkatkan fokus/ perhatian pada pembiayaan terhadap layanan/produk perusahaan yang dapat dibuat dan dijual dalam jangka pendek.

  • Menyiapkan dana darurat, yaitu dana yang khusus disiapkan untuk menghadapi situasi tak terduga.

  • Memfasilitasi karyawan dengan layanan asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, dikarenakan ketika terjadi pandemi Covid-19 diperlukan biaya tak terduga yang bisa dialihkan penanggungan risikonya (mitigasi), yaitu dengan mendaftarkan karyawan perusahaan pada layanan asuransi. Biaya kesehatan yang sebelumnya ditanggung perusahaan dapat dialihkan pada perusahaan asuransi tersebut.

  • Berhati-hati dalam mengajukan pinjaman, karena di masa pandemi dan inflasi yang tidak pasti, meminjam menjadi lebih mudah namun disertai dengan bunga yang tinggi, serta terdapat risiko-risiko lain yang harus dipelajari terlebih dahulu. Pada kondisi inflasi, sebelum meminjam, sebaiknya perusahaan mengumpulkan dana dari pos dana darurat dan mencairkan investasi-investasi yang kurang penting.

  • Mereview rencana-rencana keuangan perusahaan yang telah dibuat sebelumnya, apakah masih relevan dengan kondisi inflasi atau tidak, kalau tidak relevan bisa ditunda terlebih dahulu.

4. Implementasi

Melaksanakan respons-respons yang telah direncanakan sebelumnya untuk menghindari, mengurangi, memitigasi dan beradaptasi terhadap situasi inflasi.

5. Evaluasi

Dilakukan untuk memonitor apakah implementasi yang dilakukan sudah tepat atau masih memerlukan perubahan rencana.

Memonitor Kinerja Keuangan

Ilustrasi literasi keuangan. Foto: Getty Images

Sementara untuk menjaga kinerja laporan keuangan yang baik, terdapat lima kelompok rasio keuangan sebagai alat dalam menganalisa dan memonitor kinerja keuangan perusahaan, di antaranya:

  1. Rasio Likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek secara tepat (short term liquidity).

  2. Rasio Solvabilitas, yaitu ukuran seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang, di mana ukuran yang ditunjukkan adalah seberapa besar dana yang disediakan pemilik dibandingkan dengan dana yang diberikan oleh kreditor.

  3. Rasio Aktivitas, yaitu ukuran efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya atau aktivanya, di mana pada rasio ini ditunjukkan seberapa cukup penjualan yang dikumpulkan perusahaan dibandingkan dengan aktiva perusahaan yang digunakan.

  4. Rasio Profitabilitas, yaitu rasio yang menunjukkan tingkat efektivitas pengelolaan oleh perusahaan dalam menghasilkan laba, untuk mengukur seberapa pantas pemilik atau pemegang saham dapat memperoleh pengembalian atas investasinya.

  5. Rasio Pasar, yaitu perbandingan antara harga saham perusahaan dengan laba perusahaan, serta perbandingan antara nilai buku per lembar dan nilai pasar dengan nilai buku.

Langkah-langkah manajemen risiko yang dapat diambil oleh manajer keuangan dalam menghadapi inflasi di antaranya: identifikasi risiko, analisis risiko, rencana dan implementasi respons, serta evaluasi.

Sedangkan tools yang dapat digunakan oleh manajer keuangan dalam memonitor kinerja keuangan perusahaan saat terjadi inflasi adalah dengan menganalisa rasio-rasio keuangan: rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio pasar.