Mengapa Lagu Lama Masih Lebih Berkesan dari Lagu Baru?

Saya seorang mahasiswa universitas katolik santo Thomas jurusan Teknik informatika.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Jeremy Surya Pahala Tarigan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah maraknya rilisan musik baru setiap hari, lagu-lagu lama justru masih sering diputar dan dikenang. Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas tidak selalu sejalan dengan daya ingat pendengar.
Selain itu, proses produksi lagu lama cenderung lebih matang. Musisi tidak dituntut merilis karya secara cepat. Lirik, aransemen, dan konsep digarap lebih serius, sehingga menghasilkan lagu yang terasa utuh dan memiliki karakter kuat.
Berbeda dengan kondisi sekarang, ketika industri musik bergerak cepat mengikuti algoritma platform digital. Banyak lagu dibuat singkat, repetitif, dan disesuaikan agar mudah viral. Akibatnya, lagu memang cepat dikenal, tetapi juga cepat dilupakan.
Lirik menjadi pembeda lainnya. Lagu lama sering menggunakan bahasa sederhana namun bermakna dalam. Sementara itu, sebagian lagu baru lebih menekankan irama dan potongan catchy dibanding kekuatan pesan.
Cara menikmati musik juga berubah. Dulu, orang menunggu lagu favorit diputar di radio atau membeli kaset dan CD. Kini, satu klik sudah cukup untuk mengganti lagu. Kemudahan ini membuat pendengar kurang memiliki ikatan emosional dengan musik yang didengar.
Menariknya, banyak data platform streaming menunjukkan bahwa lagu-lagu lawas terus mengalami peningkatan pendengar. Bahkan, tidak jarang lagu lama kembali viral dan mengungguli rilisan baru.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah lagu tidak terletak pada tren sesaat, melainkan pada kemampuannya membangun hubungan emosional dengan pendengar. Itulah mengapa lagu lama tetap berkesan, meski zaman terus berubah.
