Konten dari Pengguna

Belajar Lewat TikTok: Tren Pembelajaran Digital yang Disukai Generasi Z

Halimatus Sakdiyah

Halimatus Sakdiyah

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Halimatus Sakdiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar lewat TikTok bukan lagi sekadar tren viral, tetapi bagian dari pembelajaran digital yang semakin disukai oleh generasi Z. TikTok, yang dulunya dipandang sebagai platform hiburan semata, kini tengah mengalami transformasi fungsi yang luar biasa. Di tengah dominasi konten hiburan, muncul gelombang baru yang justru mengedepankan nilai edukatif. Dari pelajaran matematika, eksperimen sains sederhana, hingga tutorial teknologi praktis, semuanya hadir dalam format pendek, visual, dan mudah dicerna.

Di era digital ini, cara orang belajar telah bergeser. Bukan lagi melulu dari buku atau ruang kelas formal, tapi juga dari video berdurasi satu menit yang bisa disaksikan sambil menunggu transportasi atau istirahat makan siang.Formatnya yang singkat juga mendorong pengguna untuk belajar lewat TikTok secara bertahap.

Edukasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode lama. Anak-anak butuh pendekatan visual, singkat, dan relevan dengan keseharian mereka.

Kenapa Belajar Lewat TikTok Efektif untuk Generasi Z?

Salah satu kekuatan utama TikTok sebagai media belajar adalah kemampuannya menyampaikan materi yang padat dalam durasi singkat. Konten edukatif yang dikemas dalam bentuk narasi ringan, visual animatif, dan alur logis terbukti lebih mudah dipahami oleh pengguna, terutama generasi muda yang terbiasa dengan konsumsi informasi cepat.

“Dalam waktu singkat, saya bisa memahami topik yang sebelumnya rumit. Rasanya seperti mengikuti pelatihan singkat tanpa harus duduk berjam-jam,” ujar seorang pengguna yang aktif mengikuti konten pendidikan di TikTok.

Formatnya yang singkat juga mendorong pengguna untuk belajar secara bertahap. Alih-alih merasa kewalahan, penonton bisa mengakses materi sesuai kebutuhan mereka, dengan fleksibilitas tinggi.

Gambar Pribadi, konten edukasi di TikTok untuk belajar visual generasi Z. Jum'at, 11 Juli 2025.

Tren Edukasi Meningkat lewat #SerunyaBelajar

Kampanye #SerunyaBelajar yang diluncurkan TikTok Indonesia untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional 2025 berhasil menunjukkan bahwa "edukasi bisa menjadi tren digital". Kampanye ini memicu lonjakan konten edukatif lintas bidan dari sains, teknologi, sejarah, literasi digital, hingga pengembangan diri.

Tagar tersebut telah digunakan dalam lebih dari 24 juta video, menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap pembelajaran yang bersifat ringan namun informatif. Di dalamnya terdapat berbagai jenis pembelajaran praktis, seperti cara membuat CV profesional, tips wawancara kerja, hingga rumus cepat Excel.

Salah satu peserta kampanye menyatakan, “TikTok membuka ruang untuk belajar hal baru dengan cara yang menyenangkan. Bukan cuma menyerap ilmu, tapi juga mendorong untuk berbagi ke orang lain.”

Kreator Jadi Fasilitator Belajar

Para kreator kini menjelma sebagai fasilitator belajar alternatif. Mereka bukan selalu guru atau akademisi, tapi seringkali orang-orang dengan pengalaman praktis di bidang tertentu. Lewat video mereka, konsep-konsep rumit dikupas dengan gaya bercerita yang santai dan relatable.

Beberapa di antaranya menyampaikan konten seputar sains dengan eksperimen rumahan, membahas fenomena astronomi lewat visual langit malam, atau mengajarkan rumus matematika dengan analogi sehari-hari.

Salah satu pelajar mengaku, “Lebih mudah memahami ketika materi disampaikan oleh orang yang sebaya atau setidaknya membahasnya dalam bahasa yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.”

Belajar dari Layar ke Realita

Yang menarik, efek pembelajaran dari TikTok tidak berhenti di layar. Banyak pengguna yang mengaku mulai mempraktikkan apa yang mereka pelajari secara langsung. Misalnya, setelah menonton video membuat catatan kreatif (journaling), mereka mulai mengembangkan cara belajar sendiri yang lebih efektif.

Konsep seperti "learning by doing" ini menjadi penting di tengah dunia pendidikan yang kadang masih terlalu teoritis. Platform seperti TikTok mendorong pengguna untuk tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menerapkannya.

Tantangan: Kurasi dan Validitas Konten

Meski potensi edukasi di TikTok sangat besar, tantangan tetap ada. Tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar yang kuat. Karena sifatnya yang terbuka, siapa saja bisa membuat konten, termasuk yang tidak memiliki kapasitas di bidang yang dibahas.

Salah satu pengguna menyebutkan, “Saya sempat mengikuti sebuah tutorial yang ternyata kurang tepat. Setelah saya cek ke sumber lain, ada beberapa kesalahan.”

Hal ini menunjukkan bahwa pengguna tetap harus dibekali dengan "literasi digital yang baik" agar mampu memilah mana konten yang valid dan mana yang sekadar hiburan viral.

Bukan Pengganti Sekolah, Tapi Mitra Belajar

Perlu diingat bahwa TikTok bukanlah pengganti sistem pendidikan formal. Namun, ia bisa menjadi mitra yang kuat dalam mendukung pembelajaran. Guru bisa menggunakan konten edukatif sebagai alat bantu di kelas. Pelajar dapat menjadikan TikTok sebagai sumber inspirasi atau pengantar sebelum belajar lebih mendalam.

Pakar pendidikan menyebut bahwa pendidikan masa kini tidak cukup hanya berbasis buku teks. “Anak-anak sekarang perlu pendekatan yang fleksibel. Media sosial bisa menjadi jembatan yang efektif antara materi ajar dan kehidupan nyata.”

Belajar Ada di Mana Saja

Transformasi TikTok sebagai ruang belajar adalah refleksi dari kebutuhan zaman. Di tengah arus informasi cepat dan distraksi tinggi, justru muncul peluang untuk menjadikan hiburan sebagai medium edukasi.

Belajar kini tidak terbatas pada jam sekolah atau halaman buku. Ia bisa terjadi dalam 1 menit, melalui layar ponsel, dan tetap memberikan dampak nyata bagi kehidupan. Dengan pendekatan yang tepat, TikTok bukan hanya tempat mencari hiburan, tapi juga ruang belajar yang menyenangkan dan inklusif.