Konten dari Pengguna

Festival Budaya Nusantara 2025: Panggung Kebudayaan, Pemersatu Bangsa

Halimatus Sakdiyah

Halimatus Sakdiyah

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Halimatus Sakdiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JakartaFestival Budaya Nusantara 2025 yang berlangsung di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, menjadi momentum bersejarah dalam merayakan dan mempertegas identitas kebangsaan Indonesia melalui keberagaman budaya. Melibatkan ribuan pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia, acara ini menghadirkan ekspresi budaya dari 38 provinsi dalam bentuk tarian tradisional, musik, orasi kebangsaan, hingga parade busana adat. Lebih dari sekadar perayaan, festival ini menjelma menjadi wahana edukasi kebangsaan dan refleksi kebudayaan yang mempertemukan nilai lokal dengan semangat nasionalisme inklusif.

Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan. Di festival ini, ia menjadi kenyataan yang bisa disentuh, dilihat, dan dirasakan.

Diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan kebudayaan, serta didukung oleh kementerian terkait, Festival Budaya Nusantara bukan hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga arena pembentukan karakter, penguatan identitas lokal, dan peneguhan semangat Bhinneka Tunggal Ika di kalangan generasi muda.

Kekayaan Indonesia Timur Mendominasi Festival

Salah satu catatan penting dalam pelaksanaan tahun ini adalah dominasi penampilan dari wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua dan sekitarnya. Kawasan yang sering dipinggirkan dalam wacana budaya nasional ini kini menempati posisi strategis sebagai pusat perhatian publik festival.

Berbagai ekspresi budaya Papua tampil tidak hanya dalam bentuk seni pertunjukan seperti Tari Aster dari Jayawijaya, Tari Boven Digoel, serta musik tradisional Pikon, tetapi juga dalam bentuk ekspresi lisan seperti orasi kebangsaan dari delegasi Wamena dan Fakfak. Penampilan tersebut tidak semata menghadirkan kekayaan estetika, tetapi juga menyampaikan aspirasi dan nilai-nilai sosial yang hidup dalam komunitas lokal mereka.

Kehadiran Papua sebagai kekuatan budaya yang solid dalam festival ini juga membantah stigma lama yang mengasosiasikan wilayah timur hanya sebagai pinggiran. Sebaliknya, Papua tampil sebagai subjek yang aktif, artikulatif, dan berdaulat secara budaya.

Ritual Tradisional dan Atraksi Pembuka yang Memikat

Festival dibuka dengan ritual bakar batu, sebuah tradisi masyarakat Papua yang merepresentasikan makna kebersamaan, syukur, dan musyawarah. Ritual ini dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap nilai adat dan diiringi narasi sejarahnya, menjadikannya sebagai medium pendidikan lintas budaya bagi peserta dan pengunjung.

Selain itu, ditampilkan pula atraksi palang pintu khas Betawi, serta pertunjukan manusia petasan, dua bentuk seni rakyat yang menghadirkan interaksi antara tradisi dan kreativitas kontemporer. Palang pintu menggambarkan adu pantun dan adab dalam menyambut tamu, sementara manusia petasan menghadirkan hiburan visual dengan sentuhan tradisi dan simbol kekuatan.

Kedua atraksi ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia memiliki dimensi yang luas, dari ritual sakral hingga hiburan populer, dari spiritualitas lokal hingga kekayaan ekspresi rakyat.

Delegasi Aceh dan Busana Adat: Identitas Melalui Simbol

Segmen fashion show pakaian adat menjadi salah satu bagian paling menarik dalam festival. Pelajar dan mahasiswa dari berbagai provinsi berjalan anggun mengenakan busana tradisional, memperlihatkan keragaman estetika budaya sekaligus mengkomunikasikan nilai-nilai lokal yang dikandung tiap pakaian.

Delegasi dari Provinsi Aceh tampil memukau dan percaya diri. Mereka membawa busana adat Aceh dengan penuh khidmat, menampilkan keberagaman motif dan filosofi pakaian yang melambangkan kesopanan, keberanian, dan spiritualitas. Delegasi ini terdiri atas: Halimatus Sakdiyah, Salma Ummul Khoir, Ekfina Qanita Fesyia, Geovani Naufal Ramadhan, Muhammad Syaraful Annam, Zakiya Asnawi Salim, Muhammad Al Fatih, Shaldan Hafid, Ina Deli Yanty, dan M. Zayyan Muuandis Farhan.

Gambar pribadi, Festival Budaya Nusantara 2025 yang berlangsung di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan. 13 Juli 2025.

Ini bukan sekadar peragaan pakaian, tetapi juga simbol pengakuan atas eksistensi budaya daerah sebagai bagian tak terpisahkan dari bangunan kebangsaan Indonesia.

Tari Saman: Simbol Kolektivitas dan Ketertiban Sosial

Tengah hari menjadi momentum penting ketika Tari Saman dari Gayo, Aceh, ditampilkan secara kolosal oleh puluhan pelajar. Tarian ini mencerminkan harmoni, kekompakan, serta kekuatan kerja sama yang menjadi nilai inti masyarakat Aceh.

Tari Saman bukan hanya atraksi indah secara visual, tetapi juga metafora sosial yang mengajarkan pentingnya kesetaraan, solidaritas, dan kedisiplinan. Dalam tarian ini, tidak ada satu pun penari yang menonjol; semua bergerak serempak, membentuk pola irama yang selaras. Hal ini menjadi simbol kuat dari nilai kebersamaan yang dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa.

Penampilan Tari Saman di tengah acara menunjukkan betapa nilai-nilai lokal dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan karakter nasional yang kolektif dan beradab.

Penutup yang Penuh Semangat: Tarian Papua untuk Indonesia

Sebagai penutup festival, ditampilkan tarian rakyat Papua yang energik dan penuh makna. Tarian ini melibatkan lebih dari 100 pelajar dari berbagai provinsi timur, dan menggambarkan semangat kerja bersama, semangat hidup, serta ekspresi kebebasan.

Dengan iringan musik tradisional dan nyanyian khas Papua yang dinamis, penampilan ini menyatukan seluruh elemen peserta festival dalam suasana haru sekaligus semangat. Penonton diajak untuk tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut bergerak bersama. Suasana ini menggambarkan harapan bahwa budaya Indonesia bukan hanya untuk dipamerkan, tetapi untuk dihidupi dan dirayakan bersama.

Festival Budaya Nusantara 2025 membuktikan bahwa generasi muda Indonesia masih memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian dan pewarisan budaya daerah. Namun demikian, perlu dicermati bahwa tantangan ke depan tidak ringan. Globalisasi, modernisasi, dan arus digitalisasi sering kali menjauhkan masyarakat dari akar budaya lokal mereka.

Untuk itu, perlu strategi yang sistematis dan berkelanjutan: integrasi budaya dalam kurikulum pendidikan, penguatan lembaga adat, serta dukungan kebijakan publik terhadap komunitas budaya. Budaya harus dijadikan subjek pembangunan, bukan hanya objek dekoratif.

Penting pula untuk menjadikan festival semacam ini sebagai agenda tahunan yang terencana dengan baik, bukan sekadar seremoni temporal. Hanya dengan cara demikian, Indonesia dapat membangun bangsa yang bukan hanya besar secara jumlah penduduk, tetapi juga kokoh dalam identitas dan karakter kebudayaannya.