Konten dari Pengguna

Kematian: Membahagiakan atau Menakutkan

Halimi Hayat

Halimi Hayat

Mahasiswa Ilmu komunikasi UMSIDA, Seorang Penulis serta Pegiat Sanggar Celoteh Usang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Halimi Hayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Penulis. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Penulis. Foto: Shutter Stock

Ketika kau menemukan kehidupan (Duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (Duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup. (Al-Minal Wa An-Nihal)

Dalam kalimat diatas Asy-syahrastani dalam bukunya An-Minal Wa An-Nihal menyatakan bahwa kematian bukanlah momok yang mengerikan karena pada dasarnya kehidupan yang sesungguhnya adalah setelah kematian, dunia hanya tempat kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan selanjutnya yaitu di alam akhirat. Akan tetapi kesan umum tentang kematian dapat dikatakan bahwa pembicaraan mengenai kematian bukan sesuatu yang menyenangkan. Naluri manusia bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Hal ini sudah biasa di kalangan kita untuk bisa hidup seribu tahun lagi, seolah-olah kita menginginkan kehidupan yang abadi tanpa mengenal istilah kematian.

Demikian hasrat kita, kala sedang berbahagia dengan kehidupan yang di jalani. Hasrat itu tumbuh dari berbagai keadaan, mulai dari primer, materi, internal, eksternal dan seterusnya. Contoh sederhananya, ketika kita mulai menikmati kehidupan duniawi. Baik itu saat bergembira dengan harta yang banyak, sehingga tidak ada ada kecemasan yang di timbulkan dengan jalan melakukan apa saja secara bebas tanpa kendali. Akibatnya kita sering kali menganginlalukan tentang kematian. Seolah dengan gagahnya kita bilang kepada tuhan. “ tuhan, saya tidak mau mati, matinya jangan dulu, saya sedang bahagia!.” Bagaimana perasaanmu jika kita berkata seperti itu kepada Tuhan.?

Ilustrasi foto: Pixabay

Banyak faktor jarang membuat orang enggan mati. Ada orang yang enggan mati karena ia tidak mengetahui apa yang dihadapi setelah kematian, mungkin juga karena menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah kematian. Atau mungkin khawatir karena memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati yang sebenarnya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadap kematian itu sendiri.

Dari sini lahir pandangan-pandangan optimistis dan pesimistis terhadap kematian dan kehidupan. Ini berkdalih pada kita, melalui nalar dan pengalaman kita tidak mampu mengetahui hakikat kematian. Karena itu kematian dinilai sebagai gaib nisbi yang paling besar. Walaupun pada hakikatnya kematian merupakan sesuatu yang tidak di ketahui. Setiap menyaksikan bagaimana kematian merenggut nyawa yang hidup. Kita semakin terdorong untuk mengetahui hakikatnya, atau paling tidak, ketika itu akan terlintas dalam benak kita bahwa suatu ketika manusia pun pasti mengalami nasib yang sama.

Di kalangan sementara kita, kematian menimbulkan kecemasan, apabila pada pandangan bahwa hidup hanya sekali, yaitu di dunia saja. Sehingga tidak yang sedikit yang pada akhirnya menilai kehidupan ini sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu, kita sering kali melupakan kematian dan menghindari segala kecemasan dengan melakukan apa saja tanpa kendali. Demi mewujudkan eksistensi kita. Bukankah kematian akhir dari segala sesuatu? Kilah sebagian kita.

Sebenarnya agama telah mengajarkan kita tentang makna kematian bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari satu perjalan panjang dalam evolusi manusia, selanjutnya ia akan memperoleh segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksaan dan kenistaan. Dalam Al Qur’an terdapat sebuah ayat tentang akhirat “Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu dari pada dunia (Q.S Ad-dhuha [93] : 4)”. Kematian mempunyai peran yang sangat dalam untuk memantapkan akidah serta menumbuhkan kembangkan semangat pengabdian. Lalu kenapa kita takut mati? Sedangkan kematian memiliki beberapa kenikmatan yang terkandung di dalamnya.

Nikmat yang diakibatkan oleh kematian, bukan saja dalam kehidupan ukhrawi nanti, tetapi juga dalam kehidupan dunia, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana keadaan dunia kita yang terbatas areal ini, jika seandainya semua manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami kematian. Pakar tafsir Fakhruddin Ar-razi secara terperinci mengomentari surah Az-zumar (39) : 42. Tegasnya “ yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedangkan tidur adalah putusnya hubungan secara tidak sempurna dilihat dari beberapa segi”. Dari kalimat tersebut Fakhruddin Ar-Razi menegaskan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan pada kematian karena pada dasarnya setiap hari kita sudah merasakan kematian yaitu tidur. Bukankah kita sangat bersemangat jika ingin tidur kenapa kita begitu takut kita menghadapi kematian.

foto: Pixabay

Dengan demikian, mati itu sendiri lezat dan nikmat. Bukankah tidur itu demikian? Tetapi tentu saja ada faktor-faktor eksternal yang dapat mejadikan kematian lebih lezat dari pada tidur, atau menjadikannya amat mengerikan melebihi ngerinya mimpi-mimpi buruk ketika tidur. Faktor-faktor eksternal tersebut muncul dan diakibatkan oleh amal kita itu sendiri yang perannya ada pada saat kita menjalani hidup di dunia ini. Karenanya, kematian sebagai jalan menuju perpindahan sebuah tempat dengan keadaan yang lebih mulia dibandingkan dengan kehidupan dunia. Bukankah kematian adalah wafat yang berarti kesempurnaan serta imsak yang berrti menahan (disisisNya). Karena Al-Quran menggunakan istilah wafat dan imsak dalam kematian.

Demikian terlihat bahwa kematian dalam pandangan islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena disamping mendorong kita untuk meningkatkan pengabdian dalam kehidupan dunia ini, ia juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagian abadi, serta mendapatkan keadilan sejati. Dan semua itu menginformasikan tentang kematian yang dapat mengantarkan kita sebagai seorang mukmin agar tidak khawatir menghadapinya. Sementara bagi orang yang tidak beriman atau yang durhaka niscaya ia akan merasa bahwa kematian sebagai sesuatu yang menakutkan dan diajak untuk bersiap-siap menghadapi beberapa ancaman dan siksaan. Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.