KKN UNDIP Bangkitkan Kembali Minat Membatik di Kampung Batik Rifa’iyah
Tulisan dari Haliza Nima Ajrul Amalin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Batang – Mahasiswa KKN-T DBU 68 Universitas Diponegoro (UNDIP) Tahun 2026 menggelar kelas membatik gratis di Rumah Bu Utin, Kampung Batik Rifa’iyah, Desa Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, Minggu (26/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Kelompok 3 tersebut bertujuan memperkenalkan proses membatik khas Rifa’iyah sekaligus mengajak masyarakat mengenal lebih dekat nilai budaya yang diwariskan secara turun-menurun di Kampung Batik Rifa’iyah.
Kelas membatik diikuti oleh 21 peserta yang terdiri atas 14 mahasiswa KKN UNDIP dan tujuh peserta dari kalangan masyarakat serta pelajar. Seluruh peserta mengikuti setiap tahapan membatik, mulai dari membuat pola (klowongi), mencanting atau isen-isen, pewarnaan (ngobat), pelorodan untuk menghilangkan malam menggunakan air panas, hingga proses penjemuran.
Kampung Batik Rifa’iyah merupakan salah satu sentra batik tradisional di Kabupaten Batang yang berkembang di lingkungan masyarakat penganut ajaran KH. Ahmad Rifa’i sejak abad ke-19. Batik Rifa’iyah tidak hanya dikenal melalui motif-motifnya yang khas, tetapi juga mengandung nilai-nilai religius dan filosofi kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejumlah motif mencerminkan ajaran moral masyarakat Rifa’iyah, sementara penggambaran makhluk hidup dibuat tidak utuh sebagai bentuk penyesuaian terhadap nilai-nilai yang dianut dalam komunitas tersebut. Tradisi membatik inilah yang hingga kini terus dijaga oleh para perajin di Kampung Batik Rifa’iyah.
Berangkat dari kekayaan budaya tersebut, kelas membatik ini tidak hanya menjadi ruang belajar membuat batik, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan warisan budaya lokal kepada masyarakat. Berbeda dengan pelatihan membatik pada umumnya, peserta tidak diwajibkan menggunakan motif pakem Batik Rifa’iyah. Mereka diberi kebebasan menuangkan kreativitas melalui motif yang diinginkan. Meski demikian, seluruh proses dapat memahami teknis serta proses yang diwariskan oleh para perajin setempat.
Ketua Kelompok Pembatik Kampung Batik Rifa’iyah, Miftakhutin atau yang akrab disapa Bu Utin, menjelaskan bahwa kelas membatik gratis telah rutin diselenggarakan setiap hari Minggu sebagai wadah belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal batik. Kegiatan tersebut merupakan inisiatif pribadinya dan dipublikasikan melalui platform media sosial WhatsApp.
"Saya itu pengen anak-anak muda bisa membatik di tengah kesibukan mereka dan aktivitas yang lain. Hari Minggu biasanya mereka libur, saya juga libur, jadi ada satu waktu yang sama-sama longgar. Saya ingin mereka mengerti tentang batik dan saya ingin menularkan ilmu batik," ujar Miftakhutin, penyelenggara kelas membatik sekaligus Ketua Kelompok Pembatik Rifa'iyah.
Pada awal penyelenggaraan, kelas membatik mendapat antusiasme yang cukup tinggi. Namun, seiring berjalannya waktu jumlah peserta mulai berkurang dan umumnya hanya diikuti oleh dua hingga lima orang setiap pertemuan. Melalui kolaborasi bersama mahasiswa KKN-T IDBU 68 UNDIP, kegiatan tersebut diharapkan dapat kembali menarik minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk mempelajari sekaligus melestarikan tradisi membatik di Kampung Batik Rifa’iyah.
Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan dan perkenalan yang dipandu langsung oleh Bu Utin. Pada kesempatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai peralatan membatik serta mendapatkan penjelasan mengenai setiap tahapan pembuatan batik sebelum memulai praktik secara langsung. Setelah itu, peserta mempraktikkan seluruh proses membatik dengan pendampingan dari Bu Utin dan mahasiswa KKN-T UNDIP kelompok 3 selaku fasilitator. Suasana kegiatan berlangsung interaktif karena peserta dapat berdiskusi mengenai teknik penggunaan canting, proses pewarnaan, hingga berbagai tantangan yang ditemui selama membatik. Setelah kain batik selesai diproses dan mengering, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama.
Keunikan kelas membatik ini terletak pada konsepnya yang terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Program tersebut dirancang sebagai ruang belajar bersama bagi siapa saja yang ingin mempelajari proses membatik tanpa memandang usia maupun pengalaman. Selain memperoleh keterampilan baru, peserta juga diajak memahami nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Kampung Batik Rifa’iyah.
Salah satu peserta, Marshanda Salsabila, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berkesan karena menjadi kesempatan pertamanya mempraktikkan proses membatik secara langsung.
"Workshop membatik ini seru banget dan jadi pengalaman baru buat saya karena ini pertama kalinya belajar membatik secara langsung. Dari sini saya jadi tahu kalau membatik ternyata butuh kesabaran, ketelitian, dan proses yang panjang, sehingga membuat saya semakin menghargai para pembatik. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan agar semakin banyak anak muda yang ikut melestarikan Batik Rifa'iyah," ujar Marshanda Salsabila.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja Kelompok 3 KKN-T IDBU 68 Universitas Diponegoro yang beranggotakan Natasya Kalia Erlista (Sastra Inggris, FIB), Yanuaris Nafirous (Arsitektur, FT), Qeish Arian Ramadhan (Arsitektur, FT), Muhammad Revanza Maypratama (Arsitektur, FT), Alika Riefna Tunggadewi (Antropologi Sosial, FIB), Syifa Adellia Putri Aprifianto (Antropologi Sosial, FIB), Sabrina Mustika (Sejarah, FIB), Tiara Gita Asari (Sejarah, FIB), Sasa Aqila Cahya Prawita (Sastra Indonesia, FIB), dan Haliza Ni'ma Ajrul Amalin (Ilmu Komunikasi, FISIP).
Pelaksanaan program berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. R. Siti Rukayah, M.T., Dr. Sukawi, S.T., M.T., dan Dr. Ir. Agung Budi Sardjono, M.T. dari Departemen Arsitektur Fakultas Teknik, serta Dr. Dra. Siti Maziyah, M.Hum. dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-T IDBU 68 Universitas Diponegoro berharap kelas membatik gratis dapat terus menjadi ruang belajar yang dimanfaatkan masyarakat sekaligus menarik minat lebih banyak generasi muda untuk mengenal proses membatik dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Batik Rifa'iyah. Kolaborasi antara mahasiswa, perajin, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya pelestarian warisan budaya lokal serta mendukung Kampung Batik Rifa'iyah sebagai desa wisata budaya yang terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

