Jatuh Cinta Seperti Di Film Film : Mumblecore, Banalitas Dan Narrative Film
Tulisan dari Halomoan Sirait tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hakikat banalitas seorang penulis yang hendak tulisannya memfilmkan dan kedudukannya sebagai seorang sutradara telah lama dirujuk oleh Hong Sang Soo melalui ciri khasnya dengan sakebuddies (ngobrol sambil minum sake).Karya luar negeri lainnya sebut saja All The Light In The Sky serta Drinking Buddies (Joe Swanberg/2013) yang punya tempat di hati aeteurs. Skenario asli tersebut menghasilkan digugah kisah dan tentang penulis naskah itu sendiri yang juga beromansa dengan wanita yang ditemuinya.Beberapa karya banalitas di Indonesia antara lain Rocket Rain (2013), genre yang belum menemukan tempatnya dipasar luas, namun sudah diakui keunikannya. Banal bagai penulis itu sendiri, sesuatu yang macet, sesuatu yang dialami penulis (writers block) hingga imajinasi penulis jika film itu difilmkan akan begitu luar biasa dan euforik.But film is just only a film, not a real life.Banalitas bersifat personalis, idealis, dan bukan hal yang menjual.Dari segi teknis, ia begitu miskin, saking pelitnya, ia disajikan hitam putih (The Day He Arrives, 2011 misalnya).Durasi begitu panjang dalam satu take, dengan obrolan seadanya.Tanpa scoring musik hingga teknis lainnya. Hingga akhirnya keberadaan genre ini diakui keunikannya , dan disebutlah ia dengan mumblecore. Didalam essay saya tahun 2016, yang berjudul “mumblecore, banalitas & Karakter Yang Tak Utuh1” dijelaskan bahwa mumblecore bukanlah genre film, namun rasa dan keinginan memproduksi film sendiri atas keklisean produksi film, terutama Hollywood. Bahkan tercetus diessay tersebut mengatakan “apa benar mumblecore layak untuk disebut sebagai film?” hingga saya mengupasnya dengan gagasan teori research-film.Sebagai permulaan, bir boleh jadi bentuk orang Amerika dalam mengungkapkan situasi banal. Sake bagi orang Korea.Atau Anggur bagi orang Eropa.
“Setiap kreator film di semua negara menerjemahkan genre dengan tradisi lokus dan fokusnya masing masing.Lokus memberikan cangkang pada manifestasi ideologi kreator film, yang cenderung menetap dan dinamis.Sedangkan fokus adalah titik dimana film dan kreator film itu berada.” (Essay Film.blogspot.2016)
Jatuh Cinta Seperti Di Film Film hadir ditahun 2023 membawa arus tontonan yang menggelitik.Film ini mengisahkan seorang Bagus, penulis naskah yang melakukan research dengan Hanna (yang notabene adalah sahabat lamanya) yang mana wanita itu tidak tahu bahwa itu adalah film-project.Setiap dialog dialog banal yang ia dapatkan ketika mengencani wanita itu ia tuliskan kedalam skript.Tidak hanya memperkenalkan proses pengambilan film, film ini juga memposisikan Bagus sebagai seorang penulis naskah yang merangkap sebagai sutradara, seperti halnya kisah kisah banal Hong Sang Soo, di The Novelist Film (2021) atau Our Sunhi (2013).
Film tersebut menggambarkan Bagus, karakter yang tidak kokoh, hingga ia perlu menjadi Bagus dilayar film dalam menggambarkan perasaannya pada Hanna.Ia mengangkat konsep “jatuh cinta” yang mana term tersebut selalu sukses dipasaran padahal ia begitu basi dan klise.Tak urung, ia pun digambarkan tak pernah mengenal dan tahu apa arti jatuh cinta hingga ia mengadakan riset kecil kecilan. Akankah Bagus berhasil memfilmkan naskah tersebut dari pertemuannya dengan Hanna?
Banalitas Yang Dijadikan Komoditas
Mumblecore memberikan spekulasi akan kehadiran film naratif untuk mensindir genre mayor yang gagal dimata audiens. Misalnya begini, film yang mengaku komedi ternyata tidak lucu dan gagal untuk melucu. Begitulah yang tersirat setelah menononton “Jatuh Cinta Di Film Film” ia tidak mengaku sebagai film cinta yang romantis, ia hanya mengaku sebagai film narasi seorang Bagus yang hendak membuat film dan melakukan riset kecil mengenai makna cinta. Dan it’s real love. Cinta yang klise itu hadir dari dialog dialog banal yang membosankan, dan ia tidak hanya tumbuh dalam lingkup mencintai wanita itu, namun juga mencintai apa itu film.Sungguh menarik bagaimana mumblecore menjadi strategi dan taktik dalam bercerita. Jatuh Cinta Seperti Di Film Film menjabarkan ketidakkokohan karakter utama, kebiasaan kebiasaan yang membosankan, kehidupan membosankan sebagai penulis, kebosanan dalam produksi syuting, tanpa hingar bingar selebritas dan popularitas sebagai daya jualnya.Ia dikemas dengan berani dengan layar hitam putih, tokoh utama wanita biasa biasa saja, seperti kehidupan nyata.Ia hanya ditambahkan sedikit teknik editing yang menghasilkan gelak tawa pecinta film, seperti drone yang terbang, gaya khas Slumdog Millionaire (Danny Boyle) yang membawa buncah tawa.Ia hadir dengan skor musik yang sangat minim.Ia juga tak lupa mengkritik industri *jambakan yang masih dinikmati oleh penonton yang belum tahu malu. Yandi Laurens (sutradara) membidik kisah cinta ini dengan layar hitam putih tak menjadikannya kisah cinta chicklit, ia mengkawinkan dua perasaan dua orang dewasa muda, dan cinta itu muncul dari perpaduan itu. Meskipun tanpa warna, cinta itu penuh warna disepanjang durasi film.Sebutlah ia Surat cinta untuk cinta dan Surat cinta untuk Film.
Kebangkitan Genre Film Naratif ?
Didalam buku Film Indonesia (Krisis Dan Paradoks), Garin Nugroho & Dyna Herlina, film adalah sebuah kehebohan modernisasi dan seni pertunjukan.Keberadaan Genre Baru dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap krisis.Ia melahirkan sukacita dalam film,dan teknologi baru lahir untuk kukunya menancapkan kedalam dunia pop.Transisi era digital 5.0 saat ini terjadinya memungkinkan transisi, kemunduran satu genre, serta kebangkitan genre baru (Nugroho, : 2015).Keberadaan mumblecore/film naratif masih malu malu dinegeri ini, ia memilih jalan layar festival bukan layar bioskop komersil.Mumblecore3 adalah subgenre film indepen yang bercirikan akting dan dialog naturalistik, anggaran rendah, penekanan pada dialog daripada plot, dan fokus pada hubungan pribadi orang dewasa muda (Webster).Sebagai salah satu dari naratif film, ia lebih kohesif dan komponen yang minimalis. Jatuh Cinta Seperti Di Film Film memang tidak perlu dikotak kotakkan, dikomparasikan dengan karya luar negeri, hingga dianalisis begitu rumit. Jatuh cinta memang adalah rasa, bukan logika.Analisis diatas semata mata hanya memprediksi bahwa Indonesia siap menyambut kemajuan, orisinilitas dan kualitas film Indonesia akan masuk pada era yang sesungguhnya. Tidakkah itu membuatmu jatuh cinta pada film Indonesia? Selamat menonton :)
Sutradara : Yandi laurens Produser :Ernest Prakasa ,Suryana paramita Pemeran: Ringgo Agus
Rahman, Nirina Zubir Tahun: 2023 Produksi: Imajinari Distributor: Netflix Negara: Indonesia
1 essay film : Mumblecore, Banalitas & Karakter Yang Tak Utuh ;2016
(https://essayfilm.blogspot.com/2016/02/essay-mumblecore-banalitas-karakter.html)
2
essay film : Bagaimana Sebaiknya Mumblecore Diterjemahkan ; 2015
(https://essayfilm.blogspot.com/2016/02/essay-bagaimana-sebaiknya-mumblecore.html )
3defenisi mumblecore menurut kamus Merriam Webster (diakses pada 27-0902024
Penulis : Halomoan Sirait
*Ditonton di kanal legal Netflix

