Pertumbuhan Afrika Selatan dalam Bayang Pengaruh Tiongkok

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Sriwijaya.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Hamanda Laudya Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan dalam beberapa tahun terakhir kerap dipandang sebagai sinyal pemulihan sekaligus kebangkitan baru di kawasan Afrika. Di tengah berbagai tantangan domestik, mulai dari krisis energi hingga ketimpangan ekonomi yang mengakar, negara ini tetap menunjukkan performa yang relatif stabil. Dalam konteks tersebut, meningkatnya kerja sama ekonomi dengan Tiongkok sering kali dilihat sebagai faktor kunci yang mendorong akselerasi pembangunan. Data menunjukkan bahwa Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Afrika Selatan selama lebih dari satu dekade, dengan nilai perdagangan yang mencapai puluhan miliar dolar setiap tahunnya.
Hubungan ini merupakan bagian dari tren yang lebih luas, di mana negara-negara Global South semakin mengandalkan kerja sama Selatan-Selatan sebagai alternatif terhadap dominasi ekonomi Barat. Melalui investasi infrastruktur, pembiayaan proyek strategis, serta ekspansi perdagangan, Tiongkok tampil sebagai mitra yang menawarkan solusi cepat bagi kebutuhan pembangunan negara berkembang. Tidak seperti modal bantuan Barat yang sering disertai prasyarat politik, pendekatan Tiongkok yang lebih pragmatis membuatnya tampak sebagai mitra yang menarik bagi Afrika Selatan.
Namun, di balik narasi kemitraan yang tampak saling menguntungkan tersebut, terdapat dinamika yang perlu dicermati secara lebih kritis. Struktur perdagangan antara kedua negara menunjukkan bahwa Afrika Selatan masih didominasi oleh ekspor bahan mentah, sementara impor dari Tiongkok didominasi oleh produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Pola ini mencerminkan kecenderungan yang tidak sepenuhnya seimbang dan berpotensi menghambat transformasi industri domestik Afrika Selatan dalam jangka panjang.
Berangkat dari kondisi tersebut, artikel ini berargumen bahwa hubungan ekonomi antara Afrika Selatan dan Tiongkok, meskipun memberikan manfaat jangka pendek dalam bentuk pertumbuhan dan pembangunan infrastruktur, pada saat yang sama berpotensi menciptakan pola ketergantungan struktural baru dalam bentuk yang lebih modern dan terselubung. Alih-alih menjadi fondasi bagi kemandirian ekonomi, kerja sama ini justru dapat memperdalam posisi Afrika Selatan dalam relasi ekonomi global yang timpang jika tidak dikelola secara strategis.
Salah satu indikator paling jelas dari potensi ketergantungan tersebut dapat dilihat dari struktur perdagangan antara Afrika Selatan dan Tiongkok. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai perdagangan bilateral kedua negara secara konsisten berada di kisaran USD 50-60 miliar per tahun, dengan Tiongkok mempertahankan posisinya sebagai mitra dagang terbesar Afrika Selatan. Namun, di balik angka yang impresif ini, terdapat ketimpangan struktural yang signifikan. Ekspor Afrika Selatan ke Tiongkok, masih didominasi oleh komoditas mentah seperti bijih besi, logam, dan mineral lainnya, sementara impor dari Tiongkok sebagian besar berupa produk manufaktur bernilai tambah tinggi seperti mesin, elektronik, dan barang konsumsi.
Pola ini mencerminkan relasi ekonomi yang tidak seimbang, di mana Afrika Selatan berperan sebagai pemasok bahan mentah, sementara Tiongkok menguasai sektor produksi dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Dalam kerangka dependency theory, kondisi ini bukan sekadar perbedaan spesialisasi ekonomi, melainkan indikasi dari posisi struktural yang timpang dalam sistem ekonomi global. Alih-alih mendorong industrialisasi domestik, hubungan perdagangan semacam ini justru berpotensi memperkuat ketergantungan Afrika Selatan pada pasar dan teknologi eksternal, sekaligus membatasi kemampuannya untuk naik dalam rantai nilai global.
Selain melalui perdagangan, potensi ketergantungan juga tercermin dalam pola investasi dan pembangunan infrastruktur yang melibatkan Tiongkok di Afrika Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan dan lembaga pembiayaan Tiongkok aktif terlibat dalam proyek-proyek strategis, mulai dari sektor energi hingga transportasi. Di tengah krisis listrik yang berkepanjangan, misalnya, investasi Tiongkok dalam pembangunan pembangkit listrik dan jaringan energi kerap dipandang sebagai solusi cepat atas keterbatasan kapasitas domestik Afrika Selatan.
Namun, efektivitas jangka panjang dari kerja sama ini patut dipertanyakan. Banyak proyek infrastruktur yang didanai atau dibangun oleh Tiongkok tetap bergantung pada teknologi, tenaga kerja, dan skema pembiayaan dari pihak Tiongkok itu sendiri. Kondisi ini membatas transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas industri lokal, sehingga manfaat pembangunan tidak sepenuhnya terinternalisasi dalam perekonomian domestik Afrika Selatan. Alih-alih mendorong kemandirian, pola investasi semacam ini berpotensi menciptakan ketergantungan baru, di mana pembangunan fisik memang terlihat, tetapi kontrol ekonomi dan teknologinya tetap berada di luar negeri.
Dalam perspektif dependency theory, fenomena ini menunjukkan bahwa ketergantungan tidak selalu hadir dalam bentuk eksploitasi yang kasat mata, melainkan dapat beroperasi melalui mekanisme yang lebih halus, seperti dominasi teknologi dan pembiayaan. Dengan demikian, keterlibatan Tiongkok dalam pembangunan infrastruktur Afrika Selatan tidak hanya menjadi instrumen pertumbuhan, tetapi juga berpotensi menjadi saluran reproduksi ketergantungan dalam bentuk yang lebih modern.
Dominasi Tiongkok dalam perdagangan dan investasi di Afrika Selatan kerap dibingkai dalam naarasi kerja sama Selatan-Selatan yang menekankan solidaritas antarnegara berkembang. Dalam kerangka ini, hubungan antara Tiongkok dan Afrika Selatan diposisikan sebagai alternatif terhadap pola hubungan eksploitatif yang selama ini diasosiasikan dengan negara-negara Barat. Pendekatan Tiongkok yang minim prasyarat politik dan berfokus pada pembangunan konkret sering kali dipersepsikan sebagai bentuk kemitraan yang lebih setara dan saling menguntungkan.
Narasi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan tentu saja. Meskipun dikemas sebagai kerja sama antarnegara Global South, relasi ekonomi yang terbentuk tetap menunjukkan ketimpangan dalam hal distribusi keuntungan, kontrol teknologi, dan posisi dalam rantai nilai global. Afrika Selatan masih berada pada posisi sebagai penyedia bahan mentah dan pasar bagi produk manufaktur Tiongkok, sementara akses terhadap penguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas industri domestik tetap terbatas. Dalam konteks ini, retorika solidaritas justru berisiko menutupi fakta bahwa hubungan yang terjalin tidak sepenuhnya simetris.
Konsep kerja sama Selatan-Selatan dalam praktiknya tidak otomatis menjamin kesetaraan. Tanpa strategi yang jelas untuk melindungi dan mengembangkan kepentingan domestik, Afrika Selatan berpotensi mengulangi pola ketergantungan lama dalam kemasan yang baru, di mana aktor yang terlibat berbeda, tetapi struktur relasinya tetap sama.
Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa keterlibatan Tiongkok telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan di Afrika Selatan. Investasi di sektor infrastruktur dan energi, misalnya, telah membantu mengisi kesenjangan pembiayaan yang selama ini menjadi kendala utama pembangunan. Di tengah keterbatasan fiskal domestik dan lambatnya realisasi proyek dari mitra tradisional Barat, kehadiran Tiongkok menawarkan alternatif yang relatif cepat dan pragmatis. Dalam jangka pendek, hal ini berkontribusi pada peningkatan konektivitas, kapasitas produksi, serta stabilitas ekonomi secara umum.
Hanya saja, pengakuan atas manfaat tersebut tidak serta-merta meniadakan risiko yang menyertainya. Justru di sinilah letak dilema utama yang dihadapi Afrika Selatan, bagaimana memanfaatkan peluang yang ditawarkan tanpa terjebak dalam ketergantungan jangka panjang. Tanpa kebijakan yang secara aktif mendorong transfer teknologi, penguatan industri lokal, serta diversifikasi ekonomi, keuntungan yang diperoleh berpotensi bersifat sementara. Dalam konteks ini, kerja sama yang tampak menguntungkan dalam jangka pendek dapat bertransformasi menjadi hambatan struktural bagi kemandirian ekonomi di masa depan.
Hubungan dengan Tiongkok tidak dapat dilihat secara hitam putih sebagai peluang atau ancaman semata. Ia merupakan kombinasi keduanya, yang hasil akhirnya sangat ditentukan oleh kemampuan Afrika Selatan dalam mengelola, menegosiasikan, dan membatasi ruang pengaruh eksternal terhadap kepentingan domestiknya.
Pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan yang didorong oleh intensifikasi hubungan dengan Tiongkok memang menawarkan harapan baru di tengah berbagai tantangan domestik yang kompleks. Namun, sebagaimana telah dijelaskan, pertumbuhan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika relasi ekonomi yang menyertainya. Ketika ekspansi perdagangan, investasi, dan pembangunan infrastruktur berlangsung dalam pola yang tidak sepenuhnya seimbang, maka risiko ketergantungan menjadi konsekuensi yang tidak dapat diabaikan.
Dalam jangka panjang, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar apakah kerja sama ini mampu mendorong pertumbuhan, tetapi apakah pertumbuhan tersebut benar-benar memperkuat kemandirian ekonomi Afrika Selatan. Tanpa upaya yang serius untuk mengubah struktur ekonomi domestik dan memperkuat kapasitas industri nasional, hubungan yang ada berpotensi mengunci Afrika Selatan dalam posisi yang terus bergantung pada kekuatan eksternal.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi Afrika Selatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar investasi yang masuk, tetapi oleh sejauh mana negara ini mampu mengendalikan arah dan manfaat dari kerja sama tersebut. Jika tidak dikelola secara kritis dan strategis, maka apa yang hari ini tampak sebagai peluang pembangunan dapat mudah berubah menjadi bentuk ketergantungan baru yang lebih dalam dan sulit dilepaskan.
