Konten dari Pengguna

Mahasiswa Undip Kenalkan Polikultur: Inovasi Budidaya Ikan di Desa Tambaksari

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hammam Burairah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kendal, 28 Juni 2025 – Hammam Burairah, seorang mahasiswa Akuakultur Universitas Diponegoro yang berpartisipasi dalam Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Tim 38 di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, aktif mensosialisasikan sistem budidaya polikultur. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkenalkan metode budidaya ikan yang lebih efisien dan berkelanjutan kepada masyarakat.

Kendal, 28 Juni 2025, Kegiatan Sosisalisai Program KKNT Mahasiswa Undip Sosialisasi Sistem Budidaya Polikultur untuk Efisiensi Lahan dan Peningkatan Produktivitas. Sumber : Dokumentasi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Kendal, 28 Juni 2025, Kegiatan Sosisalisai Program KKNT Mahasiswa Undip Sosialisasi Sistem Budidaya Polikultur untuk Efisiensi Lahan dan Peningkatan Produktivitas. Sumber : Dokumentasi Penulis

Pengenalan Sistem Polikultur

Polikultur adalah praktik memelihara dua jenis atau lebih organisme dalam wadah yang sama, dengan tujuan utama untuk efisiensi penggunaan lahan. Metode ini juga dapat diartikan sebagai proses pemeliharaan dua jenis komoditas atau lebih dalam satu wadah pada satu siklus pemeliharaan. Melalui polikultur, budidaya ikan dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan, meningkatkan produktivitas total kolam, dan mengurangi limbah. Selain itu, polikultur juga berkontribusi pada diversifikasi hasil panen, mengurangi risiko gagal panen, dan mendukung keseimbangan ekosistem.

Salah satu alasan utama penerapan polikultur ikan adalah untuk memanipulasi sistem budidaya agar tetap optimal, terutama dalam menghadapi tantangan tingginya harga pakan ikan. Dengan menggabungkan beberapa jenis ikan yang memiliki kebutuhan pakan berbeda atau saling melengkapi, biaya pakan dapat ditekan melalui efisiensi konsumsi antar spesies.

Contoh Studi: Polikultur Lele dan Nila dalam Sistem Bioflok

Sebagai bagian dari sosialisasi, Hammam Burairah menjelaskan hasil penelitian Sudirman et al. (2023), pada studi tersebut menunjukkan keberhasilan polikultur ikan lele (Clarias sp.) dan ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam sistem bioflok. Penelitian tersebut menemukan bahwa perlakuan dengan komposisi 150 ikan lele dan 20 ikan nila (Perlakuan C) menghasilkan nilai terbaik untuk Feed Conversion Ratio (FCR) sebesar 0.78, Average Daily Growth (ADG) sebesar 1.4 gr/hari, dan Survival Rate (SR) tertinggi sebesar 95.11%. Perlakuan ini secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan budidaya monokultur ikan lele (Perlakuan D). Ini berarti polikultur mampu meningkatkan efisiensi pakan, kualitas air, dan keberhasilan budidaya secara keseluruhan.

Dokumentasi bersama mitra pembudidaya Desa Tambaksari. Sumber : Dokumentasi Penulis

Tantangan Polikultur

Meskipun banyak keuntungan, polikultur juga memiliki tantangan. Hal ini meliputi manajemen yang lebih kompleks, perlunya pemeliharaan kualitas air yang cermat, potensi penyebaran penyakit antar spesies, perbedaan kebutuhan pakan, dan tuntutan pengetahuan teknis yang memadai untuk pemilihan spesies yang tepat.

Melalui kegiatan KKNT ini, Hammam Burairah berharap dapat memberikan pemahaman yang mendalam kepada masyarakat Desa Tambaksari mengenai potensi dan manfaat sistem polikultur untuk pengembangan budidaya ikan yang lebih produktif dan berkelanjutan.