Konten dari Pengguna

Ketika Jabat Tangan Kalah Cepat dari Stereotip Etnik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hamsyiatun Syafitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

desain animasi oleh Hamsyiatun Syafitri
zoom-in-whitePerbesar
desain animasi oleh Hamsyiatun Syafitri

Ada yang menarik setiap kali dua orang dari suku berbeda pertama kali bertemu di Sumatra Utara.

Sebelum nama diperkenalkan, sebelum jabatan disebutkan, sebelum topik pembicaraan dibuka ada satu hal yang sudah lebih dulu bekerja di kepala masing-masing. Sebuah penilaian cepat, otomatis, dan hampir tidak disadari.

"Oh, dia orang suku itu. Pasti begini, pasti begitu."

Itulah yang disebut stereotip etnik. Dan di Sumatra Utara, ia bekerja lebih diam-diam dari yang kita kira.

Sumatra Utara memang sering disebut sebagai "Miniatur Indonesia". Di sini, etnik Batak, Jawa, Melayu, Tionghoa, Nias, Minang, karo India dan suku lainnya bisa duduk di warung kopi yang sama, makan lauk yang sama, dan tertawa di lelucon yang sama.

Tapi harmoni yang terlihat di permukaan itu tidak selalu mencerminkan apa yang terjadi di dalam kepala kita.

Karena di balik kebersamaan yang hangat itu, ada katalog label yang sudah lama tersimpan dan belum pernah benar-benar kita buka ulang untuk diperiksa.

Orang Batak dianggap keras dan mudah marah. Orang Jawa dinilai tidak tegas dan penuh basa-basi. Orang Tionghoa diasosiasikan hanya peduli soal uang. Orang Melayu dianggap terlalu santai untuk bersaing.

Label-label ini sudah beredar jauh sebelum kita lahir. Kita mewarisinya dari obrolan keluarga, dari canda di meja makan, dari komentar yang terselip di percakapan sehari-hari. Dan tanpa kita sadari, label itu pelan-pelan membentuk cara kita membaca orang lain.

Akibatnya bisa terasa kecil, tapi dampaknya nyata. Seorang karyawan muda merasa terintimidasi hanya karena rekan bisnisnya berbicara dengan intonasi tinggi padahal itu memang cara bicara, bukan niat untuk menekan. Seorang atasan menyimpulkan bawahannya tidak percaya diri, padahal ia hanya berkomunikasi dengan gaya yang lebih hati-hati. Dua orang yang sebenarnya bisa bekerja sama dengan baik, gagal terhubung bukan karena perbedaan kemampuan, tapi karena prasangka yang lebih dulu datang sebelum percakapan sempat dimulai.

Yang lebih berat justru terjadi di ranah lebih privat yaitu hubungan antar-etnik.

Pasangan yang berbeda suku di Sumatra Utara sering kali tidak hanya berhadapan satu sama lain. Mereka berhadapan dengan seluruh kepercayaan keluarga besar yang sudah lama terbentuk.

Kalimat seperti "Jangan sama orang itu, nanti susah" atau "Kebiasaan mereka tidak cocok sama kita" bukan hal yang asing terdengar.

Tidak hanya itu banyak pasangan muda yang justru menghabiskan banyak energi untuk meyakinkan orang tua mereka daripada membangun hubungan itu sendiri. Mereka tidak bertengkar karena perbedaan nilai. namun kelelahan karena harus terus-menerus melawan asumsi yang bukan milik mereka.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Untuk Jawabannya tidak rumit, meski tidak mudah. Yang dibutuhkan bukan seminar besar tentang toleransi, bukan agenda budaya tahunan yang ramai di momen-momen tertentu lalu menghilang begitu saja.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mempertanyakan asumsi kita sendiri.

Setiap kali kita hendak menyimpulkan sesuatu tentang seseorang berdasarkan sukunya, ada baiknya kita berhenti sebentar dan bertanya

"apakah ini fakta yang pernah saya uji sendiri, atau hanya warisan cerita yang saya terima begitu saja?"

Karena seseorang yang egois, keras kepala, atau tidak bisa dipercaya itu soal karakter pribadi, bukan soal dari suku mana ia berasal.

Selain itu, stereotip hanya bertahan di ruang yang tertutup. Ia melemah ketika orang-orang dari latar belakang berbeda mulai benar-benar berinteraksi bukan hanya berdampingan, tapi benar-benar bertemu, bekerja sama, dan saling mengenal di luar label yang melekat pada diri mereka.

Keberagaman itu hanya akan menjadi kekuatan nyata jika kita berhenti membiarkan label suku berbicara lebih keras daripada nama orang yang ada di hadapan kita.

Sudah saatnya kita mengenal seseorang bukan dari sukunya, tapi dari siapa dirinya.

Karena ada jutaan cerita manusia yang menunggu untuk dikenal tanpa perlu diberi label lebih dulu.