Kisah di Balik Lapak Ikan Asin yang Bertahan di Pasar Pekauman, Banjarmasin

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Raihan Jamil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BANJARMASIN — Pasar Tradisional Pekauman di Jl. Rantauan Darat RT 20, Kelurahan Pekauman, Kecamatan Banjarmasin Selatan, sejak lama menjadi persinggahan warga untuk memenuhi kebutuhan dapur. Di antara hiruk-pikuk para pedagang, ada sosok Yunani yang setiap hari setia menjaga lapak ikan asin miliknya.
Yunani mulai berjualan di pasar tersebut sejak 2020. Meski tergolong baru dibanding pedagang lain, ia sebenarnya meneruskan usaha keluarganya yang sudah berjalan lebih dari dua dekade. “Kalau ikan asin ini memang dari dulu. Dari dulu istri yang mulai, lalu berjualan. Sudah sekitar 20 tahunan ada usaha ini,” ujarnya.
Sebelum fokus berdagang, Yunani sempat bekerja di bidang lain. Namun, ia kemudian memutuskan untuk membantu dan mengembangkan usaha yang telah lebih dulu dirintis istrinya. “Saya sendiri sudah sekitar lima tahun fokus jualan ikan asin saja,” katanya.
Lapaknya menyediakan berbagai jenis ikan asin yang banyak dicari warga, di antaranya ikan asin telang, tongkol, dan peda. Menurutnya, ketiga jenis ini menjadi pilihan utama pembeli terutama saat memasuki musim tertentu. “Paling ramai biasanya bulan puasa, itu benar-benar sibuk,” ucapnya.
Dalam keseharian, pembeli biasanya mulai berdatangan pada pagi hingga menjelang siang. Namun ada jam tertentu ketika kunjungan meningkat dengan cepat. “Biasanya yang mulai ramai antara jam 09.30 sampai jam 10.30. Sekitar dua jam itu paling ramai di Pasar Pekauman,” jelasnya.
Meski ritme pasar tidak selalu sama setiap harinya, Yunani merasa pasar memberikan ruang yang membuatnya terus bertahan. Ia berinteraksi dengan berbagai karakter pembeli, mendengar cerita mereka, dan secara perlahan membangun hubungan yang membuat pelanggan kembali ke lapaknya.
Kisah Yunani menggambarkan ketekunan pedagang di pasar tradisional yang menjaga usaha keluarga dari waktu ke waktu. Di tengah perubahan gaya belanja masyarakat, ia tetap mempertahankan tradisi berjualan ikan asin yang sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak warga Banjarmasin.
