Perkebunan di Kabupaten Halmahera Selatan melakukan Gerakan Aksi (GASAK)

Feed Quality Control
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari hana fitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kabupaten Halmahera Selatan memiliki luas wilayah 40.236,72 km² dan sebagian besar masyarakat bermata pencaharian di sektor pertanian dan perkebunan. Salah satu komoditas perkebunan adalah kelapa yang tersebar di 30 kecamatan. Umumnya, masyarakat secara turun-temurun menjadikan tanaman kelapa sebagai sumber penghasilan. Oleh sebab itu, upaya dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas terus dilakukan melalui pembinaan dan motivasi kepada masyarakat.

Berdasarkan data yang didapatkan dari masyarakat, setiap tahun produksi kelapa semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh serangan OPT. Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada komoditas kelapa diperburuk oleh terjadinya perubahan iklim (DPI).
Sesuai dengan kebijakan Perlindungan Perkebunan menurut Peraturan Pemerintah No. 06 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman dan Keputusan Menteri Pertanian No.887/Kpts/OT.210/9/97 tentang Pedoman Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Upaya gasak pengendalian dengan pola PHT, terutama sanitasi kebun kelapa, sangat diharapkan, dan upaya pengendalian dengan cara perbanyakan Agens Hayati diharapkan dapat menekan laju perkembangan populasi hama Sexava sp.
Pengendalian juga dapat dilakukan dengan penggunaan pestisida kimia, yakni infus akar atau injeksi batang pohon kelapa. Pengendalian secara kimia ini hanya dilakukan jika perkembangan populasi OPT sulit dikendalikan dengan teknik-teknik lainnya atau berkembang sangat cepat sehingga jauh melampaui ambang rasa/kendali. Perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida, yaitu memilih jenis formulasi pestisida terdaftar dengan spektrum sempit, tidak persisten (residunya singkat), yang bersahabat terhadap lingkungan, seperti tidak membahayakan musuh alami.
Hama Sexava sp. atau biasa disebut Belalang dibedakan menjadi 3 (tiga) macam yaitu:
● Sexava sp. Nubile stal betina berukuran sekitar 12 cm, berwarna hijau, dapat bertelur sekitar 50 butir yang tersebar di sekitar pohon kelapa. Telur berbentuk seperti "gabah padi" dengan panjang sekitar 12 mm, dengan stadium telur sekitar 50 hari.
● Sexava coreacea L., bentuk dan ukuran hampir sama dengan Sexava sp. Nubile stal dan kuat menyerupai pedang, maka sering disebut "belalang pedang". Stadium telur sekitar 50 hari.
● Sexava Kurnyi, berukuran lebih kecil dibandingkan kedua jenis lainnya, yaitu sekitar 7 cm, sering disebut "warang kerik". Pada kenyataannya, hanya ada dua jenis, yaitu Sexava sp. Nubile stal dan Sexava coreacea L., yang lebih banyak dijumpai menyerang tanaman kelapa. Sexava sp. menyerang daun kelapa yang perkembangannya sudah sempurna atau tua, namun dalam keadaan terpaksa mau menyerang daun muda, kulit buah dan bunga.
Nympha yang baru menetas segera mencari pohon kelapa lalu memanjat ke atas dan memakan daun hingga dewasa. Kemampuan terbang tidak begitu jauh; aktif pada malam hari, sedangkan siang hari berdiam diri, berlindung di tempat teduh, terutama di bawah daun-daun. Biasanya serangan hebat terjadi pada musim kemarau, baik oleh Sexava sp. dewasa maupun nimfanya.
Penanganan OPT masih belum optimal karena peran, kesadaran, dan kemampuan masyarakat masih relatif rendah. Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian, diperlukan bantuan Gerakan Aksi (Gasak) pengendalian dan pemberdayaan petani oleh pemerintah untuk mendorong peran serta dan kesadaran masyarakat dalam mengendalikan OPT.
Pada tahun anggaran 2021 dilakukan kegiatan Gerakan Aksi (Gasak) pengendalian OPT pada tanaman perkebunan di pusat-pusat serangan atau areal yang memiliki potensi untuk menjadi sumber serangan pada kawasan pengembangan komoditas perkebunan.
Gasak Pengendalian Sexava sp. diharapkan dilakukan oleh petani di kebunnya sendiri dengan cara sanitasi kebun dan apabila terjadi serangan yang cukup luas maka dilakukan pengendalian secara kimiawi atau biologis dengan teknik dan metode yang diharapkan berdasarkan prinsip PHT yaitu:
Budidaya tanaman sehat
Melestarikan dan memanfaatkan musuh alami
Pengamatan secara rutin
Petani menjadi ahli dikebun sendiri
Tujuan inovasi ini adalah untuk mengendalikan populasi serangan dan penyebaran Sexava sp. pada tanaman kelapa. Sasarannya adalah terkendalinya serangan Sexava sp. di Kecamatan Mandioli Utara, Kecamatan Mandioli Selatan dan Kecamatan Obi Selatan.
Kelompok sasaran:
Petani yang mempunyai areal kebun kelapa terserang Sexava sp. dengan tingkat serangan yang masih dapat dipulihkan minimal 1 (satu) ha atau luas pengendalian minimal 10 ha dalam satu kelompok.
Calon petani peserta pengendalian tergabung dalam kelompok tani yang aktif dan terdaftar di badan koordinasi penyuluhan. Pelaksanaan kegiatan pengendalian Sexava sp. harus dilaksanakan secara masal dan serentak oleh petani, bertujuan agar penyebaran serangan Sexava sp. dapat ditekan pada areal pertanaman.
Selain itu, Sexava sp. tidak dengan mudah berpindah tempat untuk melakukan serangan, dan dengan sendirinya populasi akan berkurang serta intensitas serangan juga dapat terkendalikan. Dalam menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan dapat berjalan secara masal dan serentak di harapkan beberapa hal sebagai berikut:
Calon lokasi merupakan satu hamparan yang relatif kompak atau saling berdekatan dengan kondisi tanaman yang terserang OPT yang masih dapat dipulihkan.
Sesegera mungkin membentuk tim pelaksana kegiatan, yakni petugas dinas dan petugas lapangan, setelah menerima petunjuk pelaksanaan paling lambat bulan Februari 2021.
Petani yang mempunyai motivasi dan kemauan untuk mengendalikan Sexava sp. pada kebunnya.
Penetapan CPCL dilakukan dengan memperhatikan usulan dari proposal kelompok tani.
Pengendalian secara kimiawi diharapkan berdasarkan jadwal pelaksanaan, yaitu bulan Juni 2021.
Pelaksanaan pengendalian hama Sexava sp. di Kecamatan Mandioli Utara, Kecamatan Mandioli Selatan dan Kecamatan Obi Selatan menggunakan pola pengendalian hama secara kimiawi. Pengendalian dilakukan secara serentak dan massal dengan sanitasi kebun serta penggunaan obat kimiawi (spontan).
