Mengenal Trauma dan Cara Menanganinya

Mahasiswi Prodi Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari Hana Mawaddah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kejadian yang menyedihkan di masa lalu seringkali meninggalkan bekas luka di hati. Dalam beberapa kondisi, kejadian tersebut sulit untuk dilupakan bahkan disembuhkan. Kejadian menyakitkan tersebut juga menimbulkan trauma pada beberapa orang karena tidak ingin hal yang sama terulang untuk kedua kali. Dengan masih terbayang perasaan bersalah, kebencian, kemarahan, atau takut ditinggalkan di masa lalu sering membuat seseorang terjebak dalam kondisi yang konstan. Hal ini tentu akan berdampak buruk pada kemajuan individu tersebut.
Trauma umumnya disebabkan oleh kejadian-kejadian yang traumatis seperti tindakan kekerasan fisik, pelecehan atau kekerasan seksual, peristiwa meninggalnya orang tersayang, kecelakaan, dan lain sebagainya.
Apa saja gejala-gejala dari seseorang yang mengalami trauma?
Bagi seseorang yang mengalami gangguan trauma umumnya akan merasakan gejala-gejala emosional atau psikologis dan gejala-gejala fisik.
Gejala-gejala emosional atau psikologis :
Perasaan syok dan tidak percaya
Kebingungan, sulit fokus dan berkonsentrasi
Mudah marah, mood swing (perubahan suasana hati)
Kecemasan dan ketakutan
Rasa bersalah, malu, atau menyalahkan diri sendiri
Mengasingkan diri dari orang lain
Merasa sedih, putus asa, dan mati rasa
Gejala-gejala fisik :
Insomnia atau mimpi buruk
Mudah lelah
Mudah terkejut
Sulit berkonsentrasi
Detak jantung yang terlalu cepat
Kegelisahan
Merasakan sakit dan nyeri di tubuh
Ketegangan otot
Biasanya, gejala-gejala ini akan membaik dan sembuh seiring waktu berlalu. Namun, bagi sebagian orang akan berkemungkinan mengalami gangguan stres akut berupa gejala-gejala ekstrem yang mengganggu kehidupan sehari-hari, sekolah, atau pekerjaan. Beberapa orang juga mungkin mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau dikenal dengan 'gangguan stres pasca trauma' dengan gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan berlangsung selama kurang lebih sebulan setelah kejadian yang memicu trauma.
Apa itu 'childhood trauma'?
Banyak orang yang sudah beranjak remaja atau dewasa masih berurusan dengan trauma masa lalu atau dalam ilmu psikologi, lumrah dikenal dengan 'childhood trauma' yaitu momen ketika kejadian buruk di masa kecil masih membekas dan seringkali muncul mengganggu proses aktivitas harian. Untuk bisa sembuh dari luka trauma bukan merupakan hal yang mudah, namun sebagai manusia kita berusaha mencari jalan keluar dan upaya untuk memperkecil dampak dari trauma yang mengganggu kita.
Penyebab dari 'childhood trauma':
Lingkungan yang tidak stabil atau tidak aman, misalnya sering terjadi pertikaian antara kedua orang tua di rumah, tempat anak tersebut tumbuh dan berkembang
Perpisahan dari orang tua karena bercerai atau meninggal
Penyakit serius
Pelecehan seksual, fisik atau verbal
Kekerasan dalam rumah tangga
Hidup yang terlantar
Ketika seorang anak mengalami trauma di masa kecilnya, hal ini akan berdampak parah dan umumnya bertahan hingga anak itu beranjak dewasa.
Bagaimana cara mengatasi stres traumatis?
Para psikolog dan peneliti telah menemukan beberapa upaya efektif yang membantu untuk mengatasi stres traumatis ini diantaranya :
Bertemu dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kamu sayang. Kamu dapat meminta bantuan dan dukungan dari sahabat, keluarga, pasangan, atau orang yang kamu percaya untuk menceritakan perasaanmu. Jika kamu sudah merasa siap, kamu bisa menceritakan kejadian traumatis yang menimpamu kepada mereka.
Jangan terus-menerus memendam dan menyembunyikan perasaanmu. Menghindari perasaan dan pikiran yang mengingatkanmu pada kejadian traumatis adalah hal yang wajar, namun terus-menerus berada di rumah, tidur sepanjang waktu, menutup diri dari orang-orang yang kamu sayang bukan cara yang tepat untuk mengatasi stres traumatis ini. Hal tersebut malah berpotensi memperpanjang stres dan membuatnya tidak kunjung sembuh. Secara bertahap, mulai untuk kembali ke rutinitas biasa. Dukungan dari orang tersayang atau para ahli kesehatan mental akan membantumu untuk kembali pulih.
Mengutamakan perawatan diri dengan mengupayakan makan makanan yang bergizi, melakukan aktivitas fisik yang rutin, dan tidur yang cukup. Selain itu, kamu bisa mencoba untuk mencari aktivitas-aktivitas lain sebagai bentuk dari coping mechanism (aktivitas yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi stres) seperti bermain musik, meditasi, seni, memasak, menghabiskan banyak waktu di alam, dan lain sebagainya.
Tetap bersabar dengan mengingat bahwa stres traumatis adalah hal yang wajar dialami setiap manusia. Terus bersabar dengan berikhtiar melakukan berbagai upaya untuk kebaikan dirimu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan berangsur pulih.
Kapan harus mencari bantuan psikolog?
Ketika kamu mengalami gejala-gejala seperti :
Mengalami gangguan dalam berkonsentrasi dan melakukan pekerjaan, baik di rumah atau tempat kerja
Mengalami ketakutan, kecemasan, atau depresi yang parah
Tidak mampu bersosialisasi atau membangun hubungan yang dekat dengan orang lain
Mengalami mimpi buruk atau terbayang kenangan buruk secara terus-menerus
Menghindari banyak hal yang mengingatkanmu pada trauma
Mengalami mati rasa secara emosional dan keterasingan dari orang lain
Memakai alkohol atau obat-obatan terlarang untuk merasa lebih baik
Jika kamu mengalami gejala-gejala seperti diatas, sebaiknya segera mencari bantuan psikolog. Diharapkan setelah kamu mendiskusikan masalahmu dan menjalani rangkaian terapi, perlahan-lahan gangguan trauma akan pulih.
Referensi :
Robinson, L., Smith, M., & Segal, J. (2022, November 2). Emotional and Psychological Trauma. HelpGuide. https://www.helpguide.org/articles/ptsd-trauma/coping-with-emotional-and-psychological-trauma.htm#
Youn, S. J. & Halfond, R. (2019, October 30). How to cope with traumatic stress. American Psychological Association. https://www.apa.org/topics/trauma/stress
