Psilocybin Obat Depresi dari Jamur Ajaib: Bagaimana Cara Kerjanya di Otak?

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hana Nurfadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Psilocybin obat depresi kalimat ini mungkin terdengar seperti kontradiksi. Bagaimana bisa senyawa dari jamur yang selama puluhan tahun dikategorikan sebagai zat terlarang kini sedang diuji sebagai terapi psikiatri di rumah sakit-rumah sakit terkemuka dunia? Ternyata, di balik stigma itu tersimpan neurosains yang sangat menarik dan data klinis yang semakin sulit untuk diabaikan.
Pada Maret 2024, FDA Amerika Serikat memberikan status Breakthrough Therapy Designation kepada CYB003, analog psilocybin buatan Cybin Inc., untuk pengobatan depresi berat. Ini bukan kali pertama FDA memberikan status tersebut pada senyawa psikedelik tetapi kali ini datang disertai data fase 2 yang mengejutkan 75% pasien masuk kondisi remisi dari depresi berat setelah hanya dua dosis. Angka yang tidak pernah dicapai oleh antidepresan konvensional mana pun.
Mengapa Depresi Berat Membutuhkan Pendekatan Baru?
Antidepresan konvensional khususnya golongan SSRI seperti fluoksetin dan sertralin bekerja dengan meningkatkan kadar serotonin di celah sinaptik otak secara berkelanjutan. Ia harus diminum setiap hari, efeknya baru terasa dalam 2–6 minggu, dan antara 10–30% pasien depresi berat tidak merespons dua atau lebih jenis antidepresan yang dicoba. Kelompok ini disebut mengalami Treatment-Resistant Depression (TRD) depresi resistan terapi dan inilah pasien yang paling desperately membutuhkan alternatif.
Menurut kajian yang dipublikasikan dalam British Journal of Psychiatry (2024) dari King's College London, psilocybin dalam uji klinis fase 2 internasional pertama menunjukkan tanda-tanda efikasi pada dosis 25 mg untuk pasien TRD dengan efek yang bertahan selama beberapa minggu setelah hanya satu atau dua sesi pemberian. Ini adalah profil kerja yang sama sekali berbeda dari antidepresan konvensional.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak Saat Psilocybin Bekerja?
Ketika psilocybin masuk ke tubuh, ia dengan cepat diubah oleh enzim hati menjadi psilocin bentuk aktifnya. Psilocin bekerja terutama sebagai agonis kuat pada reseptor serotonin 5-HT2A yang tersebar luas di korteks serebral. Inilah yang membedakannya secara mendasar dari SSRI psilocin tidak meningkatkan kadar serotonin, melainkan langsung mengaktifkan reseptor serotonin dengan cara yang jauh lebih langsung dan intensif.
Dampaknya pada jaringan otak adalah sesuatu yang para neurosaintis menyebutnya sebagai "entropi otak yang meningkat" pola konektivitas antar area otak yang biasanya sangat terstruktur dan kaku menjadi lebih fluid dan fleksibel untuk sementara waktu. Pada pasien depresi, otak cenderung terjebak dalam pola pikir negatif yang sangat kaku dan berulang rumination. Psilocybin secara sementara mengganggu pola ini, membuka jendela plastisitas neural yang memungkinkan terapi psikologis bekerja lebih dalam dan lebih efektif.
Psilocybin Juga Merangsang Pertumbuhan Sel Saraf Baru
Salah satu temuan yang paling mengejutkan dalam penelitian psilocybin obat depresi adalah dampaknya terhadap neuroplastisitas. Studi praklinis menunjukkan bahwa psilocybin meningkatkan pertumbuhan dendrit cabang-cabang penghubung antar sel saraf dan merangsang proses yang disebut neurogenesis di hippokampus. Hippokampus adalah area otak yang berperan dalam pembentukan memori dan regulasi emosi, dan ia diketahui mengalami penyusutan pada pasien depresi kronis.
Mekanisme ini menjelaskan mengapa efek psilocybin bisa bertahan jauh melampaui durasi pengalamannya yang hanya 4–6 jam. Otak secara harfiah membangun koneksi baru dan koneksi-koneksi baru inilah yang menjadi fondasi biologis dari pemulihan yang berkelanjutan.
Status Regulasi Global dan Tantangan yang Tersisa
Per 2025, psilocybin belum mendapat persetujuan penuh sebagai obat di negara manapun untuk indikasi depresi meski sudah ada status Breakthrough Therapy dari FDA untuk beberapa pengembang. Australia menjadi negara pertama yang mengizinkan penggunaan terbatas psilocybin di bawah pengawasan psikiater sejak Juli 2023. Uji klinis fase 3 berskala besar sedang berlangsung di berbagai negara, dengan estimasi penyelesaian antara 2026 hingga 2028.
Di Indonesia, psilocybin masih dikategorikan sebagai narkotika golongan I tidak memiliki penggunaan medis yang diakui. Namun perkembangan global yang sangat pesat ini membuka diskusi tentang perlunya regulasi yang lebih adaptif terhadap bukti ilmiah yang terus berkembang, terutama untuk kondisi seperti depresi resistan terapi yang saat ini belum memiliki solusi yang memadai.
